Pak Raden

“Awali harimu dengan nyanyian” – Drs Suyadi / Pak Raden

Terobsesi dengan “sihir” Walt Disney, meraup ilmu animasi hingga ke Perancis hingga mendalami ilmu dalang adalah sedikit latar belakang sosok Drs Suyadi yang kemudian tenar dengan sebutan Pak Raden. Saya menjumpainya di kediaman milik saudaranya yang sederhana di bilangan Jakarta Barat. Ia tak mengenakan beskap dan blangkon khas Pak Raden, tapi suaranya saat bicara jelas membuat saya seperti kembali ke era 1980-an. Masa di mana saya selalu ternganga di depan televisi setiap Minggu pagi menyaksikan masterpiece pria kelahiran 28 November 1932 ini: Film Boneka Si Unyil

Kediamannya sangat sederhana. Jauh lebih sederhana dari nama besarnya yang sudah menggaung sejak era 1980-an. Meja kerja Drs Suyadi jauh dari kesan rapih. Tumpukan kertas bertebaran di semua sudut meja. Tulisan, sketsa dan setumpuk torehan kejeniusannya mengelilingi beberapa tokoh boneka yang dulu pernah diciptakannya.

Adalah G. Dwiapayana, sosok yang pertama kali menantang Drs Suyadi untuk berkarya dalam medium film animasi anak-anak. Keterbatasan sumber daya terutama teknologi membuat Drs Suyadi akhirnya membuat ide film boneka yang mengadopsi teknik wayang potehi. Nama “Si Unyil” tercetus dari ide kawannya, Kurnain Suhardiman.

“Saya ini dalang, nak” katanya tegas. Hobby melukis, menguasai ilmu dalang dan menyukai dunia anak-anak membuat Drs Suyadi kemudian kerap mendongeng sambil melukis di hadapan anak-anak kecil. Kemahirannya sempat membuatnya melanglang Amerika Serikat di tahun 1970 untuk ikut dalam festival mendongeng, jauh sebelum petualangan “Si Unyil” membius jutaan anak Indonesia.

“Tak ada istilah ‘warga keturunan’ dalam serial Si Unyil. Semuanya sama, warga Indonesia”, Tegas Drs Suyadi.

“Si Unyil” adalah wadah kejeniusan Drs Suyadi. Satu per satu mengalir karakter rekaannya seperti: Unyil, Ucrit, Usrok, Cuplis. Bahkan sosok-sosok antagonis seperti Pak Ogah dan Pak Raden. Kumis melintang, beskap Jawa, blangkon dan suara berat dengan gaya keturunan ningrat menjadi ciri yang paling diingat semua orang tentang Pak Raden. Ia adalah tokoh antagonis yang paling dinanti kemunculannya. Lelaki yang doyan menyanyi ini meraup masa jayanya di era 1980-an, sebelum era 1990-an membenamkan “Si Unyil” perlahan-lahan dengan menjamurnya TV swasta yang diboncengi budaya kartun impor.

“Si Unyil” pun tak terdengar lagi. Petualangan anak-anak Desa Sukamaju ini terlindas era kartun impor. Sampai pada April 2012, Drs Suyadi dengan sisa-sisa semangatnya kembali ke ranah layar kaca dengan menggugat rumah produksi yang dulu membesarkan namanya. Ia tak mendapatkan royalti sepeser pun dari karya ciptanya.

Drs Suyadi, Pak Raden, Si Unyil… Boleh jadi terlindas zaman. Tapi karya-karyanya tak boleh mati. Meski hanya secarik kertas berukuran kartu pos di antara setumpuk buku.

Iklan

8 responses to “Pak Raden

  1. selalu mengagumi pak raden yang cinta anak-anak, pintar melukis lagi.. tidak banyak orang seperti beliau..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s