“Pembebasan” Potehi

Sosok Wayang Potehi

Sosok Wayang Potehi

Sebuah kesenian yang berasal dari balik dinding penjara dan pernah “dipenjarakan” oleh penguasa Orde Baru.

Thio Tiong Ghie berjalan di halaman depan Klenteng Dhanagun, Bogor dengan dibantu seorang pria. Walau sudah memasuki usia senja, Thio Tiong Ghie masih tersenyum menyambut penonton yang mulai menyemut di halaman Klenteng. Hari itu, Thio Tiong Ghie, dalang Wayang Potehi yang sudah berusia 76 tahun itu akan menunjukkan kebolehannya memainkan wayang asal Negeri Cina yang ternyata sudah lebih dari 500 tahun membumi di Indonesia.

Ingat film boneka Si Unyil yang ngetop di era 1980an? Seperti itulah konsep dasar Wayang Potehi. Bahkan Drs Suyadi, sang kreator Si Unyil, mengakui bahwa konsep film Si Unyil mengadopsi teknik-teknik dasar Wayang Potehi.

Berbentuk boneka mirip Si Unyil, Wayang Potehi tampil dengan karakter Cina yang sangat kuat. Pakaian ala ksatria Kaisar, mata sipit, rambut panjang dikuncir seperti pendekar kungfu dan bahkan panggung pun sarat dengan ornamen khas Tionghoa. Jika Si Unyil punya Pak Raden, Usro dan Ucrit, Potehi punya Sam Kok, Kaisar Lie Sie Bien dan So Pu Tong.

Panggung Wayang Potehi tak seperti wayang purwa yang kita kenal selama ini. Wayang Potehi memiliki panggung berbentuk kotak berukuran sekitar 3×5 meter. Mirip sebuah panggung boneka. Di dalamnya terdapat 3 orang musisi, 1 dalang dan seorang lagi asisten dalang. Tampak sempit memang. Tapi dalam panggung ini terdapat semua karakter boneka yang jumlahnya mencapai 30 karakter dan lebih dari 5 jenis alat musik, yaitu gembreng besar (toa lo), rebab (hian na), suling (bien siauw), gembreng kecil (siauw lo), gendang (tong ko) dan selompret (thua jwee).

Para musisi pengiring pentas Potehi

Para musisi pengiring pentas Potehi

Berbeda dengan wayang kulit dari Jawa, Potehi menggunakan bahasa Mandarin dengan durasi pertunjukan selama 2 X 120 menit. Pertunjukan juga tak dimulai malam hari hingga semalam suntuk. Biasanya Potehi dimainkan sore hingga malam hari. Sebelum era Orde Baru, kesenian ini berkembang cukup mulus. Di perkampungan, pentas Potehi seringkali dipenuhi warga pribumi dan non pribumi, terutama anak-anak. Namun keceriaan Wayang Potehi sempat dibungkam selama berkuasanya rezim orde baru.

Konon sejarah Wayang Potehi justru lahir dari hal yang amat sederhana. Di zaman Dinasti Jin, abad ke 3 Masehi, terdapat 5 orang terpidana mati. Menjelang eksekusi hukuman, 4 orang terpidana itu terus meratapi hidupnya dengan kesedihan. Namun 1 orang justru ingin membalikkan keadaan. Menjelang akhir hayatnya, ia justru ingin bersuka ria.

Dengan inisiatifnya, mereka akhirnya membuat alat musik dan boneka dari peralatan di sekitar mereka seperti sapu, kaca, baskom dan tutup panci. Sepanjang hari mereka menghibur diri sambil mementaskan teater kecil mereka. Kaisar yang mendengar kegaduhan ini ternyata langsung tertarik dengan pertunjukan kecil itu dan membebaskan mereka dari vonis mati.

Kini setelah sempat dibungkam selama lebih dari 3 dekade, kesenian asal Negeri Tirai Bambu ini kembali menggeliat. Setiap pentasnya selalu dihadiri kalangan penggila fotografi dan anak-anak muda. Layar mulai dibuka, sosok boneka berparas Cina muncul sambil memperagakan keahlian kungfu diiringi lantunan musik Mandarin. Thio Tiong Ghie sudah berada di balik panggung, siap menghibur penonton yang sudah rindu akan kesenian yang sempat mati suri ini. Sebuah kesenian yang berasal dari balik dinding penjara dan pernah “dipenjarakan” oleh penguasa Orde Baru.

Iklan

3 responses to ““Pembebasan” Potehi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s