Ketoprak Bangkit Lagi

Tapi kaum muda saat ini terlanjur menjadikan humor sebagai barometer Ketoprak. Ketoprak ya harus ngelucu!

Malam itu Wahyu terlihat agak berbeda dari biasanya. Ia mengenakan dandanan ala Kerajaan Majapahit. Kadang wajahnya serius, kadang tertawa menghibur diri dengan teman-temannya. Malam itu adalah malam penting bagi Wahyu dan beberapa temannya yang berkumpul di Gedung Kesenian Balekambang, Solo. Pasalnya, dalam memperingati hari jadi kota Solo, pemerintah setempat menggelar acara kesenian bertajuk Festival Ketoprak.

Ketoprak memang memiliki 2 kubu pemahaman yang berbeda. Bagi warga Jakarta, Ketoprak adalahhidangan kuliner yang terdiri dari ketupat, taoge, tahu dan bumbu kacang yang biasa disantap untuk sarapan, makan siang ataupun makan malam. Bagi Warga Solo, Ketoprak adalah semacam seni pentas teater rakyat yang dimainkan oleh pemain-pemain yang berpakaian ala Jawa kuno (mirip wayang orang).

Lain halnya dengan pentas Wayang Orang, Ketoprak tidak mengambil kisah-kisah Mahabarata dan epos Ramayana sebagai dasar kisahnya. Tapi justru dari tema-tema sosial yang sedang berkembang atau cerita rakyat. Ada kesan kebebasan dari segi cerita yang ditampilkan Ketoprak. Meski begitu, tetap ada pakem-pakem yang harus dituruti sebuah pentas seni. Ketoprak memang sah disebut sebagai Teater Jawa karena cerita, musik, dialog hingga kostum harus mengusung budaya Jawa kuno.

Cerita yang diusung ketoprak bebas dimasuki oleh berbagai unsur. Ada unsur aksi (pertempuran), drama, roman, politik bahkan humor. Sedikit kilas balik, mungkin kita masih ingat dengan acara “Ketoprak Humor” yang sempat kondang di sebuah stasiun televisi swasta beberapa tahun silam. Acara yang tayang tiap malam minggu tersebut berhasil menyedot pemirsa dan kembali menyegarkan ingatan kaum muda bahwa kita memiliki sebuah kesenian yang bernama Ketoprak.

Pentas Ketoprak

Unsur “humor” yang digadang Ketoprak Humor ini ternyata telah membentuk persepsi bahwa Ketoprak adalah komedi. Padahal komedi hanyalah sebagian kecil bumbu yang digunakan untuk diramu dalam sebuah pentas Ketoprak. Tapi kaum muda saat ini terlanjur menjadikan humor sebagai barometer Ketoprak. Ketoprak ya harus ngelucu!

Tuntutan industri ternyata telah menggerogoti keaslian kesenian ini. Idealisme seni harus dikorbankan demi rating dan sponsor. Ketoprak di televisi tak lagi memperhatikan pakem-pakem sejatinya karena unsur komersil lebih diutamakan dari pada seni.

Dikemas dengan ide-ide humor segar yang dimainkan oleh para mantan pelaku grup lawak legendaris Srimulat, Ketoprak Humor memang tampil lebih modern dan renyah dibanding seni ketoprak sebenarnya yang tampil keliling kampung di pelosok desa di tanah Jawa. Kesenian ini ternyata pernah mencapai masa puncaknya setelah lahir dari tengah masyarakat kelas bawah di kota Solo, di sebuah desa yang bernama Madiotaman

Dwi Mustanto, salah seorang panitia Festival Ketoprak mengisahkan perjalanan panjang kesenian yang pernah menyusuri lika-liku sejarah negeri ini. Ketoprak, menurutnya memiliki asal-usul kata yang belum jelas definisinya. Tapi yang paling banyak diyakini orang adalah bahwa Ketoprak memiliki sejarah etimologis dari kata Ketuk dan Prak atau Keprak yang berarti kentongan.

Alat sederhana yang sering nangkring di pos ronda ini ternyata punya peran penting dalam Teater Jawa. Tak heran karena bila menyaksikan kesenian ini, biasanya kita akan akrab mendengar bunyi kentongan di awal atau di tengah pertunjukan. Kentongan ini ternyata tak sekedar alat musik yang dibunyikan begitu saja. Kentongan, dahulu kala dikenal juga sebagai media untuk mengumpulkan warga. Maknanya, saat Ketoprak dipentaskan, saat itulah warga harus berkumpul. Hingga kini, konotasi kentongan yang dipukul para peronda dengan berkali-kali juga masih diartikan sebagai panggilan darurat di desa-desa.

Pentas Ketoprak

Diperkirakan lahir sekitar tahun 1900-an, seni Ketoprak dikisahkan tercetus dari ide-ide sederhana para buruh batik di kala senggang. Saat melepas lelah, mereka mencoba menghibur diri dengan bermain sandiwara kecil-kecilan. Diperankan oleh mereka, ditonton oleh mereka dan dinikmati oleh mereka bersama. Dari sinilah kemudian seni drama ala Jawa ini lahir dan terus tumbuh di seantero Jawa.

Karena lahir dari kalangan masyarakat bawah, maka dalam Ketoprak tak ada aturan untuk membatasi jam pertunjukan ata mengatur waktu permainan. Jika pentas wayang kulit mematok waktu semalam suntuk, Ketoprak bebas digelar kapan pun tanpa batasan waktu.

Ketoprak Lesung adalah genre Ketoprak yang kemudian mulai bersinar dan banyak digemari. Ketoprak ini menggunakan lesung (alat penumbuk padi) dan kentongan untuk iringan musiknya. Di zaman penjajahan, Ketoprak sering digunakan oleh para pejuang sebagai alat untuk berkumpul dan berbagi informasi. Banyak gerilyawan yang menyamar sebagai seniman dan memanfaatkan ketoprak sebagai media intelijen dan menyuarakan perlawanan kepada penjajah.

Kentongan sebetulnya tak cuma sebagai simbol pengumpul massa. Hingga kini suara kentongan yang kerap bergema saat pentas Ketoprak itu juga merupakan kode-kode tertentu dalam pementasan. Hampir sama dengan peran seorang Dirigen musik orkestra. Umpamanya: kentongan berbunyi satu kali berarti gamelan harus mengalunkan tembang kesedihan, kentongan berbunyi dua kali artinya pemeran berikutnya masuk pentas, dan seterusnya. Sang pemukul kentongan ini biasa disebut dengan sutradara Ketoprak. Jadi, sang sutradaralah yang tahu kapan kentongan harus dibunyikan dan berapa kali.

Berdandan sebelum pentas

Zaman berganti, seni Ketoprak pun mulai memasuki ranah komersil. Tadinya kesenian ini dimainkan secara dinamis, tidak terpatok pada satu lokasi. Ketoprak layaknya teater berjalan yang dapat mentas di mana saja. Namun karena tuntutan komersil, maka lahirlah Ketoprak Tobong yang diperkirakan mulai terkenal di tahun 1970an.

Ketoprak Tobong adalah seni Ketoprak yang tidak lagi digelar di kampung-kampung layaknya teater berjalan. Ketoprak Tobong dimainkan di satu lokasi lengkap dengan panggng permanen. Salah satu pengusung Ketoprak Tobong yang cukup terkenal adalah Sanggar Siswo Budoyo asal Tulung Agung. Konon sanggar Ketoprak yang memiliki masa jaya di tahun 1970 hingga 1990an ini sangat sukses dalam bisnis pertunjukan. Selain memiliki anggota lebih dari 100 orang, sanggar ini juga sanggup membayar gajih anggotanya lebih besar dari gajih PNS saat ini.

Sayangnya kejayaan Ketoprak besutan Sanggar Siswo Budoyo ini harus berakhir saat televisi swasta mulai hadir mengisi panggung hiburan instan di rumah-rumah. Televisi memang menjadi media paling efisien dalam memajukan dan memperkenalkan seni Ketoprak ke semua orang. Tapi di satu sisi, media layar kaca ini juga menjadi bumerang untuk seni Ketoprak itu sendiri.

Kini, para seniman Ketoprak tidak lagi menggantungkan hidup sepenuhnya dari pementasan Ketoprak. Kebanyakan dari mereka adalah warga biasa yang bekerja di kantor atau pedagang. Masa kejayaan kesenian ini memang telah berlalu. Mementaskan Ketoprak hanyalah penyaluran hobby dan apreseasi kecintaan mereka terhadap kesenian teater Jawa ini.

Meski tak lagi mengalami masa jaya, Ketoprak masih tumbuh subur di daerah Pati, Kudus dan Rembang. Di daerah-daerah inilah diyakini Ketoprak masih menjadi simbol kemapanan masyarakat. Artinya: orang yang punya hajat belum dikatakan punya hajat jika belum nanggap Ketoprak. Mirip dengan hajatan warga Betawi yang menggelar dangdutan.

Masyarakat boleh jadi lebih terhibur dengan banyolan ala Almarhum Timbul lewat Ketoprak Humornya, namun fungsi Ketoprak sebagai alat pengumpul massa menjadi hilang. Ketoprak tak lagi dinikmati dengan penonton yang berkumpul di gedung atau di pojokan kampung, tapi disaksikan melalui pesawat televisi di rumah masing-masing. Sebuah dilema dari hiburan instan.

Festival Ketoprak yang digelar Pemkot Solo boleh jadi sebagai langkah awal untuk kembali menghidupkan seni yang sempat dikalahkan oleh dunia digital ini. Gedung Kesenian Balekambang yang memang dikhususkan untuk pentas Ketoprak setiap malam minggu ini cukup bersih dan bagus kondisinya. Tata lampu yang menarik dan harga tiket yang relatif terjangkau (cuma Rp 5.000) membuat tak ada alasan lagi untuk tidak menyaksikan Ketoprak jika berkunjung ke Solo. Bahkan klub-klub teater di Solo yang didominasi anak muda pun saat ini banyak yang ikut mementaskan Ketoprak sebagai bagian dari pertunjukan mereka.

Pemain Ketoprak mulai usia muda hingga tua

Festival Ketoprak sendiri adalah acara reguler yang digelar Pemkot Solo setiap tahunnya di bulan Februari. Tahun ini festival yang diikuti 11 sanggar dengan usia pemain termuda 16 tahun ini adalah festival yang ketiga. Dari tahun ke tahun, pesertanya mengalami peningkatan dan yang mencengangkan adalah tiap tahun ada saja pemain dengan usia paling muda bermunculan. Setidaknya ini adalah bukti bahwa lambat laun, seni Ketoprak kembali akan dicintai warganya sendiri.

Gedung Kesenian Balekambang malam itu sudah dipenuhi penonton. Lampu dimatikan, bunyi kentongan bergema diikuti alunan gamelan. Wahyu dengan pakaian ala tukang jagal kerajaan Jawa kuno muncul bersama kawan-kawannya di bawah siraman lampu panggung. Seni Ketoprak sedang dihidupkan kembali oleh para kaum muda di Solo.

Iklan

2 responses to “Ketoprak Bangkit Lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s