Kearifan Confusius di Singapura

Confusius, sumber inspirasi penataan Chinese Garden

Confusius, sumber inspirasi penataan Chinese Garden

Ajaran Sang filsuf Cina itu rupanya menjadi acuan utama dalam rancangan taman ini.

Meski Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Singapura menyerukan agar terus dibangunnya gedung-gedung ikonik untuk menarik perhatian wisatawan dunia pada Singapura, beberapa kawasan Negeri Singa ini tetap menjaga keasriannya dengan arsitektur kuno.

Arsitektur Singapura memang tak hanya diwujudkan dalam bentuk bangunan mewah dan besar. Chinese Garden, contohnya, adalah sebuah simbol arsitektur bergaya Tiongkok kuno yang diwujudkan dalam rupa taman yang sangat luas. Seperti terseret dalam lorong waktu, Chinese Garden membawa saya ke Cina di abad pertengahan.

Karya arsitek Taiwan, Prof. Yuen Chen Yu yang dibangun tahun 1975 ini adalah sebuah taman dengan bangunan-bangunan khas arsitektur Tiongkok kuno. Lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota membuat saya tak sedikit pun mendengar gema hingar bingar kota di taman ini. Taman yang pernah dipakai untuk syuting acara Amazing Race Asia ini sengaja diciptakan untuk merasakan suasana Tiongkok di abad pertengahan.

Twin Pagoda, salah satu ikon di Chinese Garden

Twin Pagoda, salah satu ikon di Chinese Garden

Meski namanya Chinese Garden, taman ini juga memiliki area Japanese Garden. Saya seperti memasuki sebuah desa layaknya adegan film Last Samurai. Prof. Yuen Chen Yu seperti ingin menentang kemegahan Singapura yang mungkin sudah ia prediksi. Chinese Garden seperti sebuah sanctuary, pelarian dari modernitas yang terus bergulir.

Chinese Garden memang terletak agak jauh dari hingar-bingar kemegahan pusat kota Singapura. Ia sedikit bersembunyi dari kemegahan karya Moshe Safdie yang dikenal dengan nama Marina Bay Sands dan berlindung dari gemerlapnya Ion Orchard besutan kelompok arsitek modern, Benoy.

Di depan gerbang masuk Chinese Garden saya langsung dihadapkan pada  7-Storey Pagoda. Bangunan pagoda berbentuk menara 7 lantai ini hampir mirip dengan Twin Pagoda yang letaknya tak jauh. Diinspirasikan dari pagoda Ling Ku di Nanjing, Cina, kedua pagoda ini boleh dibilang bangunan ikon di Chinese Garden.

Menata Chinese Garden ternyata tak semudah bayangan saya. Prof. Yuen Chen Yu menerapkan seni arsitektur taman yang diadopsi dari sejarah dan filosofi dataran Tiongkok. Bentuk bangunan harus disesuaikan dengan bangunan lain dalam hal ukuran dan jarak. Bentuk dan letak taman serta sungai pun harus seimbang dengan bentuk bangunan. Semua rumusan formula itu adalah demi terciptanya keseimbangan alam antara bangunan dan lingkungannya.

patung Confusius dengan latar 7 Storey Pagoda

patung Confusius dengan latar 7 Storey Pagoda

Standar harmonisasi ala kearifan Cina kuno tampaknya sangat diperhitungkan di sini. Tak heran Chinese Garden juga memiliki kawasan sendiri yang bernama Confusius Statue. Ajaran Sang filsuf Cina itu rupanya menjadi acuan utama dalam rancangan taman ini.

Sebagai salah satu negeri terkecil di dunia, Singapura tampaknya tak mau menyerah begitu saja. Selain lokasi yang strategis, negeri Singa ini juga ingin mencuri perhatian dunia dengan berbagai ikon arsitekturnya yang maha grande. Ian Wright, presenter acara Travel & Living saat mengunjungi Singapura pernah mengatakan bahwa bangunan di Singapura selalu berubah tiap tahun.

“Now, they even have a London Eye,” sindirnya sambil menunjuk ke Singapore Flyer. Nah, tahun depan landmark apa lagi yang bakal menghiasi Singapura?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s