Reyog yang Terseok

Mbah Misdi justru berterima kasih pada Malaysia

Sosoknya memang sudah tergolong sepuh, tapi penampakannya masih menyiratkan semangat anak muda. Mbah Misdi, yang sudah berusia 78 tahun adalah salah satu sesepuh seni Reyog Ponorogo yang membuat saya terkesima. Melihat sosoknya, saya yakin bahwa beliau belum menyentuh usia 70 tahun. Perawakannya masih segar bugar dan tegap, bicaranya jelas dan sering bercanda, wajahnya pun menyiratkan kebahagian dan dedikasinya sebagai seorang seniman.

Mbah Misdi Ndoweh, sesepuh seniman Reyog Ponorogo

Rumah Mbah Misdi yang terletak di Jalan Larasati, Surodikraman, Ponorogo terlihat sangat sederhana. Bagian depan rumah dipenuhi aksesoris seni reyog seperti kuda lumping, aneka topeng dan angklung yang dihias untuk mengiringi tari Reyog. Tarian Reyog sebetulnya merupakan satu rangkaian yang terdiri dari Jathilan (penari kuda kepang), Bujangganong, Kelana Sewandana, Warok dan Barongan.

Sebagai sesepuh seniman Reyog yang sudah 65 tahun malang melintang di dunia Reyog, Mbah Misdi Ndoweh yang akrab dipanggil Mbah Misdi ini hanya tertawa lebar saat ditanya mengenai “sengketa Reyog” dengan Malaysia beberapa tahun Silam.

“Itu bukti bahwa Reyog itu bisa hidup di mana saja,” jelasnya.

Mulai mempelajari seni Reyog sejak usia 15 tahun, Mbah Misdi mengaku tidak memiliki keturunan dari darah seniman. Perkenalannya dengan Reyog dimulai saat ia bergabung dengan sebuah organisasi pemuda yang mengajarinya kesenian Reyog untuk penyambutan tamu dan upacara kenaikan jabatan. Rasa cinta terhadap seni Reyog mengalir begitu saja dan membuatnya memutuskan untuk menjadi seorang pelaku seni Reyog. Mencari hikayat tentang asal-usul seni Reyog ternyata tak mudah.

“Bisa 3 hari untuk menceritakan sejarah Reyog,” jelas Mbah Misdi.

Situs wikipedia juga menjelaskan bahwa ada banyak versi yang menjelaskan tentang asal-usul seni Reyog ini. Yang pasti menurut Mbah Misdi reyog selalu identik dengan upacara kenaikan jabatan atau penyambutan tamu-tamu besar. Itu sebabnya Reyog berukuran sangat besar. Reyog juga bisa digunakan sebagai media hiburan dan pengumpul massa. Reyog juga sempat dibatasi oleh pemerintah Orde Baru karena dianggap berbau komunis (alat pengumpul massa PKI).

Sejarah resmi tentang asal usul Reyog adalah saat Kelana Sewandana, Raja Bantarangin yang didampingi patih Bujangganong dan pasukan warok (pria berbaju gelap yang memiliki ilmu hitam) bertarung dengan Raja Singabarong yang dikawal pasukan singa dan merak untuk mendapatkan cinta Dewi Sanggalangit dari Kediri. Dengan kesaktian ilmunya, Kelana Sewandana mengubah Singabarong menjadi sosok makhluk antara manusia, singa dan merak untuk dipersembahkan pada Dewi Sanggalangit. Tarian Reyog menggambarkan pertempuran antara dua tokoh tersebut.

Untuk dapat menarikan Reyog, Mbah Misdi membutuhkan banyak latihan fisik. Namun yang paling penting menurutnya adalah keyakinan. Zaman dulu biasanya sebelum mementaskan Reyog Mbah Misdi harus melakukan beberapa ritual seperti membakar sajen yang terdiri dari berbagai jenis kembang.

“Perempuan juga boleh nari Reyog asal niat dan yakin,” jelasnya dengan bahasa Jawa yang kental.

Tak ada juga batasan umur untuk memanggul reyog selebar 2,15 meter dan tinggi 2,25 meter ini. Berat beban yang bisa mencapai 30 kilogram itu hanya ditopang dengan gigi yang menjepit kayu pada bagian dalam wajah Reyog yang disebut Barongan. Dalam satu kali penampilan, biasanya tarian ini memboyong sekitar 50 seniman yang terdiri dari penari Jatil (kuda kepang), Warok, Reyog dan para musisi.

Aksesoris tari Reyog

Melihat perkembangan Reyog saat ini, Mbah Misdi justru berterima kasih pada Malaysia yang menurutnya telah mempromosikan seni Reyog ke dunia internasional tanpa memungut bayaran apapun dari seniman Reyog Ponorogo. Kondisi ini justru kontradiktif dengan sikap pemerintah daerah Ponorogo sendiri yang dianggap Mbah Misdi sering memojokkan dan tak peduli pada para seniman Reyog.

Namun begitu, Mbah Misdi menyayangkan penulisan kata “Malaysia” di atas kepala Barongan yang seharusnya ditulis “Ponorogo”. Kebudayaan Reyog sendiri berkembang di Johor, Malaysia dengan sebutan tari Barongan yang diadaptasi dari Reyog Ponorogo karena hijrahnya koloni dari Jawa ke Johor dahulu kala. Tulisan “Malaysia” di atas kepala Barongan dianggap melupakan asal-usul Reyog yang sejatinya berasal dari Ponorogo.

Mbah Misdi juga menyayangkan sikap pemerintah sekarang yang cenderung tak peduli dengan budaya Reyog sendiri. Menurutnya, dulu reyog hanya boleh tampil di Ponorogo, jika ada daerah lain yang menampilkan Reyog maka perlu ditindak dan dianggap mencemarkan budaya Reyog yang asli. Sekarang, siapapun bebas mementaskan reyog dengan caranya sendiri-sendiri tanpa belajar seni Reyog yang sebenarnya. Jadi boleh dibilang kini reyog dianggap seperti boneka mainan yang dapat dipentaskan kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun dengan cara apapun.

Dalam kehidupan politik bahkan Reyog sering dijadikan alat kekuatan politik kelompok tertentu. Reyog dengan warna tertentu diklaim sebagai Reyog milik parpol tertentu dan bukan milik rakyat Ponorogo.

“Ini Reyog-ku, itu Reyog-mu,” kata Mbah Misdi.

Cara pandang seperti ini membuat Reyog yang tadinya berfungsi sebagai media hiburan dan pemersatu warga kini berubah menjadi alat politik kelompok-kelompok tertentu dan cenderung memecah-belah.

Yang paling disayangkan Mbah Misdi adalah soal penulisan nama “Reyog” yang dirubah menjadi “Reog” demi melanggengkan semboyan Kabupaten Ponorogo. Penulisan yang sebetulnya adalah Reyog dan bukan Reog. Nama Reog yang kini digunakan disinyalir hanya untuk melancarkan singkatan dari Resik, Endah, Omber (penuh) dan Girang Gumirang. Jadi jangan bingung jika berkunjung ke Ponorogo akan melihat  tulisan reyog dengan versi “Y” dan tanpa “Y”.

Ejaan Reyog yang asli. Bukan “Reog”

Mbah Misdi yang kini juga membuka usaha pembuatan aksesoris Reyog juga sedih dengan tingkah para oknum penegak hukum yang dianggapnya sering merampas akses jual beli bulu merak. Hiasan yang dijadikan umbul-umbul di atas kepala barongan ini berharga Rp 5.000 per helainya dan untuk menjadikan 1 unit Reyog, diperlukan sekitar 1.600 helai bulu merak. Tak heran banyak pihak yang mengincar barang eksotik ini.

Kecintaan lelaki yang memiliki 2 buyut, 9 cucu dan 12 anak pada dunia reyog ini memang tak terbantahkan. Sewaktu muda dulu, Mbah Misdi sering melakukan tur keliling Jawa hingga ke Bali dan Jakarta hanya untuk mementaskan Reyog. Ia tak pernah merasa lelah sedikitpun. Bahkan ketika lama tidak mementaskan Reyog, seluruh giginya terasa gatal dan ingin menggigit sesuatu.

“Akhirnya saya menggigit kursi kayu milik mertua saya,” aku Mbah Misdi sambil tertawa.

Keberadaan Reyog memang tak pernah lepas dari sosok warok. Dalam pandangan filosofi, Warok adalah sosok yang dianggap sudah mengerti benar soal kehidupan baik secara lahir dan bathin dalam raganya sendiri. Itu juga yang akhirnya melahirkan nama Ponorogo. Dalam bahasa Jawa, pono berarti memahami dengan sungguh-sungguh kehidupan lahir bathin dan rogo adalah raga. Jadi dari memahami diri dengan sungguh-sungguh, diharapkan tak ada lagi kesombongan. Inilah inti ajaran Warok.

“Pemerintah cuma mau ngurusi festival tapi tak peduli dengan nasib seniman,” kata Mbah Pur

Mbah Pur yang lebih dikenal dengan nama MPWG (Mbah Pur Warok Gendeng) adalah salah satu tokoh Warok yang saya temui. Beliau adalah murid dari Almarhum Mbah Wo, sesepuh Warok Ponorogo. Jangan heran dengan segala sikap santainya saat berbicara. Mbah Pur yang berusia hampir 40 tahun ini senang bicara ceplas ceplos sambil bercanda.

Sebutan Warok Gendeng mulai disandangnya tahun 2006. Menurutnya seni reyog harus mengikuti zaman yang terus berubah. Di zaman yang serba “gila” inilah diperlukan sosok yang “gendeng” dalam arti harus berani melakukan kebenaran.

Berkunjung ke rumah Mbah Pur, saya melihat sebuah foto besar sosok warok lengkap dengan udheng (ikat kepala), jubah hitam, topeng dan 2 helai kolor(tali putih) yang menjuntai di depan perut. Dibawahnya tertulis besar-besar “MPWG: Mbah Pur Warok Gendeng”. 2 helai tali putih di depan perut menurut Mbah Pur melambangkan 2 ikatan kuat pada jiwa yaitu hukum agama dan hukum negara. Meski hanya seutas tambang, namun kolor ini dipercaya memiliki kekuatan magis yang bisa berfungsi juga sebagai senjata mematikan.

Menurut Mbah Pur, seorang warok akan lahir dengan sendirinya sesuai kodrat alam. Tak bisa dipilih atau diseleksi secara ilmiah oleh manusia. Penampilan warok memang cenderung menyeramkan. Pakaian serba hitam, kumis dan cambang melintang, bicara yang tegas dan nyaring serta menguasai berbagai ilmu kekebalan cukup membuat orang memandang negatif sosok ini. Namun warok justru dilarang keras memamerkan ilmu-ilmu magisnya pada masyarakat. Warok justru harus bisa jadi sosok pengayom yang bijaksana dan mengerti akan nilai-nilai luhur kehidupan.

Mulai mendirikan paguyuban reyog dengan nama Margojati Jolosutro di tahun 2008, Mbah Pur secara berani melakukan inovasi dalam pentas Reyog. Ia memadukan seni Reyog dan sirkus yang menghasilkan aksi Reyog mengendarai sepeda motor, becak dan onthel. Tidak ada pihak yang melarang inovasi ini karena menurutnya tidak ada yang salah dengan inovasinya selama struktur Reyog masih dipertahankan.

Sama seperti Mbah Misdi, Mbah Pur juga memiliki rasa kecewa yang berat pada perlakuan pemerintah khususnya Ponorogo sendiri. Kepedulian pemerintah dirasa sangat kurang dan cenderung mematikan sanggar-sanggar seni Reyog.

“Pemerintah cuma mau ngurusi festival tapi tak peduli dengan nasib seniman,” kata Mbah Pur

Mbah Pur Warok Gendeng, salah satu seniman Reyog Ponorogo

Dulu di setiap desa bisa ditemui 1 hingga 2 unit reyog. Sekarang satu kecamatan yang terdiri dari 18 desa hanya memiliki 4 unit Reyog saja. Pemerintah rasanya membiarkan hal ini dan terkesan tak peduli lagi untuk menghidupkan kembali reyog di masyarakat.

Saat ini para seniman Reyog jarang yang menjadikan seni reyog sebagai pekerjaan utama. Sebagian besar menjadikan kesenian ini hanya sebagai sampingan. Pagelaran Reyog yang diadakan tiap bulan purnama di Alun-Alun kota memang didukung pemerintah, namun untuk tampil di acara itu, para seniman tak dibayar dengan harga yang layak.

Bahkan gedung Padepokan Reyog yang ada di Dinas Pariwisata Ponorogo seharusnya bisa dijadikan sebagai ajang tempat latihan dan pengembangan para seniman justru disalah fungsikan. Para seniman Reyog mengeluhkan tingginya biaya sewa gedung yang harusnya menjadi milik rakyat itu.

“Hati kami ini pedih saat tampil di festival,” aku Mbah Pur.

Para pejabat boleh saja bertepuk tangan bangga melihat penampilan Mbah Pur dan paguyubannya saat festival. Namun di balik itu semua, kesejahteraan seniman sama sekali tak disentuh. Para seniman harus benar-benar mengandalkan modal sendiri untuk menghidupi sanggar. Tak ada naungan dewan kesenian daerah apalagi bantuan dana.

About these ads

3 responses to “Reyog yang Terseok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s