Batu dan Wanita Jeju

Pulau Jeju - Foto by Jeju Tourism Organization

Pulau Jeju – Foto by Jeju Tourism Organization

Samda-do adalah semacam semboyan yang harus saya ingat saat mengunjungi Pulau Jeju di Korea Selatan. Slogan tua warga Jeju itu mengusung arti pulau yang dilimpahi batu, angin dan wanita. Frase terakhir tentunya membuat saya berpikir ulang. Ada apa dengan wanita di Jeju?

Jangan kaget bila di Jeju melihat begitu banyak kaum ibu yang masih bekerja di perkebunan sepanjang lereng bukit. David Lim, pemandu saya mengakui bahwa di Jeju jumlah wanita lebih banyak dari pada pria. Kaum wanita juga lebih superior dibanding pria. Bukan cuma soal jumlah jumlah, tak jarang kaum wanita Jeju juga mengambil alih pekerjaan keras para pria. Sementara para pria-pria tua beristirahat dan tak lagi bekerja, kaum wanita justru banting tulang hingga usia senja.

haenyeo

Haenyeo, penyelam wanita tradisional – Foto by Jeju Tourism Organization

Haenyeo (penyelam tradisional wanita) adalah salah satu bukti dominasi perempuan Jeju atas pria dalam menaklukan pekerjaan berat. Haenyeo mampu menyelam di kedalaman 20 meter selama hampir empat menit tanpa bantuan tabung oksigen demi mencari tiram, kerang atau tripang sebagai bahan pangan. Di era 1950-an bahkan jumlah Haenyeo di Jeju mencapai sekitar 30.000 orang. Tradisi sistem matriarkat di Jeju mungkin penyebab utama wanita melakukan tugas ini.

Bahkan di seluruh Korea, menurut David, wanita mendapat tempat terhormat. Perusahaan-perusahaan besar tak segan mentransfer gajih karyawan pria ke rekening istri yang bersangkutan. Istri bahkan berhak mengecek handphone suami sedangan suami tidak berhak mengecek handphone istri. Menarik bukan?

“Para wanita hidup bahagia di Korea, kami memanjakan mereka,” celetuk David sambil tersenyum. Rasanya Korea tak cocok buat saya untuk berumah tangga.

Mirip dengan perlakuan istimewa pada kaum wanita, batu di Jeju adalah substansi yang sangat dihormati. Terbentuk dari proses vulkanik, batu vulkanik pun menguasai sebagian besar Jeju. Sejarah setempat bahkan mencatat bahwa dahulu kala bahkan orang Jeju melakukan proses melahirkan di atas batu. Data penelitian membuktikan 90 persen daratan Jeju adalah batuan vulkanik. Setidaknya ini sedikit menjelaskan mengapa hampir di semua sudut pulau seluas dua kali Singapura ini terlihat Dolharubang (patung dari batu, simbol warga Jeju).

Dolharubang. patung batu simbol dewa pelindung Pulau Jeju – Foto by Jeju Tourism Organization

Dolharubang digadang-gadang warga lokal sebagai dewa yang menjaga Jeju dengan setia. Wujudnya mirip sosok manusia tanpa kaki. Kepercayaan setempat juga meyakini Dolharubang adalah simbol kesuburan – merajuk pada bentuknya yang mirip dengan alat kelamin pria. Kaum wanita yang menyentuh hidungnya dipercaya akan bernasib baik dengan diberkahi keturunan. Sentuh kupingnya maka akan beroleh umur panjang.

“Lalu apa khasiat dolharubang buat pria seperti saya?” tanya saya pada David yang dibalas dengan tersenyum. “Dia akan jadi model foto yang bagus untuk majalahmu nanti,” David Berseloroh.

Batu-Batu Ajaib

Samda-do memang terbukti benar. Jusangjeoli, salah satu lokasi wisata Jeju juga menyuguhkan keajaiban batu. Sekilas lokasi ini terlihat biasa saja dengan tebing batu yang menawarkan pemandangan laut lepas yang romantis saat matahari beranjak terbenam. Keunggulan Jusangjeoli terletak pada batu-batu besar di dekat laut.

Lelehan lahar dari Gunung Halla zaman dulu bertemu dengan dinginnya laut perairan Jeju dan secara natural membentuk batu-batu pilar berpola segi enam. Tak ada ahli pahat atau arsitek untuk membentuk fenomena alam ini. Batu-batu bak pilar istana itu teronggok begitu saja sambil diterjang ombak setiap saat.

Batu telah menyatu dengan tatanan warga Jeju. Bahkan mereka mengenal pepatah: tinggal bersama dengan batu dan kembali ke batu.  

Iklan

9 responses to “Batu dan Wanita Jeju

  1. ebusettt… itu ibuk2 nyelem gitu doang?! #terbelalak
    Btw, gaji masuk rekening isteri itu tidak menarik sekali menurut saya, wkwkwk…

  2. kalau tidak salah, batu-batu seperti pilar itu terbentuk karena pendinginan parsial magma. mineral-mineral yang lebih cepat dingin terkumpul di tepi, jadilah batas-batas segi enam begitu. peristiwa alam memang menghasilkan banyak kenampakan yang menarik. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s