Ontel, Sang Pengulang Waktu

Sepeda tua ini ibarat mesin waktu yang mengulang zaman ke masa kolonial.

“Ini asli bikinan Belanda,” kata Cepi, pemuda yang biasa menjadi tukang ojek ontel di kawasan Kota Tua Jakarta. Tepatnya di Taman Fatahillah yang dulu bernama stadhuisplein. Ia menunjuk pada sebuah sepeda ontel antik berwarna hitam di sampingnya. Simbol merknya sudah terlihat kusam meski masih bisa terbaca. Locomotif – Amsterdam, begitu nama merk yang tertulis di bagian depan sepeda.

para pengojek Ontel

Cepi mengenakan topi koboy, kemeja, celana jins dan rompi biru bertuliskan “Ojek Ontel Wisata Kota Tua”. Menandakan bahwa ia adalah pengojek resmi di kawasan itu. Siang yang menyengat itu tak membuatnya patah semangat. Meski belum mendapat cukup pelanggan, ia tetap tersenyum lebar saat berbincang dengan saya. Pemuda humoris yang baru sekitar 6 bulan menjadi pengojek ontel ini bercerita panjang lebar mengenai kisah sepeda-sepeda antik ini. Mulai dari sulitnya mencari spare part, biaya perawatan, jenis-jenis onthel hingga kebanggan saat menaikinya.

Sepintas, sepeda ontel lebih terkesan sekumpulan besi tua atau sepeda antik yang sudah masuk dalam kategori kuno. Tak lagi dipandang dan cukup hanya dikoleksi. Namun di kawasan Kota Tua Jakarta, mereka adalah primadona. Entah kapan bermula dominasi ontel di kawasan ini, yang jelas kawasan Kota Tua tanpa ontel tentu terasa janggal.

sepeda-sepeda yang disewakan di Kota Tua

Sejarah panjang Kota Tua dan stadhuisplein tampaknya tak bisa lepas dari ontel-ontel ini. Kesan zaman kolonial yang melekat seolah enggan beranjak dari tempat ini. Waktu memang terus bergulir, tapi zaman kolonial tetap mengendap di sini, di mana ontel tetap menjadi primadona,

Locomotif – Amsterdam milik Cepi adalah bukti di mana ontel adalah primadona di kawasan ini. Bentuknya sederhana namun kelihatan kokoh meskipun di beberapa bagian seperti jeruji dan lampu, karat mulai menggrogoti. Entah sudah berapa puluh tahun umurnya, tapi yang jelas si Locomotif ini terlihat masih sekuat namanya. Beberapa pengunjung bergantian menyewa ontel untuk sekedar berkeliling.

Mencari penjual sepeda ini di Jakarta ternyata tak mudah. Banyak sepeda yang di beli dari luar kota seperti Semarang, Yogyakarta dan Kebumen. Untuk membawa ke Jakarta, si pembawa harus rela bersabar karena bagian-bagian sepeda harus dilepas satu-persatu dan kemudian dibungkus sebelum dimasukan ke dalam peti kemas.

Untuk berburu spare part sendiri, Cepi menyebut tempat-tempat yang paling sering dikunjunginya yaitu Toko Bintang Timur di kawasan Jembatan Lima dan beberapa toko di daerah Kali Mati. Namun begitu ternyata khusus untuk roda sepeda, kini tak ada lagi yang masih orisinil. Beberapa spare part seperti kotak lampu dan pedal juga termasuk langka dan dibanrol dengan harga yang lumayan tinggi.

Sepeda Ontel primadona di Kota Tua

Untuk menghilangkan penasaran, akhirnya saya menyewa si Locomotif milik Cepi. Sebagai penggemar sepeda, saya sendiri bisa merasakan kekokohan ontel buatan Belanda ini. Meski usianya sudah renta, saya tak merasakan sedikit pun getaran kerusakan terutama pada bagian pedal dan rantai. Ban sepeda yang berwarna putih dan tipis itu juga terlihat stabil dan tak ada satu bagian pun yang menandakan bahwa bannya kurang angin. Jangan dibandingkan dengan mountain bike yang canggih itu. Menaiki ontel sensasinya pasti beda. Sepeda tua ini ibarat mesin waktu yang mengulang zaman ke masa kolonial.

Saya tak bisa bayangkan apa jadinya kawasan ini tanpa hadirnya besi-besi antik ini. Locomotif milik Cepi ini hanyalah satu dari sekian ratus atau mungkin ribuan sepeda ontel yang setiap harinya mendominasi Kota Tua. Kawasan bersejarah yang tak bisa dipisahkan dengan  ontel. Waktu seolah mundur di stadhuisplein begitu saya mengayuh pedal Locomotif. Mengulang masa kejayaan kolonial di Batavia.

Iklan

2 responses to “Ontel, Sang Pengulang Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s