Ketika Dalang “Memberontak”

“Ini benar-benar produk perselingkuhan dalam seni,” jelas Slamet Gundono (mengutip Tempo-interaktif) sang dalang Wayang Suket dalam menanggapi sebuah pertunjukannya.

Tercetus pertama kali di tahun 1997, secara fisik, Wayang Suket (rumput, dalam bahasa Jawa) adalah wayang terbuat dari anyaman rumput. Meski sangat sederhana, namun Wayang Suket memiliki tingkat filosofi yang dalam.

Rumput melambangkan kesederhanaan. Di sisi lain, rumput juga memiliki arti kehidupan, yaitu meski letaknya di bawah dan selalu diinjak, rumput akan terus tumbuh. Rumput juga membutuhkan elemen lain untuk tetap tumbuh, seperti air, udara dan tanah. Artinya: wayang juga membutuhkan unsur lain untuk terus berkembang. Dulu, wayang dipentaskan untuk kalangan aristokrat istana. Namun seiring perkembangannya, wayang juga sering dipentaskan untuk warga pedesaan.

Slamet Gundono

Awalnya, Slamet kecil yang sering melalui pematang sawah di rumahnya di Tegal selalu melihat suket (rumput) yang dimanfaatkan para petani untuk dibentuk menjadi sosok wayang dan dimainkan untuk mengisi waktu. Kecintaan Slamet pada dunia wayang membawanya menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Seni Indonesia dengan Jurusan Seni Pedalangan.

Suatu ketika di Riau tahun 1997, Slamet Gundono diminta untuk mementaskan wayang. Namun tak ada gamelan dan wayang yang tersedia. Saat itulah spontanitas kenangan masa kecilnya akan suket kembali terngiang di benaknya. Menggunakan rumput yang diikat dan dibentuk sedemikian rupa dan menggunakan suara gamelan dari mulut, lahirlah saat itu pentas pertama Wayang Suket. Dari situlah keinginan Slamet Gundono untuk mendobrak pakem-pakem wayang kulit ini terus merebak.

Ia tidak berhenti mementaskan rumput-rumput ini sebagai sosok wayang. Tampilan Dalang diubahnya. Ia tak manggung dengan beskap Jawa dan blangkon. Tapi dengan ikat kepala dan mengenakan sarung. Kadang ia membanyol sesukanya dan membebaskan diri dari tokoh-tokoh wayang Purwa. Namanya menentang arus, Slamet Gundono tak jarang dihujani kritik.

Tapi kini, siapa sangka dari anyaman rumput yang selalu diinjak itu, Slamet Gundono justru sering menerima undangan mentas. Tak cuma di dalam negeri, ia juga didaulat untuk mentas di luar negeri. “Pemberontakan-nya” justru menyumbang khasanah baru dalam dunia pewayangan. Para musisi pengirinya sebagian mengenakan kaos oblong dengan celana jins belel. Tak ada para sesepuh yang tergabung dalam sanggarnya, tapi justru anak-anak muda yang gemar twitter-an, berambut jambul ala Tintin dan menggenggam iPhone.

Saya beruntung dapat menyaksikan aksi Slamet Gundono yang saat itu mengangkat lakon Suluk Ozon. Berbeda dengan pertunjukan wayang yang selama ini saya kenal, Slamet Gundono mengemas Wayang Suket dengan nuansa teater. Bukan layar besar (kelir) dan blencong (lampu penerang kelir) yang saya temui, tapi sebuah panggung mini di mana Slamet Gundono mendalangi lakonnya dengan komunikasi dua arah bersama pemain musiknya. Bukan cuma seperangkat gamelan, tapi juga gitar listrik, keyboard dan perkusi. Sebuah troli besi teronggok di samping panggung. Tak lazim memang, tapi itulah Slamet Gundono. Sebuah troli besi ternyata bisa ikut ambil bagian dalam pentasnya kali ini.

Pentas Suluk Ozon

Slamet Gundono memang tak ingin mengikuti alur. Ia ingin merdeka, bebas dalam penyampaian lakonnya. Suluk Ozon bahkan dikemas dengan gaya Lenong Betawi. Ia mengajak semua musisinya bercanda bahkan mengundang penonton untuk berjoget.

Jangan bayangkan perempuan dengan kebaya yang menyinden tembang Jawa. Pentas ini justru menghadirkan sosok wanita muda berpakaian tanktop dan celana pendek yang membacakan puisi-puisi cinta, mengajak penonton berjoget dan sesekali melakukan tarian-tarian teatrikal.

Secara umum, saya agak susah membedakan pentas teater dan wayang. Tapi yang jelas, Slamet Gundono telah berhasil membawa rumput-rumput ini ke level panggung sebagai medium kesenian berbasis wayang. Setidaknya, “pemberontakan” Gundono telah memberi warna baru pada dunia Wayang.

Iklan

4 responses to “Ketika Dalang “Memberontak”

  1. wah, saya baru tahu kalau ada wayang modern gini, menarik. tahunya dulu wayang itu ya cuma wayang kulit. waktu kecis sering diajak nonton sama bapak saya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s