Finding Rhino

Meski berpenampakan angker, badak adalah hewan pemalu dengan kebiasaan yang unik

Pak Armat tampak serius dengan sepotong kayu yang ada di tangannya. Tak begitu besar, hanya seukuran telapak tangan. Tangan kanannya kokoh menggenggam sebilah pisau ukir yang menyusuri sisi-sisi potongan kayu di tangan kirinya. Bersama sekitar lima belas rekannya, Pak Armat sedang mencoba membuat sebuah patung badak. Tak gampang ternyata. Beberapa rekan Pak Armat bahkan sudah mencoba dengan potongan kayu yang ketiga dan masih tak yakin dengan bentuk patung badaknya sendiri.

Desa Cinibung adalah salah satu desa di daerah Ujung Kulon yang mencoba untuk mengangkat tingkat perekonomiannya melalui pembuatan souvenir berupa replika badak Jawa yang kemudian mengecatnya dengan motif batik. Warga lokal menyebutnya juga dengan Batik Badak. Banyaknya turis yang datang ke Ujung Kulon sering melewatkan desa ini karena biasanya turis langsung menggunakan kapal dari daerah Sumur untuk ke Pulau Peucang atau Panaitan. Cinibung pun terlewatkan.

Sebagai salah satu daerah yang cukup sering diincar para pelancong, Ujung Kulon memang menawarkan wisata petualangan yang cukup menantang. Sayangnya arus pariwisata yang hadir di Ujung Kulon ternyata tak cukup merata. Turis lebih suka berpetualang di Pulau Peucang daripada pesisir Ujung Kulon lainnya.

Tahun 1995 WWF Indonesia membantu warga dengan memberikan kesempatan untuk menjadi pengrajin patung badak. Bagi warga Ujung Kulon, badak Jawa adalah simbol daerah mereka. Hukum adat bahkan melarang warga untuk mengganggu bahkan memburu hewan langka ini. Warga dan badak tampaknya sudah menjalin hubungan batin untuk tidak saling serang.

Infrastruktur dan keterbatasan sumber daya membuat pemasaran patung badak hingga kini masih banyak menemui kendala. Pak Armat mengakui kesulitan untuk memasarkan barang ini ke luar Ujung Kulon. Sebagian besar souvenir ini disalurkan oleh WWF Indonesia ke seluruh perwakilannya dan sisanya lagi dijual langsung di rumah warga dengan harapan turis akan singgah sebelum menuju Pulau Peucang. Belum terdapat semacam toko atau galeri yang menjual souvenir ini.

Perjuangan para pengrajin patung di Cinibung memang tak ringan. Hingga kini mereka tak memiliki gedung khusus untuk produksi. Belajar membuat patung pun juga tak mudah. Beberapa pengrajin mengaku masih kesulitan membentuk rupa badak Jawa. Lokasi produksi patung juga tak seperti yang dibayangkan. Sebuah bangunan dalam kondisi setengah jadi terpaksa digunakan sebagai markas mereka dalam berkreasi menciptakan patung-patung badak.

Desa Ujung Jaya adalah perhentian saya berikutnya. Memakan waktu dua jam dengan melintasi jalan berbatu rasanya memang tak nyaman. Tapi itulah faktanya. Daerah Utara Ujung Kulon yang menjadi daerah hunian warga masih jauh dari sentuhan pembangunan. Bahkan jauh dari sentuhan turis!

Sama dengan Cinibung, Desa Ujung Jaya harus berjuang untuk bisa memenuhi kebutuhan ekonominya. Pak Sudrajat adalah salah satu warga yang mulai mengembangkan karyanya berupa teko dari batok kelapa. Tak ketinggalan juga hiasan aksesoris badak yang menjadi ciri khas warga Ujung Kulon turut menghiasi tekonya. Untuk menambah keunikan, sebuah cula mini ditambahkan Pak Sudrajat di ujung teko. Perlu waktu sekitar dua minggu untuk menyelesaikannya.

Desa Ujung Jaya sebetulnya adalah desa penyanggah Taman Nasional Ujung Kulon yang justru sangat sepi dilalui turis. Konsentrasi wisatawan yang selalu ke Pulau Peucang membuat kawasan gerbang Taman Nasional ini semakin tertinggal. Selain infrastruktur yang tak terurus, tingkat perekonomian warga juga tak beranjak.

Penasaran dengan sosok badak Jawa, esok paginya saya ditemani WWF Indonesia menyusuri kawasan habitat badak di Cigenter setelah harus minta izin dulu di Pulau Handeleum. Cigenter adalah kawasan habitat badak Jawa yang dilindungi. Menyusuri habitat, saya harus menggunakan kano (perahu kayu) merambah sungai yang beratap ranting-ranting pohon.
Satu jam menyusuri Cigenter saya tak sekali pun berjumpa dengan hewan sensitif ini. Selain takut dengan kehadiran manusia, badak ternyata juga bisa mencium aroma manusia dari jarak cukup jauh. Kehadiran saya mungkin sudah terlebih dahulu diketahui.

Cigenter selain dikelola oleh Taman Nasional Ujung Kulon, juga terdapat ROAM (Rhino Observation and Activity Management). Sebuah kelompok pemerhati badak Jawa di bawah pengawasan taman nasional. Pak Otong, salah satu petugas ROAM yang mendampingi saya sempat menunjukkan jejak badak yang terletak jauh di dalam hutan. Saya harus menembus rute berlumpur dan tanaman berduri untuk melihatnya.

Perburuan liar pernah menjadi hantu menakutkan bagi populasi badak Jawa hingga akhirnya tahun 1990-an tidak lagi ditemukan kasus perburuan badak. Profesor R. Schenkel adalah orang pertama yang mendata populasi badak Jawa di tanah Ujung Kulon pada tahun 1967. Waktu itu tercatat 28 ekor badak mendiami daerah Ujung Kulon. Jumlah itu terus berkembang dan sempat menurun di saat perburuan badak marak di tahun 1980-an. Cula adalah bagian yang paling dicari oleh para pemburu. Khasiat pengobatan tradisional konon menjadi alasan utama pembantaian besar-besaran spesies ini.

Meski berpenampakan angker, badak adalah hewan pemalu dengan kebiasaan yang unik. Badak adalah jenis herbivora yang gemar menyantap pucuk tanaman. Berkubang adalah ritual wajib bagi hewan pemakan daun ini. Baginya berkubang adalah saat untuk mandi, berisitirahat sekaligus menetralkan suhu tubuh. Si angker ini ternyata cukup tekun merawat tubuhnya.

Saya memang tak menjumpai badak, tapi saya menjumpai semangat warga lokal yang berjuang keluar dari kemiskinan dengan diinspirasi sosok badak.

Iklan

5 responses to “Finding Rhino

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s