Asologaima: Mendunia dengan Kopi

Menurut Bapa Anton, semua kopi mereka sering diborong oleh sebuah asosiasi kopi dari Amerika Serikat yang bernama AMARTA

Wahwahwahwah…! Teriakan ini membahana ketika saya tiba di Desa Asologaima, Distrik Mulyama, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Usut punya usut, ternyata itulah cara warga menyambut tamu yang datang. Unik, meski saya sempat kaget.

Desa Asologaima adalah salah satu desa binaan WWF Indonesia yang kini berkonsentrasi sebagai desa penghasil kopi organik. Bayangan saya tentang daerah pelosok Papua yang tak tersentuh ternyata meleset. Warga Asologaima sudah mengenakan pakaian konvensional layaknya penduduk di kota. Tak ada satu pun yang ber-koteka. Segerombolan anak kecil bahkan langsung berebut kembang gula saat seorang kawan menyodorkan beberapa bungkus permen. Tapi, desa ini masih tampak sederhana. Tak ada listrik dan kendaraan bermotor. Semua rumah masih berupa honai (rumah adat Papua yang menggunakan atap rumput dan dinding kayu).

Asologaima adalah desa yang berlokasi di kawasan penyanggah Taman Nasional Lorentz. Menuju ke sini, tak ada penunjuk arah atau papan nama yang menunjukkan nama desa. Hanya hutan belantara rimbun. Jangan harap melihat jalan aspal atau rumah beton di desa ini. Asologaima terletak di dalam hutan dan perkebunan kopi. Hanya jalan setapak membelah hutan yang menuntun saya menuju desa yang diisi dengan 12 kepala keluarga ini. Saat tiba sore hari, dipastikan daerah ini gelap gulita karena tak ada jaringan listrik yang mengaliri kawasan ini.

Bapa Anton, Ketua Desa Asologaima

Bapa Anton, ketua desa menyambut rombongan dengan cemilan hasil perkebunan yang tentunya tanpa pupuk dan pestisida. Sekarung ubi yang dimasak dengan tradisi bakar batu dan beberapa ikat kacang tanah mencairkan suasana hari itu. Dengan jumlah 12 kepala keluarga, Desa Asologaima kini mengelola sekitar 6 hektar perkebunan kopi Arabika dengan bantuan WWF sejak tahun 1990.

Mengolah kopi sebetulnya sudah menjadi usaha tradisi desa ini sejak dahulu kala, jauh sebelum masuknya pembinaan lanjutan dari WWF Indonesia. Penanganan distribusi, pembinaan teknik pengolahan dan ketrampilan pencegahan hama adalah fokus yang diusung WWF Indonesia bersama para petani setempat yang menghasilkan jenis kopi Arabika.

Namun karena kualitas yang tidak stabil akhirnya Starbucks menolak penawaran itu.

Lokasi perkebunan memang tak seperti kebun kopi lainnya. Bapa Anton mengajak saya menelusuri kebun kopi yang berbaur di tengah hutan belantara. Mungkin hanya warga lokal yang tahu sampai sejauh mana batas-batas wilayah perkebunan. Karena yang saya lihat hanya hutan lebat. Pohon kopi di sini memang tumbuh secara acak, tidak beraturan di sekitar pohon lainnya yang menyatu dengan hutan.

Biji kopi yang siap panen

Kopi Arabika produksi Desa Asologaima ini memang tak diolah di tempat. Namun pembeli biasanya datang langsung dan membeli kopi yang masih berupa buah. Jangan kaget karena pembeli reguler kopi mentah di sini berasal dari Amerika. Menurut Bapa Anton, semua kopi mereka sering diborong oleh sebuah asosiasi kopi dari Amerika Serikat yang bernama AMARTA.

Tahun 2004, ketenaran kopi organik Wamena mulai mendunia dan saat itu pula sempat ada penawaran kerja sama dengan Starbucks melalui program kerja sama masyarakat dengan USAID dan pihak koperasi lokal bernama KSU Baliem Arabica. Namun karena kualitas yang tidak stabil akhirnya Starbucks menolak penawaran itu.

Melihat peluang terbukanya kesempatan menghasilkan budi daya kopi organik yang berkualitas, WWF Indonesia sejak tahun 1990 telah berhasil membentuk beberapa pelatihan budi daya kopi di Kabupaten Jayawijaya. Dari data yang dilansir WWF Indonesia, kini kopi yang dihasilkan di daerah Jayawijaya mampu mencapai 138,75 ton per tahun, daerah Lani Jaya mencapai 28,25 ton per tahun dan daerah Yakuhimo mencapai 26,25 ton per tahun.

Warga Asologaima sendiri sebetulnya bukan pecinta kopi. Seandainya menyeruput kopi, mereka juga biasanya menikmati kopi instan yang mereka beli dari pasar. Saya sendiri agak kesulitan mencari kopi asli Wamena ini di pasar-pasar lokal. Tak heran karena para pecinta kopi dari Negeri Paman Sam sudah terlebih dahulu memborong hasil kopi organik ini.

Warga Asologaima

Dari butir-butir buah kopi berwarna merah di pelosok Jayawijaya yang masih sangat sederhana, kini merambah dunia dengan sebuah gaya hidup di kota-kota besar. Nah jika suatu saat Anda sedang menikmati segelas Espresso Machiato, Mocha Frapuccino atau Toffee Nut Latte di sebuah kafe, siapa tahu itu adalah kopi dari Asologaima, desa penghasil kopi di Wamena, Papua.

Iklan

5 responses to “Asologaima: Mendunia dengan Kopi

  1. Wah..Wah..Wah…Nice artikel brow, thank to publish. Saat ini saya sedang bersama Pak Anton Kurisi di Kantor WWF-Wamena. Beliau salam buat mas Yudasmoro.

  2. wa…wa…wa…wa….
    naghorah naghorah naghorah,,,
    salaam dari wamena…

    kirain di kurulu aja pengasil kopi nya. ternyata asologaima juga

    btw dalam rangka apa ke aslogaima? anggota WWF kah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s