Topeng di Kacirebonan

Untuk menghidupi sanggarnya, selain dibantu pihak keraton, Bang Heri juga mengenakan iuran wajib bagi anggota.

Keraton Kacirebonan, Cirebon sore itu mendadak sibuk. Beberapa pemuda lalu-lalang membawa peralatan bangunan, sound system dan beberapa lampu sorot lengkap dengan gulungan kabelnya. Keraton yang memulai sejarah kekuasannya di tahun 1808 itu sedang bersolek untuk sebuah pagelaran. 

Sederhana. Tak ada lampu laser, dry ice atau latar belakang yang bisa berubah-ubah. Panggung digelar di atas pelataran parkir dengan tiang-tiang bambu sebagai sanggahan lampu sorot. Tak ada loket karcis atau panitia berseragam yang menyortir barang bawaan penonton. Acara digelar secara gratis dan terbuka bagi semua pengunjung.

Sanggar seni Sekar Pandan, malam itu sedang menggelar acara rutin yang disebut Apresiasi Budaya. Di sini, akan dipentaskan beberapa pertunjukan seni seperti tari-tarian tradsional dan kontemporer, termasuk juga pertunjukan wayang.

Elang Heri, adalah lelaki di balik pentas rutin ini. Lelaki yang sudah memimpin sanggar Sekar Pandan selama 20 tahun itu penampilannya tidak identik dengan seniman. Rambutnya rapih tercukur pendek, memakai batik dan murah senyum. Sesekali ia tampak sibuk menjawab telepon dengan mimik wajah serius dan kemudian kembali tersenyum sumringah. Peluh di dahinya menandakan kesibukan yang sedang ia hadapi jelang acara ini.

“Ini apresiasi bulanan yang sudah berjalan satu setengah tahun,” jelasnya tersenyum.

Keterlibatan Elang Heri pada Sekar Pandan tidak terjadi begitu saja. Mewarisi tradisi seni dalam keluarga, Elang Heri kemudian mencanangkan tekadnya untuk mendirikan sebuah sanggar seni pada tahun 1991.

Elang Heri, pimpinan Sekar Pandan

“Orang tua saya memang seniman di Kacirebonan,” jelasnya.

Peduli terhadap pelestarian budaya asli Cirebon, Elang Heri kemudian mendirikan sanggar Sekar Pandan. Tanggung jawab moral tampaknya menjadi alasan utama. Tak semulus harapannya, mencari anggota sanggar ternyata tak mudah. Pria yang akrab dipanggil Bang Heri ini harus berkeliling ke sekolah-sekolah untuk memperkenalkan sanggarnya dan mencari anggota. Untuk menghidupi sanggarnya, selain dibantu pihak keraton, Bang Heri juga mengenakan iuran wajib bagi anggota.

Nasib Sekar Pandan mulai berubah sejak digelarnya Festival Topeng Nusantara 2010 di Cirebon. Selain mengangkat kesenian topeng Cirebon, acara yang disaksikan 15 duta besar dan perwakilan UNESCO itu kini membuat Bang Heri juga mulai kebanjiran pesanan untuk pentas di luar kota. Berkat perhelatan itu juga, tari Topeng Klana kian dikenal luas sebagai maskot budaya Cirebon. Itu sebabnya tari Topeng Klana selalu menjadi andalan pementasan dari Bang Heri. Sayangnya sanggar Sekar Pandan sendiri tak mendalami ilmu kerajinan membuat topeng.

Banyak sebetulnya yang belum mengerti bahwa sebenarnya tari topeng Klana adalah bagian terakhir dari lima bagian tari topeng Cirebon. Kelima bagian itu adalah topeng Panji (menggambarkan kesucian), topeng Samba (menggambarkan keingin tahuan), topeng Rumyang (menggambarkan sifat labil), topeng Tumenggung (menggambarkan kemapanan) dan topeng Klana (menggambarkan sifat serakah).

Tari Topeng Klana

Bang Heri menjelaskan bahwa justru yang tersulit adalah tarian topeng Panji. Di sini, penari harus bisa menahan diri sekuat mungkin. Tarian ini menggambarkan sifat kesucian seseorang yang diumpamakan sebagai bayi yang baru lahir. Tak banyak bergerak meski musik tarian terdengar menghentak. Penghayatan penari pada topeng Panji memang tak bisa sembarangan. Meski tak banyak melakukan gerakan, namun ekpresi menahan diri ternyata menjadi bagian tersulit. Berbeda dengan topeng Klana yang lebih enerjik gerakannya dan lebih bebas.

“Ibaratnya dengar musik dangdut tapi kita tak boleh bergoyang,” jelas Bang Heri lagi.

Bang Heri mengakui bahwa saat ini di sanggarnya, tarian yang paling diminati adalah Topeng Klana dan Topeng Samba karena memiliki gerakan yang sangat dinamis. Seni tari topeng adalah seni yang paling populer saat ini untuk masyarakat Cirebon dan paling sering dipentaskan.

Tak ada pakem khusus yang mengatur tari topeng ini. Kalau dahulu tari topeng dibawakan secara utuh (lima tarian), kini hanya satu atau dua tarian saja juga bisa. Busana yang digunakan juga mulai disesuaikan dengan karakter gerakan. Saat ini unsur artisitik sudah mulai mendominasi pementasan tari topeng.

Di balik bangunan keraton yang dibangun pada tahun 1808 ini, saya menelusuri gang berliku ke sebuah perkampungan yang disebut dengan perkampungan Kacirebonan. Menurut Bang Heri, warga di sini adalah orang-orang yang merupakan keturunan Kesultanan Kacirebonan. Perumahan di sini begitu sederhana. Mirip dengan perumahan di daerah padat Jakarta. Namun di sini lebih bersih dan tenang.

“Ini tempat kita latihan dan menyimpan peralatan karawitan,” Bang Heri menunjuk ke sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas dan terdapat beberapa bangunan terbuka di sekitarnya.

Agustin (tengah), penari Topeng Klana

Agustin, salah satu penari sanggar, mengaku baru satu bulan bergabung dengan sanggar Sekar Pandan bersama kawan-kawannya dan sudah melakukan 2 kali pementasan tari Topeng Klana.

“Awalnya memang kelihatan susah, tapi kalau sudah berlatih lama-lama terbiasa,” jelas gadis berusia 13 tahun ini.

Bang Heri bahkan memberi ruang bagi para senimannya untuk berkreasi seluas-luasnya. Sekar Pandan kini memiliki 7 orang pelatih tari, 2 orang pelatih musik dan anggota tak kurang dari 200 orang. Tak cuma melestarikan tarian yang sudah ada, namun juga menciptakan tarian-tarian baru yang memiliki unsur tradisional.

Pentas Sekar Pandan di Kacirebonan

Bang Heri memang tak memiliki harapan yang terlalu rumit. Ia hanya ingin melestarikan budaya tradisional Cirebon. Panggung sederhana di depan keraton sudah siap dan penonton sudah tak sabar untuk dihibur. Beberapa penari yang sudah berdandan satu jam lamanya siap mengantri di bibir panggung. Apresiasi bulanan karya sanggar Sekar Pandan bersiap menghipnotis penonton malam itu. Tari topeng, wayang kulit, wayang wong di gelar secara sederhana namun memikat. Memang tak megah, namun malam itu rasanya harapan akan cinta seni tradisional mulai hidup kembali melalui sebuah sanggar seni yang sederhana namun penuh dedikasi di kota Cirebon.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s