Ketika Gareng Nge-Lenong

Sosok Punakawan (Gareng, Bagong, Petruk, Semar) dalam wayang kulit biasanya menjadi babak yang paling saya tunggu kemunculannya. Tapi kali ini ada yang berbeda. Gareng tampil tak biasa. Ia mengenakan kaus oblong, begitu juga dengan Bagong dan Petruk. Mereka tampil lebih kasual dan bahkan berbicara dengan dialek Betawi. Tak jauh beda dengan pementasan Lenong.

Sukar Pulung ternyata adalah dalang di balik semua ini. Menjadi Dalang wayang kulit Betawi menurutnya adalah tradisi keluarga. Meski sudah cukup sulit ditemui, tapi wayang kulit Betawi kini masih bertahan di daerah pinggiran Jakarta seperti Cibubur dan Bekasi.

Wayang kulit Betawi mengusung lakon karangan, meski tokoh-tokohnya menggunakan sosok asli dari kisah Ramayana dan Mahabharata. Jadi, jangan kaget bila menemukan Arjuna bicara dalam dialek Betawi yang khas atau Gareng bergurau dengan gaya Lenong. Berangkat dari karakter orang Betawi yang suka ceplas-ceplos, dialog yang dipertontonkan juga ceplas-ceplos.

Di sela-sela pementasan, dalang juga sering melempar humor-humor khas Lenong. Kadang diselingi dengan lagu-lagu khas Betawi atau bahkan lagu dangdut. Gelak tawa dan celetukan penonton kerap terdengar selama Sukar Pulung mementaskan Wayang Kulit Betawi selama satu setengah jam.

Iringan musik Wayang Kulit Betawi memang sebagian besar masih menggunakan perangkat gamelan Sunda atau gambang kromong. Tapi saat menyaksikan pentasnya, saya melihat ada juga gitar listrik yang dimainkan. Tak ada informasi yang jelas mengapa musik pengiring wayang ini didominasi oleh musik Sunda. Menurut Sukar Pulung, itu sudah tradisi dari jaman dahulu.

Sejarah dari Wayang Kulit Betawi konon dimulai sekitar tahun 1628 dan 1629. Saat itu Sultan Agung Anyakrakusuma mengerahkan prajurit Mataram untuk menggempur Batavia. Sebagian tentaranya tercecer di bagian selatan dan tenggara kota dan akhirnya menetap. Mereka inilah yang kemudian meneruskan budaya wayang kulit Purwa yang kemudian bercampur dengan adat Betawi.

Meski kini kian tergerus modernisasi, tapi kehadiran wayang ini masih dinanti warganya. Terutama saat hajatan dan pesta 17 Agustusan. Dalang Sukar Pulung bahkan mengakui dalam sebulan, beliau bisa pentas sepuluh kali dengan bayaran maksimal lima juta rupiah untuk sekali pentas semalam suntuk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s