Catatan Guan Yue Sang

Tapi budaya merantau kini hanya menyisakan Chikan sebagai deretan bangunan tua yang kusam.

Guan Yue Sang keluar dari ruangan kecilnya di sebuah perpustakaan di pojok Chikan, kawasan sunyi di Kaiping, Guangdong. Meski sudah berusia 75 tahun, penampakannya lebih muda dari usianya. Tak tampak helai putih di rambutnya. Saya sendiri menemui Guan Yue Sang untuk sekadar mengobrol tentang Chikan. Pria tua berjiwa muda itu menyambut saya dengan senyum lebar dan semangat dalam berkisah. Bicaranya tegas dan bersemangat sambil tak henti tersenyum. Sesekali ia bercanda dalam bahasa Canton dan tertawa lepas. Guan Yue Sang adalah salah seorang sesepuh warga Chikan. Guan mengawali kisah kota sunyi itu dengan sebuah buku berukuran besar dan berdebu yang diambil dari rak buku tuanya yang memenuhi ruang. Menurutnya, itu adalah buku catatan tentang warga Chikan. Semacam ensiklopedia yang mencatat data dan nyaris berupa kisah hidup warga setempat.

Guan Yue Sang

Nama Chikan memang jarang tercantum dalam buku-buku panduan wisata pada umumnya. Kawasan sunyi itu nyaris tak dilirik oleh operatur tur yang kerap membawa rombongan belanja di shopping street kawasan komersil Tiongkok. Wilayahnya tak luas, mirip deretan ruko yang ditinggal penyewanya. Bangunannya bergaya Tiongkok klasik dengan dinding yang tampak kusam. Kesan pertama saat tiba di Chikan adalah kusam dan sepi. Kawasan ini berlokasi di pinggir Sungai Tanjian yang nyaris kering dan berwarna cokelat. Hampir tak ada indahnya dipandang mata. Jangankan ada tur naik perahu yang menyusuri sungai dengan romantis, difoto pun sungai ini tak sedap di lensa. Tak banyak tampak aktivitas warga meski daerah ini berupa deretan pertokoan. Saya cuma melihat beberapa warga sepuh dengan dagangannya yang sepi pembeli dan beberapa pedagang yang tertidur di depan lapaknya saking sepinya.

Kisah di Balik Dinding Kusam

Tapi di balik tembok-tembok tua ini, Chikan menyimpan segudang sejarah. Daerah ini terkenal akan budaya rantau yang kini membawa warga Tiongkok tersebar di penjuru dunia dengan koloni China Town-nya.

Di masa lalu, Chikan sempat jadi sentra bisnis yang menjanjikan. Tapi budaya merantau yang menjangkiti anak-anak muda Kaiping kini hanya menyisakan Chikan sebagai deretan bangunan tua yang kusam. Mimpi-mimpi besar tentang negeri impian menyedot anak muda Chikan untuk merantau. Chikan pun beranjak sepi dan hanya dihuni kaum perempuan dan para jompo. Toko-toko mulai lengang tanpa hilir mudik pembeli. Pasar pun berangsur senyap. Tahun 1978, sutradara Hong Kong, Yuen Woo-Ping membangun kembali kejayaan Chikan dengan menjadikan lokasi syuting film Drunken Master yang dibintangi Jackie Chan. Saat itu, pemerintah memberi julukan Chikan sebagai Movie City.

Drunken Master sukses melanglang dunia dengan kungfu dahsyatnya. Namun sebutan berbau Hollywod ini ternyata tak berhasil mendongkrak popularitas wisata di Chikan. Kondisi di sini masih terlihat sepi. Kebesaran Movie City kini hanya bisa disaksikan dalam bentuk mading (majalah dinding) yang memajang foto-foto behind the scene film-film lawas serta beberapa poster film usang yang masih dipasang di beberapa bangunan yang pernah menjadi movie set. Tak ada pemandu wisata atau trem keliling kawasan macam Universal Studio. Hanya cuaca panas, gedung tua yang kusam dan kenangan masa lalu yang membisu.

Seorang nenek yang berjualan permen jahe menjajakan dagangannya di depan sebuah bangunan yang pernah dijadikan movie set tanpa ada turis yang membeli. Julukan yang berbau Amerika itu ternyata memang bukan jurus ampuh untuk membangun pariwisata di Tiongkok.

Lepas dari soal lokasi syuting, sebetulnya Chikan sudah memiliki sejarah panjang sendiri. Minimnya jumlah kaum muda di sini diperkirakan karena budaya rantau yang merebak. Hampir tak ada anak muda yang berniat menetap dan membangun Chikan. Para pemuda merantau dengan mimpi besar mendulang sukses sementara kaum tua dan wanita menjaga rumah. Sebagian perantau kembali membawa setumpuk harta, sebagian lagi menetap di tanah impian. Tak ada alokasi dana dari pemerintah untuk merawat kawasan Chikan yang sunyi dan kusam. Semua biaya perawatan dan pembangunan didapat dari saweran pundi-pundi kaum yang merantau.

Merantau ke Indonesia

Guan Yue Sang kembali menceritakan sepenggal sejarah daerah perantau itu di masa lalu. Menurutnya, Chikan dulunya adalah daerah persawahan yang subur sebelum disulap menjadi tembok-tembok pedagang. Para leluhur keluarga Guan kemudian datang dan membangun daerah ini menjadi sentra niaga. Guan Yue Sang sendiri tak ingat kapan pastinya leluhurnya pertama kali membangun Chikan. Yang jelas, dirinya adalah generasi keempat yang menempati daerah itu  dan kini keluarga besar Guan hanya berkumpul setahun sekali pada saat hari raya Imlek. Selain keluarga Guan, tercatat juga nama besar keluarga Sitou. Klan Sitou ini juga salah satu pelopor dalam membangun Chikan menjadi sentra bisnis yang kuat di masanya sebelum ditinggal pemudanya mendulang harta di negeri orang.

Guan Yue Sang, meski sudah memasuki usia uzur, tapi semangatnya dalam bercerita masih bergelora. Ia punya pekerjaan mulia yang dilakoninya setiap hari, yaitu mencatat aktivitas warganya yang keluar masuk untuk merantau.  Perpustakaan kecil di sebuah bangunan tua kini menjadi markasnya setiap hari. Hampir selama hidupnya ia mencatat semua kejadian penting di Chikan, termasuk siapa-siapa saja yang pergi merantau, ke negara mana, apa usahanya dan kapan mudik. Semuanya terangkum dalam buku besarnya yang berdebu.

Tercatat sekitar 75.000 warga Chikan pernah merantau ke 67 negara dan 20.000 di antaranya adalah keturunan keluarga Guan. Guang Chang Jiang juga tercatat sebagai warga Chikan yang pertama kali merantau ke Indonesia dan kembali ke Chikan pada 1958 sebagai saudagar sukses. Fakta unik lainnya juga ada di catatan Guan Yue Sang: Sitou Mei Seng adalah warga Chikan yang pernah merantau ke Indonesia dan menjadi salah satu anggota sekretariat Kepresidenan di masa Presiden Soekarno. Beliau juga sempat membantu sang proklamator itu dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung. Sayangnya jejak Sitou Mei Seng kini tak tercatat lagi di Chikan. Buku lusuh Guan Yue Sang tak lagi melacak di mana Sitou Mei Seng berada.

“Sitou Mei Seng tak pernah kembali,” kata Guan Yue Sang sambil menghela nafas. Senyumnya tiba-tiba hilang.

Catatan Guan Yue Sang seperti menyibak kembali sejarah yang terekam dalam dinding-dinding tua di Chikan. Sayangnya, kisah Sitou Mei Seng tampaknya menjadi bab penutup pertemuan saya dengan beliau hari itu. Guan Yue Sang tertawa senang sambil kembali bicara dalam bahasa Canton. Ia mengucapkan terima kasih atas ketertarikan saya pada isi buku tuanya, menutupnya dan menyimpannya kembali ke dalam rak tua. Menyatu dengan kisah-kisah lama yang terekam membisu di dinding-dinding tua Chikan.

Supported by:

AirAsia

Iklan

4 responses to “Catatan Guan Yue Sang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s