Wanita-Wanita Tangguh dari Mikimoto

Sang suami harus tahu benar kapan ia harus menarik sang istri ke permukaan.

Lima derajat celcius, itulah angka temperatur yang tertera saat saya menyeberang ke Mikimoto Island, Toba City, Jepang. Jengan membayangkan Mikimoto Island adalah pulau besar dengan kepungan laut yang dibatasi pasir pantai nan cantik. Mikimoto tidak lebih luas dari Bandara Soekarno Hatta. Untuk mencapainya tidak diperlukan speedboat atau kapal Roro. Sebuah jembatan sepanjang 300 meter siap menyeberangkan siapa saja yang ingin mengunjungi Mikimoto.

Lalu apa yang unik dari pulau kecil ini? Pertama, sejarah Jepang dan dunia telah mengakui bahwa Mikimoto Island adalah salah satu penghasil mutiara terbaik di seluruh dunia. Bahkan mutiara termahal dan terbesar di Jepang juga ada di pulau ini. Kedua, tradisi mencari mutiara di sini tidak dilakukan dengan teknologi tinggi, tapi masih sangat tradisional. Dilakoni oleh para penyelam wanita tanpa peralatan selam modern dan dilakukan di lautan yang dingin membeku.

Ama. Itulah sebutan yang terkenal untuk para penyelam wanita ini, Menurut informasi, Ama yang berarti penyelam wanita ini dari zaman dulu sudah memiliki peranan penting dalam mata rantai produksi mutiara di Jepang. Namun seiring dengan waktu dan berkembangnya teknologi, peranan Ama semakin hari semakin berkurang. Pencarian mutirara tergantikan dengan peralatan modern yang lebih praktis. Sosok Ama nyaris tergilas zaman. Kemampuan mereka menyelam di lautan yang dingin dengan pakaian yang khas seperti petugas laboratorium menjadi semakin tak terwariskan. Hanya beberapa gelintir kaum wanita muda saja yang mau meneruskan keahlian ini.

Ama, Penyelam Wanita dari Mikimoto

Di Mikimoto Island, terdapat sebuah pertunjukan regular yang menampilkan keahlian Ama mencari kerang-kerang mutiara di dasar laut. Demi mewariskan tradisi kunonya, Jepang bahkan mengemas para penyelam ini dengan sebuah pertunjukan hiburan. Penonton cukup banyak yang memenuhi tribun. Layaknya menyaksikan atraksi di Sea World, penonton duduk di tribun bertingkat dengan menghadap ke arah laut.

Tak lama kemudian, sebuah perahu kayu melintas di depan penonton. Penumpangnya adalah seorang nahkoda dan 3 orang Ama yang berpakaian serba putih. Pakaian yang mereka kenakan ini sama sekali berbeda dengan standar penyelam pada umumnya. Di tengah cuaca yang amat dingin, mereka menyelam dengan pakaian serba putih yang terlihat longgar dan tanpa pelapis apapun. Mungkin lebih mirip pakaian anti radiasi di laboratourium. Menurut guide, warna putih itu dipakai untuk menakut-nakuti ikan hiu atau lumba-lumba yang melintas.

Gaya menyelam para Ama ini juga sangat khas. Begitu menyentuh laut, mereka langsung melakukan duck dive (menyelam vertikal) dengan kaki terangkat ke udara. Mereka hanya mengenakan iso-megane (kacamata selam), iso-gi (pakaian selam) dan iso-oke (keranjang kayu).

Dengan perlengkapan selam yang sangat sederhana itu, ketiga Ama segera memperlihatkan keahlian mereka menyelam dan memunguti oyster di dasar laut. Satu per satu mereka kembali ke permukaan sambil menunjukkan oyster tangkapan mereka dan kemudian menyelam lagi dengan cepat. Kedalaman yang dicapai oleh para Ama biasanya mencapai 10-15 meter. Jelas untuk menyelam dalam lautan dingin sedalam itu dengan perlengkapan sederhana memang tak sembarangan orang yang bisa melakukannya.

Ama dengan gaya menyelam vertikal

Saat para Ama kembali ke permukaan air, biasanya mereka meraih keranjang kayu mereka dan kemudian meniupkan nafas hingga mengeluarkan suara mirip orang bersiul. Konon, itu dilakukan untuk membantu saluran pernafasan mereka agar tidak terluka akibat menyelam di air yang sangat dingin.

Sejarah juga mencatat mengapa sebagian besar Ama adalah para wanita. Dari brosur yang saya baca, sebetulnya ada juga penyelam yang laki-laki. Namun menurut keyakinan warga setempat, wanita memiliki lapisan lemak yang lebih tebal dibanding pria di bagian kulit. Jadi wanita lebih kuat menahan dingin dibanding pria. Mungkin ada benarnya. Itu sebabnya wanita masih bisa mengenakan tanktop saat berjalan-jalan di mall.

Masih menurut keyakinan mereka, wanita dianggap lebih kuat menahan nafas di dalam air dibanding pria. Selain itu, zaman dahulu biasanya kaum pria di daerah Toba City berprofesi sebagai nelayan. Selagi para suami melaut mencari ikan, maka para istri mengisi waktu dengan menjadi Ama. Itu sebabnya Ama lebih didominasi oleh kaum wanita.

Cara menyelam para Ama juga dibagi 2 jenis. Pertama mereka menyelam dengan bergantung pada seutas tali yang dikaitkan pada sang suami yang menantinya di atas perahu. Metode ini biasanya digunakan saat Ama menyelam di tengah lautan lepas dengan tingkat kedalaman agak tinggi. Sang suami harus tahu benar kapan ia harus menarik sang istri ke permukaan.

Kedua adalah dengan menyelam sendirian yang biasanya dilakukan di peairan yang agak dangkal. Di sini Ama mengikatkan diri mereka dengan seutas tali pada keranjang kayu di permukaan. Metode perairan dangkal inilah yang saya saksikan di Mikimoto Island. Saat ini tercatat masih ada sekitar 1.300 Ama yang tinggal di Jepang dengan usia berkisar antara 72 ā€“ 80 tahun.

Dahulu, Ama tidak menjalankan aksinya hanya untuk mencari kerang mutiara, tapi juga untuk mencari bulu babi, abalone dan rumput laut. Peran Ama juga tak terlalu dilirik oleh kebanyakan warga Jepang karena apa yang dilakukan para Ama adalah kegiatan rutin sehari-hari dan dianggap sudah biasa.

Adalah Kokichi Mikimoto, yang pada tahun 1893 berhasil mengembangkan usaha budi daya mutiara sebagai perhiasan di pulau kecil ini. Di sinilah kemudian peran Ama mulai menonjol. Mikimoto mulai mengandalkan jasa para Ama untuk mengumpulkan kerang-kerang mutiara. Semakin berkembangnya usaha Mikimoto, lambat laun sosok Ama mulai dilirik warga Jepang. Banyak kaum wanita mulai memberanikan dirinya untuk membelah kesunyian lautan dingin demi sebuah kerang mutiara. Sebelumnya, mutiara di Jepang hanya digunakan untuk keperluan medis dan kosmetik, bukan untuk perhiasan.

Patung Kokichi Mikimoto

Terlahir di sebuah keluarga yang menjalankan bisnis makanan mie, Kokichi mulai mengenal mutiara di masa remajanya dan langsung bercita-cita untuk menekuni produksi mutiara dengan tujuan unik yaitu ingin memuja para wanita melalui perhiasan di lehernya.

Mengawali usahanya sebagai pengusaha kerang mutiara kecil-kecilan, Kokichi harus berusaha keras bertahun-tahun sebelum akhirnya bisa benar-benar terjun ke bisnis mutiara. Usaha mutiaranya lalu dimulai di sebuah tempat bernama Pulau Aijima yang kemudian dikenal dengan nama Pearl Island.

Seiring dengan berkembangnya usaha mutiara oleh Kokichi Mikimoto, peranan Ama menjadi sangat penting dan menjadi salah satu profesi bergengsi di Toba City. Kegigihannya menggarap budaya mutiara menjadi usaha perhiasan terbaik di dunia menjadikan Mikimoto dinobatkan sebagai salah satu dari 10 Tokoh Penemu Penting di Jepang. Dan untuk menghormati segala usaha Kokichi Mikimoto, maka pada tahun 1953 dibangunlah sebuah patung Kokichi Mikimoto di Mikimoto Pearl Island.

Memang, nama Kokichi Mikimoto tak bisa lepas dari peran Ama dan begitu juga sebaliknya. Melalui keberanian para Ama, Mikimoto akhirnya menjadi besar. Dan melalui ketekunan Mikimoto, Ama akhirnya menjadi salah satu warisan budaya Jepang yang begitu dikagumi hingga kini.

Iklan

3 responses to “Wanita-Wanita Tangguh dari Mikimoto

  1. Well,

    Entah kenapa gue baca postingan ini inget nyokap gue :’)

    Gek kebayang kalo nyokap harus bekerja kaya gitu..tapi budaya ini emang unik,..

    Kalo di Indonesia ini gue jadi inget sama profesi ibu-ibu yang ngangkutin blerang di gunung gitu…Gak kalah ekstrim..

  2. Apa alasan-alasan kenapa perempuan itu menyelam karena sebenarnya lelaki lebih takut, tapi karena ego yang lebih besa mereka membuat rasioanlisasi seperti itu?

    Jadi ingat di salah satu negara Afrika, perempuan jalan di depan supaya mereka duluan yang mati bila terkena ranjau darat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s