Sejit Kongco: Pesta Para Dewa

sebuah pesta yang dihadiri oleh hampir seratus dewa lainnya beserta para pengikutnya.

Bayangkan sebuah pesta ulang tahun, namun tak ada tiup lilin atau potong tumpeng. Yang ada justru sebuah kirab yang diikuti hampir seribu peserta dan disaksikan oleh ribuan warga ibukota. Dan yang paling menghebohkan adalah sebuah pesta yang dihadiri oleh hampir seratus dewa lainnya beserta para pengikutnya.

Klenteng Bio Fat Cu Kung yang terletak di kawasan Petak Sembilan, Glodok kali ini mendapat kesempatan untuk menggelar Sejit Kongco atau pestanya para dewa. Acara yang diberi tajuk Sejit Kongco: Yang Mulia Kongco Fat Cu Kung ini memiliki kisah yang unik ternyata. Nico, ketua panitia acara, menjelaskan bagaimana sebuah proses acara Sejit Kongco diawali.

“Awalnya kami harus so-pue dulu dengan para dewa,” jelas Nico.

So-pue maksudnya adalah meminta izin, yaitu dengan ritual doa dan melempar dua buah lempengan yang terbuat dari kayu berwarna merah berbentuk agak lonjong dan cembung. Kedua lempeng tersebut di lempar dan apabila keduanya jatuh dalam posisi yang sama berarti dewa mengizinkan untuk diadakan perayaan Sejit Kongco. Tapi bila salah satu lempengan menghadap ke atas, maka berarti dewa tak berkenan untuk diadakan perayaan.

Sama seperti yang dilakukan Nico di vihara Bio Fat Cu Kung, para peserta yang hadir pun harus melakukan so-pue atau minta izin pada dewa utamanya masing-masing. Berhubung acara Sejit Kongco ini adalah perayaan berupa kirab sambil mengusung patung dewa di atas Joli (tandu), jadi sudah selayaknya mereka harus minta izin dulu apakah sang dewa bersedia dikirab atau tidak. Prosesnya pun sama, yaitu dengan doa dan dua buah lempengan kayu yang dilemparkan.

Sebagai tuan rumah, Bio Fat Cu Kung wajib menjamu para peserta, yaitu patung para dewa yang akan mengikuti kirab. Didahului dengan adanya penerimaan kiem sien (patung dewa) dari seluruh peserta yang datang secara bergantian, acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama di depan kiem sien yang sudah dikumpulkan. Karpet merah digelar dari pintu gerbang hingga ke ruang doa dimana para kiem sien disimpan. Mulai dari anak kecil, kaum muda hingga orang-orang tua nampak bergiliran memasuki area klenteng yang tersembunyi di balik gang sempit ini.

Kisah sosok Fat Cu Kung sendiri berawal dari Dinasti Song (960 – 1279M). Dikisahkan, tiga orang ksatria yang bermarga Zhang, Xiao dan Hong sedang bertarung dengan seekor siluman ular yang mengacau masyarakat di daerah Yong Chun, tepatnya di Telaga 9 Naga. Karena kehebatan ilmu tarung sang siluman ular, akhirnya Hong dan Xiao tewas dalm pertempuran. Beruntung Zhang dapat melarikan diri ke sebuah gua pertapaan. Di sini, Zhang kemudian memohon bantuan pada Lu Dong Bin, salah satu dewa yang terkenal karena kesaktiannya.

Lu Dong Bin akhirnya berkenan meminjamkan pedang pusakanya pada Zhang untuk berarung melawan siluman ular. Dan karena kehebatan pedang inilah, akhirnya siluman ular dapat dikalahkan. Sejak itu, masyarakat Yong Chun mendirikan sebuah klenteng di gua pertapaan Tao Yuang Dong sebagai rasa hormat pada Zhang. Dari sini kemudian pemujaan kepada Zhang yang memiliki nama lengkap Zhang Gong Shen Jun dimulai. Dan karena kesaktiannya, masyarakat menyebutnya dengan nama Fa Zhu Gong. Di Indonesia kemudian dikenal dengan nama Fat Cu Kung. Jangan mengira kiem sin Fat Cu Kung ini gagah dan besar. Ukurannya kira-kira hanya setinggi sepuluh sentimeter dan berwarna hitam pekat.

Menjelang dilaksanakan kirab, para umat tidak diperkenankan lagi berdoa di dalam klenteng. Ini karena para kiem sin harus diberi jalan untuk dibawa keluar menuju joli (tandu). Satu persatu peserta dipanggil sesuai dengan kiem sin-nya untuk kemudian berdoa dulu untuk menghormati Yang Mulia Kongco Fat Cu Kung dan diarak menuju joli dengan pengawalan petugas yang membawa Ling Kie (bendera kecil) dan Hio Lo (tempat dupa). Barongsai dan Liong melakukan penghormatan terlebih dahulu pada para kiem sin sebelum pentas selama kirab.

Sebagai bentuk penghormatan, warga sekitar yang berada di sepanjang jalan tempat lewatnya kiem sin melekatkan kedua telapak tangan mereka di depan dada seperti orang berdoa. Beberapa ada yang berusaha memegang kiem sin sebagai harapan akan menerima berkah yang melimpah. 75 kiem sin siang itu siap untuk diarak guna turut memeriahkan Sejit Yang Mulia Kongco Fat Cu Kung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s