Jonker: Kampung Segala Bangsa

suasana Jonker Street

suasana Jonker Street

Dentuman tabla (gendang India) dan senandung seruling membangunkan saya pagi itu. Sejenak rasanya seperti berada di tengah kepadatan India. Bunyi tabla yang dibarengi seruling India biasanya identik dengan sebuah pertunjukan kecil dari negeri itu di mana seekor ular meliuk-liuk keluar dari sebuah keranjang dengan iringan musik.

Saya bukan berada di tengah hiruk pikuk New Delhi atau Mumbai, tapi di Jonker Walk, salah satu area turis paling kondang di sekitar Kuala Lumpur. Jonker Walk berada di Melaka, sebuah kota kecil dengan jarak tempuh sekitar 2 jam jika berkendara dari Kuala Lumpur.

โ€œItu ritual mereka dalam sembahyangโ€, kata pemilik homestay setelah saya tanyakan asal-usul kegaduhan tabla dan seruling itu. Tepat di seberang homestay tempat saya menginap adalah sebuah kuil yang dikelola oleh kaum Chetty Melaka. Sri Poyatha Venayagar Moorthi Temple, begitu tulisan yang terpampang di muka kuil.

Kaum Chetty adalah warga Hindu India yang sudah mengalami kawin campur dengan warga sekitar seperti Melayu dan Cina. Pakaian adat mereka bahkan menyerupai pakaian Melayu dan menu makanan mereka juga bukan roti canai dengan saus kari yang kental, tapi nasi. Sama dengan kebiasaan bangsa Melayu.

sebuah boneka menghiasi sebuah butik di area Jonker

sebuah boneka menghiasi sebuah butik di area Jonker

Goldsmith Street, tempat saya menginap berbaik hati memberikan saya kejutan dengan menyuguhkan aneka ragam budaya di Jonker. Persis di sebelah kuil kaum Chetty berdiri kokoh Mesjid Kampung Kling yang setiap sore mengumandangkan Adzan Ashar bergiliran dengan dentuman tabla dan seruling kaum Chetty yang kembali melayangkan ritual doa sore.

Mesjid Kampung Kling

Mesjid Kampung Kling

Mesjid Kampung Kling dibangun pada tahun 1748 oleh para pedagang Muslim dari India. Arsitektur mesjid yang awalnya terbuat dari kayu ini menganut pluralisme berbagai kebudayaan. Ada unsur Cina, Melayu bahkan Portugis dalam desain bangunannya.

Nuansa Cina menyambut saya di gerbang masuk Jonker Walk. Replika naga raksasa seraya terbang melingkar di pintu gerbang menyambut turis yang hendak masuk ke Jonker. Kesan pertama adalah sebuah daerah Pecinan yang ramai, dipenuhi gedung-gedung bergaya arsitektur kuno dan pusat aneka kuliner. ย Meski sempit dan dipadati turis, Jonker Walk juga dilalui kendaraan bermotor dengan jalan satu arah.

suasana gerbang Jonker Walk

suasana gerbang Jonker Walk

kincir air Kesultanan Melaka di Sungai Melaka

kincir air Kesultanan Melaka di Sungai Melaka

wisata di Sungai Melaka

wisata di Sungai Melaka

Jalan Kampung Pantai adalah salah satu jalan di Jonker Walk yang berdekatan dengan Sungai Melaka. Memang tidak semeriah Jonker Street, tapi di jalan ini lebih banyak terdapat hostel dan tempat-tepat usaha lain seperti penukaran uang, Bank hingga tempat pemotongan babi.

Konon saat berkuasanya Belanda di Melaka, banyak warga Cina yang menjadi pelayan mereka dan tinggal di daerah Jonker yang dulu bernama Heeren Streets. Awalnya warga Cina yang tinggal di sini juga banyak yang merupakan juragan kaya raya. Heeren Streets kini juga dikenal dengan nama China Town atau Jalan Hang Jebat. Ada juga yang menyebutnya Antique Street karena di sepanjang area Jonker Walk terdapat banyak toko barang antik. Sepeninggal Belanda, kaum Baba dan Nyonya (warga Cina Melayu) tetap tinggal di kawasan ini dan menjalankan bisnis mereka.

Heeren House di Jalan Hang Jebat

Heeren House di Jalan Hang Jebat

Soal kuliner, Jonker memanjakan wisatawan dengan berbagai hidangan yang tersedia. Jonker Walk Hawker Center adalah lokasi terbaik bagi turis yang kelaparan usai mengitari Jonker. Pusat jajanan yang mulai buka pukul 6 sore hingga tengah malam ini menyediakan aneka makanan peranakan, Melayu hingga hidangan barat dengan harga terjangkau.

Iklan

9 responses to “Jonker: Kampung Segala Bangsa

  1. jonker street has full package entertainment in Melaka, from shopping eating, foot massage and karaoke. too bad you missed weekend street market, you will love the ambiance. ๐Ÿ™‚

  2. Were you there at the weekend? They have weekend night matket. Ruameeee banget, biarpun desek2an tp jajanannya enak2 (mirip night market di chiang mai).
    And I loooove the Chicken Rice Balls, antriannya kadang sampai ke jembatan di jalanan. They have the best steamed cabbage!
    Oh, walopun ga terlalu spektakuler, jangan lupa coba juga Cendol Durian and Amoy fish cake ๐Ÿ™‚

  3. Were you there at the weekend? They have weekend night market. Ruameeee banget, walupon desek2an tapi jajanannya asik (mirip night market di Chiang Mai).
    I love the Chicken Rice Balls. Kadang antriannya sampai ke deket jembatan di jalanan. They have the best steamed cabbage!
    Walaupun ga terlalu spektakuler, jangan lupa coba Cendol Durian dan icon mereka, Amoy Fish Cake ๐Ÿ˜‰

    • hehe waktu disana pas weekdays jadi nggak liat night market :(( Kalo cendol durian itu sudah masuk daftar wajib coba. Dan aku ketagihan Laksa di sana ๐Ÿ˜€

  4. The night market is so much fun woohoo! Makanannya bujug banyak. Langsung naik 2 kg dalam semalam. Waktu itu bahkan nemu komunitas joged bareng (syncronized dance) yang terdiri dari ibu-ibu lokal tapi kita boleh ikut ๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s