Diaolou: Benteng Para Perantau

Kaiping memiliki luas wilayah hampir 3 kali luas DKI Jakarta.

“Kita akan melihat watch tower”, kata pemandu saat saya mengunjungi kota kecil bernama Kaiping di selatan Guangzhou. Butuh waktu 2 jam menggunakan bus dari Shenzhen utuk bisa mencapai Kaiping. Meski nama Kaiping masih asing di telinga saya, tapi tidak bagi dunia. Tahun 2007, Kaiping resmi tercatat sebagai world heritage oleh UNESCO. Daya tarik terbesar dari kota berpenduduk 1 juta jiwa ini adalah diaolou atau watch tower. Semacam bangunan rumah tinggal yang berbentuk menara dengan desain unik.

Kaiping, bukanlah nama kota yang tenar di Cina seperti Beijing dan Shanghai. Mengunjungi Kaiping buat saya seperti menarik diri dari riuhnya kota besar dan melepir ke daerah pedesaan. Meski pemandu saya menerangkan bahwa Kaiping adalah kota kecil, tapi buat saya tetap luas. Bayangkan, dengan penduduk 1 juta jiwa, Kaiping memiliki luas wilayah hampir 3 kali luas DKI Jakarta.

Meski memiliki daerah yang luas, Kaiping bagi saya ibarat kota yang ditinggalkan. Memasuki Kaiping hanya melalui jalan biasa (bukan tol) dengan ruko berbentuk rumah kuno di sisi jalan. Gedung-gedung tinggi jumlahnya sangat sedikit dan itu pun baru proses dibangun. Jalan raya sangat sepi. Di beberapa ruas jalan bahkan setengahnya digunakan untuk menjemur gabah. Tak ada kemacetan di sini. Desa-desa yang saya lalui juga tampak sunyi, hampir tak ada warga yang melintas. Di banyak daerah saya hanya melihat sawah yang diselingi beberapa rumah atau diaolou.

salah satu diaolou di Kaiping

Diaolou sebetulnya adalah rumah tinggal warga Kaiping di masa lampau. Konon kisahnya, Kaiping terkenal sebagai kota para perantau. Sebagian besar warga Kaiping merantau ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Vietnam dan Indonesia. Saat pulang mereka membangun rumah tinggal di Kaiping. Masalahnya adalah daerah Kaiping sering terendam banjir dan banyak pencurian. Akhirnya mereka membangun tempat tinggal berupa menara dengan banyak jendela untuk mengawasi keadaan sekitar.

Diaolou memiliki 3 jenis: untuk tempat tinggal bersama kaum miskin (komunal), tempat tinggal orang kaya dan sebagai menara pengawas. Saat ini masih tersisa sekitar 1.800an diaolou di Kaiping. Fungsi diaolou selain sebagai tempat tinggal dan menara pengawas adalah jga sebagai bunker penyimpan harta. Beberapa perantau yang kembali ke Kaiping dengan hartanya, menyimpan kekayaan mereka di dalam diaolou.

Diaolou paling terkenal di Kaiping adalah di Li Garden milik Xi Wei Li, seorang perantau yang mencari peruntungan di Amerika Serikat. Diaolou milik Li boleh dibilang paling mewah di seantero Kaiping. Lokasinya pun dikelola apik untuk destinasi turis. Dari luar, diaolou ini mirip istana mewah di Eropa. Untuk bisa masuk ke sini, turis dikenakan tarif sebesar 100 Yuan.

Menjelajahi dalamnya seperti memasuki rumah bangsawan Eropa di abad pertengahan. Lantainya dihiasi ubin dari Italia, perabotan antik menghias di sudut ruangan dan tangga dipagari marmer bergaya Eropa. Meski cuma sebuah bangunan tempat tinggal, diaolou juga diberi nama. Contoh: Ruishi, Majianglong, Fangshi Denglou, Bianchouzu Lou.

sudut taman di Li Garden

Zili Village adalah lokasi diaolou berikutnya yang saya kunjungi. Diaolou di sini tak semewah milik Li di Li Garden. Tak ada nuansa istana Eropa. Hanya bangunan-bangunan sederhana tanpa cat yang terkesan hampir tak terurus. Masih ada penduduk yang tinggal di beberapa rumah di sekitar diaolou meski tak banyak.

Meski sederhana, Zili Village pernah menjadi daya tarik sendiri bagi sutradara Jiang Wen saat menggarap film Let the Bullet Fly yang dibintangi Chow Yun-Fat tahun 2010. Tanggal 28 Juni 2007, UNESCO mengesahkan Zili Village menjadi warisan dunia.

mengamati pemandangan Zili Village

Bentuk bangunan diaolou memang berbeda-beda sesuai fungsinya. Untuk diaolou komunal (ditinggali bersama untuk rakyat miskin) biasanya bentuknya sederhana. Sedangkan untuk tempat tinggal orang kaya, diaolou berbentuk istana dengan aliran arsitektur bermacam-macam seperti gaya Eropa dan Timur Tengah. Mungkin sesuai dengan daerah perantauan mereka. Untuk bangunan menara pengawas, diaolou biasanya berbentuk kaku dengan banyak jendela di sekeliling bangunan.

Diaolou bagi warga Kaiping bukanlah sekedar bangunan, tapi juga simbol status sosial. Memasuki diaoulou seperti masuk ke mesin waktu ke era perantauan Cina di masa lalu. Setidaknya saya bisa merasakan bagaimana mereka hidup di masa lampau. Tembok-tembok menara ini meski membisu, seperti membisikkan sejarahnya pada tiap turis yang datang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s