To Belong: Cinta & Kehilangan

Pentas To Belong - foto by Witjak / Salihara

Pentas To Belong – foto by Witjak / Salihara

“Ingsun lahir di desa yang sangat sederhana…”

Itulah penggalan kalimat yang diucapkan Slamet Gundono, Dalang pencetus wayang Suket sebagai adegan pembuka pentas tari To Belong yang digelar di Teater Salihara, Jakarta 28 April 2012 silam. Akiko Kitamura, penari dan koreografer asal Jepang yang berusaha menerjemahkan kisah hidup Slamet Gundono dalam bentuk film, musik, bela diri, wayang dan gerak tari adalah sosok kreator di balik pentas ini.

Menggabungkan unsur-unsur tak lazim seperti memadukan gerakan Pencak Silat dengan tarian Jawa  bukanlah hal yang sederhana. Dari awal penonton disuguhkan gerakan-gerakan cepat, patah-patah dan kadang beradu dengan keras sesama penari.

Kisah hidup Gundono yang penuh dengan dilema cinta dan kehilangan ditunjukkan melalui kata-katanya sambil sesekali melantunkan langgam Jawa.

“Mother-ku itu jenenge Soindep. Mother yang luar biasa”

Gundono memecah sekat-sekat tembok etimologis dengan memainkan bahasa. Gundono terus bertutur soal ibunya hingga kisah di mana ia harus merelakan kepergiannya. Kisah pilu dan kecintaan Gundono akan ibundanya kemudian diterjemahkan oleh empat orang penari: Martinus Miroto, Rianto, Ruri Mito dan Akiko Kitamura.

Akiko menerangkan gerakannya dengan bahasa Inggris, Rianto dengan bahasa Indonesia, Ruri dengan bahasa Jepang dan Miroto dengan bahasa Inggris yang beraksen Jawa. Gerakan, penjelasan yang saling bertabrakan, visual yang artistik dan kebingungan di anatara mereka menyiratkan benturan-benturan sosial. Benturan perasaan juga yang dialami Gundono saat kepergian ibundanya.

Pentas To Belong - foto by Witjak / Salihara

Pentas To Belong – foto by Witjak / Salihara

Sesi kedua diisi dengan menterjemahkan perasaan masing-masing penari ke dalam bentuk tarian. Ruri Mito menterjemahkan kisah sedihnya saat ditinggal mati oleh kucingnya. Ia menari dengan hentakan kemarahan dan kesedihan. Kadang Ruri mengkerut seperti kucing yang bergidik atau menggelepar-gelepar di lantai. Akiko Kitamura mewakili kisah sedihnya dengan tarian yang hampir sama. Penuh kemarahan dan menghentak. Ia kehilangan ayahnya! Miroto punya kisah berbeda. Ia menari dengan sedikit lembut dan kadang menghentak. Ia mewakili kisah ibunya yang tak pernah mengerti dengan maksud tarian Miroto. Riyanto mewakili kisah kecilnya yang selalu dianggap berbeda oleh teman-temannya. Tariannya diawali dengan gerakan khas tari Jawa yang gemulai sebelum akhirnya menghentak seperti jurus-jurus pencak silat.

Kei Ishikawa melengkapi pentas dengan karya-karya visualnya yang artistic. Sepintas mengingatkan saya akan film The Wall yang diadaptasi dari album The Wall grup musik Pink Floyd. Sedangkan Yasuhiro Morinaga membuat penonton terpana dengan menyajikan gabungan suara musik, alam dan semua jenis suara yang ia rekam di Asia Tenggara.

To Belong tampil imajinatif. Bukan sekedar pertunjukan tari atau teater. Akiko Kitamura menyuguhkan sebuah persekutuan seni, mulai dari tari tradisional, bela diri, film, permainan audio hingga wayang kulit.

Iklan

One response to “To Belong: Cinta & Kehilangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s