Cool Kurulu

Warga Kurulu

Kata teman, jika mengunjungi Papua serasa belum lengkap tanpa bertandang ke jantung pulau burung Cendrawasih, Wamena. Kota kecil berhawa sejuk yang terletak di tengah-tengah kepungan dinding abadi Jayawijaya ini perlahan mulai memikat wisatawan dengan pesona budayanya.

Salah satu lokasi wajib kunjung di ibukota Kabupaten Jayawijaya ini adalah Desa Kurulu. Letaknya tak jauh dari Wamena dan tampaknya untuk ke desa ini juga tak harus melalui jalan yang sulit. Di sini, katanya saya masih bisa melihat penduduk Papua yang masih menggunakan koteka dengan mengenakan pernak-pernik seperti kalung batu-batuan dan kerang serta aksesoris dari taring babi hutan.

Mengunjungi Desa Kurulu ternyata memiliki trik tersendiri. Saat tiba, guide, menyuruh saya untuk tidak mengeluarkan kamera. Ternyata kamera adalah barang yang cukup ‘sensitif’ di tempat ini. Pengunjung yang datang tak boleh sembarangan memotret karena bisa dikenakan tarif “dadakan” yang cukup tinggi. Entah sejak kapan desa tradisonal ini menjadi begitu komersil. Menurut pemandu, kebiasaan turis asing memberikan uang tips telah merubah pola hidup sebagian warga Wamena menjadi materialis. Ironis!

Tapi sebetulnya wajar saja jika hal ini terjadi. Toh rakyat Papua sendiri jarang bisa menikmati hasil dari industri pariwisata lokal mereka. Daripada hanya mengalir ke institusi tertentu, lebih baik menyumbang langsung buat warganya.

Dari luar, desa Kurulu tak begitu terlihat karena desanya sendiri berada di balik pagar bambu yang cukup tinggi. Sebuah pintu gerbang besar dijaga oleh beberapa warga desa yang mengenakan pakaian adat (koteka). Di depan desa disediakan lapangan parkir yang cukup nyaman dan bersih.

Suasana Desa Kurulu

Delapan buah honai (rumah adat) berjejer di samping kanan dan kiri. Sebuah lapangan yang tak terlalu luas berada di tengahnya sebagai sarana alun-alun warga. Di tengahnya saya melihat beberapa pria yang sedang membuat koteka. Kaum perempuan keluar dari honai dan menyambut kami sambil tersenyum. Mereka juga mengenakan pakaian adat berupa rok dari kulit kayu dan tanpa atasan (topless). Sama sekali tak ada tanda-tanda teknologi modern. Semuanya sangat tradisional.

Salah satu daya tarik utama di Desa Kurulu adalah adanya mumi (mayat yang diawetkan) leluhur yang konon usianya sudah mencapai sekitar 360 tahun. Mumi yang menurut cerita warga setempat dulunya adalah kepala suku di Lembah Baliem ini bentuknya seperti dalam keadaan berjongkok. Tak ada informasi yang pasti tentang proses pengawetan mumi ini. Suku Dani memang merahasiakan resep ramuannya.

Ada yang mengatakan bahwa proses dilakukan selama 3 bulan dengan menggunakan ramuan rempah-rempah disertai dengan upacara ritual. Yang pasti, tidak semua warga suku Dani yang mati kemudian diawetkan. Hanya orang-orang tertentu seperti panglima perang atau kepala suku saja yang berhak dijadikan mumi. Adat suku Dani sendiri sebetulnya adalah mengkremasikan jenazah, bukan mengawetkannya.

Ada kisah unik soal mumi Kurulu ini. Keturunan Suku Dani percaya bahwa mumi tidak boleh disentuh oleh kaum wanita. Jika itu terjadi, maka dipercaya akan mendatangkan malapetaka seperti wabah penyakit atau gagal panen. Sebaliknya, saat diadakan pesta pernikahan, contohnya, mumi harus dihadirkan di tengah-tengah warga. Mereka percaya mumi akan merestui kegiatan mereka dan memberikan kebahagiaan.

Mumi Kurulu

Desa Kurulu sendiri meski sudah dianggap sebagai desa wisata, namun masih terasa keasliannya. Kehidupan warga masih memegang teguh adat Suku Dani dimana kaum pria tinggal terpisah dari kaum wanita. Turis yang tertarik membeli souvenir juga bisa memilih aksesoris seperti noken (tas dari kulit kayu), kalung batu dan gelang akar rumput yang tersedia di kios di dalam desa. Jangan lupa untuk membeli bunga Kurulu yang konon anti layu dan bisa hidup selama setahun tanpa air meski sudah dicabut dari tanah. Keajaiban lain bunga ini adalah tampak kuncup saat tak kena sinar matahari dan langsung mekar begitu tersiram panas matahari.

Warga Kurulu kini tengah berkembang karena industri pariwisata di Wamena yang terus bergolak. Meski sudah mengenal bisnis souvenir, tapi adat mereka untuk hidup dari alam seperti berladang ubi dan berburu tetap mereka pegang teguh hingga kini.

Pagar besar terbuat dari bambu yang mengelilingi desa ini benar-benar memisahkan dengan jelas antara kehidupan di dalam dan di luar desa. Siapapun tak akan menyangka akan melihat kehidupan alami sebuah suku tradisional Papua di balik pagar dengan gerbang sederhana ini. Konon gerbang ini hanya dibuka saat ada tamu yang datang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s