Mabuk Cinta di Cafe Rumi

Banyak juga orang yang ‘tertipu’ datang ke kafe ini karena mengira Cafe Rumi menjual makanan seperti kafe lainnya.

Moccachino Late, Espresso,Cappucino, Chocolate Ice Blended dan sederet nama minuman lain yang akrab dengan tongkrongan ala kafe pasti sudah tak asing lagi bagi kebanyakan warga Jakarta yang metropolis. Tapi ketika mengunjungi Cafe Rumi di bilangan Jakarta Selatan, tepatnya di Jl. Iskandarsyah Raya kav 12-14, pupuslah harapan saya untuk mencicipi minuman-minuman itu sambil bermain facebook di patio yang nyaman.

Cafe Rumi, bagi kebanyakan orang mungkin yang terbayang adalah sebuah kafe konvensional dengan interior yang nyaman, lantunan musik lembut Lee Rittenour, patio, menu khas yang menjadi favorit dan membuat betah pelanggan hingga berjam-jam nongkrong di dalamnya. Namun ketika saya mengunjungi kafe ini, kesan pertama adalah seperti mengunjungi sebuah ruko yang layaknya kantor biasa dari luar. Masuk ke dalam, terdapat sebuah ruangan tanpa sofa tempat pertemuan, zikir, meditasi atau sekedar diskusi. Sama sekali tak ditemui tanda-tanda sebuah bistro. Sederet buku bertemakan Sufisme menyambut saya di meja depan.

Muchsin, pengelola tempat yang sudah berdiri dari tahun 2007 ini menegaskan bahwa Cafe Rumi menyajikan santapan rohani, bukan jasmani. Menurutnya, jasad manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Jika jasmani membutuhkan asupan makan, begitupun dengan rohani. Makanan jasmani memang bisa didapat dari rumah makan, namun makanan rohani? Inilah yang coba dihidangkan oleh Cafe Rumi.

Berada di tengah daerah urban seperti metropolitan Jakarta, Muchsin merasa lebih nyaman menjalankan tujuan dakwahnya. Berbeda dengan menyampaikan dakwah di mesjid, Cafe Rumi adalah wadah dakwah Islam beraliran Sufi yang menargetkan dakwahnya bagi kaum urban yang mencari kedamaian dan keindahan Islam.

Tak cuma digandrungi oleh para ulama, Sufi kini justru banyak diterapkan oleh para pengusaha, termasuk para pendiri Cafe Rumi yang menurut Muchsin justru diprakarsai oleh para pengusaha papan atas di Jakarta. Bahkan istilah Sufi Management kini mulai tenar di Negeri Paman Sam.

Jalaludin Rumi adalah nama yang langsung terbesit di benak saya saat mendengar kata Sufi. Tokoh spiritual Islam yang terkenal dengan ajaran Sufi-nya itu memang sudah lama tiada. Namun gaung ajarannya melalui puisi-puisi cinta dan komunitas-komunitas Sufistik masih bergema hingga sekarang. Tak hanya di negara dengan penduduk Muslim, tapi juga di negara-negara Barat.

Jalaludin Rumi (1207 – 1273) adalah tokoh besar dalam aliran Sufi. Karya-karya Rumi dalam bentuk puisi bahkan menjadi bacaan paling laris di Amerika setelah kejadian WTC yang menewaskan ribuan orang. Di saat warga Barat mengusung bendera antipati terhadap Islam, karya-karya Rumi berupa puisi-puisi cinta ala Sufi justru diterima dengan sangat baik di tempat yang sama. Tak tanggung-tanggung, UNESCO (salah satu badan PBB) bahkan pernah mencanangkan tahun 2007 sebagai “Tahun Rumi”.

Lalu apa sebetulnya kehebatan ajaran Sufi? Memandang Islam dengan kacamata Sufi sebetulnya tak begitu berbeda dengan ajaran Islam pada umumnya. Orang juga mengenal Sufisme dengan Tasawuf yang bertujuan untuk menjauhkan hal-hal yang bersifat material. Diperkirakan Sufisme mulai berkembang di abad ke 8 Masehi di Timur Tengah. Kata ‘Sufi’ sendiri diperkirakan berasal dari kata safa yang berarti kemurnian. Titik berat ajaran yang bertumpu pada cinta kasih terhadap sesama dan Tuhan ini ternyata kian diminati di banyak tempat.

Cinta yang universal, tak mengenal batasan agama, suku dan ras menjadi sesuatu yang diidam-idamkan banyak orang yang mulai muak dengan dunia yang kian berkonflik. Tokoh-tokoh Sufi-pun bermunculan di hampir seluruh penjuru dunia, tak cuma di jazirah Arab. Kini, gerakan Sufi yang sudah mendunia mulai dikenal berbagai kalangan, termasuk juga non Muslim. Sufi mengedepankan olah spiritual, menjembatani antara kehidupan duniawi dan kekosongan rohani, lebih mengutamakan cinta kasih terhadap sesama sehingga lebih mudah diterima oleh banyak kalangan. Dan Sufi sendiri sebetulnya sudah hadir saat Islam pertama kali diturunkan.

“Bahkan Rasulullah sendiri adalah seorang Sufi,” jelas Muchsin.

Secara hirarkis, komunitas penganut Sufi biasanya memiliki seorang ‘guru’ yang dikenal dengan sebutan mursyid. Berbeda dengan guru agama yang mempelajari agama melalui buku, dalam Sufi, seorang mursyid memiliki hubungan yang jelas dengan Rasulullah dan tidak hanya mempelajari Islam dari buku. Mursyid tidak dipilih melalui sistem pemilihan organisasi, tapi ditunjuk langsung oleh guru sebelumnya. Jadi tidak sembarangan orang berhak menjadi mursyid. Sejatinya, seorang mursyid haruslah orang yang tidak lagi mementingkan dan mengejar nafsu duniawi.

Sufisme juga memiliki banyak kelompok yang dikenal dengan nama tarekat. Setiap tarekat yang dikepalai oleh seorang mursyid juga bisa memiliki sub-tarekat lagi. Pada dasarnya kelompok-kelompok ini tidak berbeda satu sama lain, hanya saja lokasinya yang berbeda. Lukisan wajah mursyid Syaikh Hisyam Kabbani Rabbani yang terpampang di Cafe Rumi menandakan bahwa komunitas ini adalah bagian dari tarekat Naqsbandhi Haqqani Rabbani.

Sufi juga menegaskan bahwa cinta adalah dasar dari pendekatan diri pada Allah. Tak seperti institusi lain yang sering mengumbar ganjaran api neraka, Cafe Rumi dengan ajaran Sufi-nya justru menekankan keindahan Islam melalui cinta. Tingginya tingkat hedonisme warga Jakarta tentu akan membuat warganya ngeri saat mendengar frase ‘neraka’. Untuk merangkul mereka, justru frase ‘cinta’-lah yang dijadikan senjata. Cafe Rumi tak pernah memaksa jemaahnya untuk harus rutin datang ke acara zikir dan pengajian. Mereka umumnya datang dan pergi secara bebas dan suka rela.

Karena tidak berdakwah di Mesjid, Cafe Rumi pernah dianggap sesat

“Orang Jakarta ini sudah sibuk dan stres, kalau ditunjukin neraka mereka akan kabur,” Muchsin tertawa.

Nama Cafe Rumi sendiri juga diakui Muchsin sebagai strategi dakwah yang ‘menjebak’ orang (Menjebak dalam hal positif tentunya). Istilah ‘Cafe’ yang di Jakarta ini sudah identik dengan hedonisme, dipakai untuk merangkul warga. Kata Rumi diambil dari nama besar Jalalludin Rumi sang spiritualis Sufi. Banyak juga orang yang ‘tertipu’ datang ke kafe ini karena mengira Cafe Rumi menjual makanan seperti kafe lainnya. Tapi setelah mencoba ‘hidangan’ rohani ala Cafe Rumi, banyak juga yang jadi ketagihan.

Karena strategi uniknya inilah maka Cafe Rumi sering didatangi pelanggan tetapnya yang sebagian besar adalah orang kantoran. Beberapa diantaranya bahkan sering menginap di kafe dan menjadikannya sebagai rumah kedua mereka.

Muchsin sengaja tak mau berdakwah melalui mesjid. Baginya, justru di luar mesjidlah terdapat banyak orang yang belum tersentuh hatinya.  Tapi yang namanya kendala selalu saja ditemui. Keberadaan Cafe Rumi yang dekat dengan kaum urban Jakarta memang tak semulus kelihatannya. Muchsin mengakui keberadaannya dan cara berdakwah yang dianggap nyeleneh ini pernah ditentang oleh sebagian orang. Karena tidak berdakwah di Mesjid, Cafe Rumi pernah dianggap sesat.

Muchsin tak menyalahkan anggapan seperti itu karena menurutnya Islam saat ini sudah dipandang dengan paradigma yang salah. Ibaratnya, merangkul cinta Illahi tak hanya dari balik dinding majelis taqlim atau mesjid. Cinta Illahi ada di mana-mana dan tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Islam juga seringkali diidentikan dengan kekerasan. Bahkan jihad-pun sudah disalah artikan. Bukannya memahami jihad dengan mengangkat senjata, Muchsin lebih memilih untuk anjuran jihad dengan belajar menuntut ilmu setinggi-tingginya. Jihad untuk lepas dari kemiskinan dan ketertinggalan dari negara lain. Bahkan menurut Muchsin, Rasulullah sendiri diriwayatkan tak pernah menebaskan pedang pada musuhnya. Pedang hanya digunakan Rasulullah untuk menangkis serangan lawan.

Dengan tekad mengenalkan Islam yang penuh keindahan itulah maka Muchsin menyebarkan dakwahnya melalui Cafe Rumi. Jangan heran dengan peserta yang datang ke tempat ini untuk berzikir. Sebagian dari mereka adalah kaum muda dengan pakaian casual gaya anak mall. Ada juga yang ber-tatto dan ada juga yang bergaya staff kantoran.

“Siapa saja boleh datang ke sini,” jelas Muchsin lagi.

Menekankan ajaran Islam pada cinta kasih, beberapa tokoh non Muslim pun tak jarang berkunjung ke kafe ini. Selain untuk berdiskusi, kebanyakan dari mereka mengadakan penelitian keagamaan dan spiritual. Beberapa tokoh intelektual dari Jepang, Amerika dan Australia tercatat pernah berkunjung ke Cafe Rumi.

Para penggemar grup musik Dewa 19 juga mungkin masih ingat dengan video klip Laskar Cinta yang menampilkan adegan tarian whirling (tarian khas Sufi yang berputar-putar). Tak heran, karena pentolan grup musik ini, Ahmad Dhani adalah salah satu penikmat hidangan rohani Cafe Rumi dan getol mempelajari Sufisme. Sederet nama tenar lain seperti Ustad Jefri (Uje) dan Puput Melati juga tercatat sebagai salah satu seleb yang pernah menyambangi Cafe Rumi.

Cafe Rumi juga menyediakan ruangan khusus untuk mengekspresikan rasa seni. Kegiatan rutin diadakan setiap hari Senin malam selepas sholat Isya, dilanjutkan dengan zikir bersama, meditasi, hadroh (ekspresi gerak sambil ber-shalwat) dan tarian whirling (tarian khas Sufi).

Kegiatan inilah yang menjembatani antara kebiasaan orang yang dianggap Muchsin sering dugem di diskotik dengan kebutuhan rohani mereka. Di Cafe Rumi, mereka juga bisa ber-jingkrak layaknya di diskotik, memainkan musik atau menari whirling. Hanya saja musik pengiringnya berbeda dengan diskotik. Di Cafe Rumi, musiknya adalah shalawat Nabi yang diiringi dengan hentakan rebana.

Muchsin percaya bahwa ketika seseorang mencintai Allah, maka saat nama Allah didengungkan, orang pun butuh ekspresi untuk menunjukkan cintanya. Tari dan gerakan tubuh adalah salah satu bentuk ekspresi cinta pada Allah. Karena generasi muda sekarang menyukai seni, maka tak sulit bagi Cafe Rumi untuk mengumpulkan mereka.

Selain kesenian musik dan tari, Cafe Rumi juga menghadirkan latihan silat tuwo. Sebuah seni bela diri kuno yang berasal dari Minangkabau. Uniknya, seni bela diri ini diajarkan oleh seorang warga Amerika Serikat yang kini menjadi mualaf. Melalui cara-cara seperti inilah Cafe Rumi mengajak kaum urban untuk mengenal kearifan Islam.

Anak-anak jalanan juga tak bisa didekati dengan pengajian dan label Islam yang kental. Pendekatan Cafe Rumi melalui bidang seni ternyata bisa lebih diterima di antara mereka. Jangan heran ketika melihat salah satu ruangan di kafe ini yang penuh dengan seperangkat alat musik seperti gendang, rebana dan setumpuk kolintang. Ditambah dengan speaker, laptop dan seperangkat video camera. Lebih mirip studio rekaman daripada ruang untuk zikir.

Menurut Muchsin, Cafe Rumi juga memiliki fasilitas live streaming untuk setiap acara zikir bersama. Menyadari kesibukan warga Jakarta yang begitu tinggi, acara zikir juga dapat dinikmati secara langsung dengan mengakses website Cafe Rumi (www.caferumijakarta.com).

“Kehadiran Allah harus disambut dengan suka cita,” papar Muchsin.

Sofyan, salah satu ‘pelanggan’ Cafe Rumi malam itu sempat memamerkan kebolehannya menari whirling. Bergabung dengan Cafe Rumi dari tahun 2007, Sofyan mengaku sudah ingin menarikan whirling dari tahun 2004. Namun rupanya Allah baru melapangkan keinginannya pada tahun 2007 di Cafe Rumi. Tak perlu memakan banyak latihan, Sofyan juga mengaku langsung bisa menarikan tarian ciptaan Rumi tersebut. Ia bahkan sama sekali tak merasakan pusing atau mual saat berputar-putar.

Jalaludin Rumi adalah orang yang pertama kali mengusung tarian ini sebagai ikon Sufisme. Konon suatu pagi beliau mendengar suara ketukan besi dari seorang pandai besi yang kemudian membuatnya menari-nari sambil mengucapkan syair-syair cinta pada Allah secara tak sadar. Satu lagi bukti bahwa manusia memang butuh wadah untuk mengekspresikan cintanya pada Allah.

Meski secara fisik terlihat monoton, whirling yang dikenal juga dengan whirling dervishes, tari Sama atau tari Darwis ini sebetulnya sarat dengan filosfi. Konon tarian ini adalah media penarinya untuk mencapai tingkatan ekstase spiritual. Tarian yang hanya memiliki satu gerakan yaitu berputar ke kiri melawan arah jarum jam ini menyimbolkan gerakan tawaf. Bumi yang berputar juga ke arah kiri, begitu juga planet yang mengitari matahari dan gerakan elektron. Bahkan air yang diaduk ke kiri akan membentuk molekul yang berguna bagi kesehatan tubuh. Jadi, whirling tak sembarangan berputar!

Whirling adalah proses peleburan jiwa untuk menyatu dengan Tuhan. Sebuah fase di mana seseorang menanggalkan semua ego dan kehidupan duniawinya menuju ke sebuah kesempurnaan. Setelah selesai menarikan whirling, manusia diharapkan mampu mencapai kesadaran tertinggi dan menyentuh orang lain dengan cinta dari Allah.

“Perasaan (saat menari) itu sulit dilukiskan dengan kata-kata,” jelas Sofyan saat selesai menari.

Gerakan tangan kanan yang mengarah ke atas menandakan sikap manusia yang meminta rahmat dari Tuhan. Dan tangan kiri yang mengarah ke bawah mengartikan penyebaran ilmu. Maknanya adalah seorang Sufi yang telah menerima pencerahan dari Allah harus segera menyebarkannya. Sedikit mengingatkan tentang salah satu ajaran Islam yang mengatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain, tanpa memandang perbedaan keyakinan atau ras. Itulah Sufi!

 

Contact Cafe Rumi

Cafe Rumi Jakarta

Wisma Iskandarsyah Blok B4 (samping Mabua Harley Davidson)

Jl. Iskandarsyah Raya kav 12-14

021-72797568

www.caferumijakarta.com

Important Notes

Cafe Rumi bukanlah kafe konvensional yang menyediakan makanan dan minuman untuk bersantai, tapi lebih kepada ‘hidangan’ rohani. Cafe Rumi terbuka untuk siapa saja yang ingin datang. Kegiatan rutin seperti zikir, hadroh dan whirling diadakan setiap Senin malam selepas Isya. Keikutsertaan kegiatan-kegiatan di Cafe Rumi tidak dipungut biaya apapun.

6 responses to “Mabuk Cinta di Cafe Rumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s