Ketika Wayang Goyang Ngebor

Tak ada sosok Arjuna, Puntadewa, Kumbakarna, Yudistira atau Rama

Jangan bayangkan tokoh-tokoh Ramayana atau Mahabharata berjejer di samping dalang. Jangan pula bayangkan alunan gamelan dengan sindennya. Wayang Kampung Sebelah besutan Jlitheng Suparman atau Ki Jlitheng ini benar-benar menampilkan pertunjukan wayang dengan pemahaman masa kini. Penyampaiannya sangat sederhana, tidak mengusung filosofi tingkat tinggi macam wayang kulit Purwa yang selama ini dikenal banyak orang. Tak ada sosok Arjuna, Puntadewa, Kumbakarna, Yudistira atau Rama. Yang ada justru Kampret, Karyo, Lurah Somad, Hansip Sodrun, Silvy dan bahkan sosok-sosok plesetan selebritis seperti Rhoma Irama dan Inul Daratista.

Dibentuk pertama kali tahun 2000 di Solo, Wayang Kampung Sebelah (WKS) adalah wadah dari para seniman wayang yang berusaha untuk mendobrak jurang antara seni wayang itu sendiri dan realita bahwa wayang kini banyak dilupakan anak muda. Lupakan alunan gamelan sebagai pengiring. Di pentas ini yang ada justru iringan band dengan peralatan modern seperti drum, gitar listrik, bass dan saksofon. Lagu yang dipentaskan juga bukan langgam (tembang) Jawa, tapi lagu karya cipta para personil WKS sendiri. Tujuannya agar sesuai dengan karakter cerita yang dibawakan. Sesekali, mereka juga melantunkan lagu-lagu yang sedang populer baik lokal maupun lagu barat.

Dalam mementaskan lakon, WKS tak terpatok pada kisah-kisah Mahabarata dan Ramayana. Ki Jlitheng, dalang WKS justru mendobrak itu semua dengan kisah-kisah masa kini yang lebih mengena di masyarakat. Dengan lama pertunjukan sekitar dua hingga tiga jam, WKS menjamin penontonnya bakal betah dan panen gelak tawa. Itu karena Ki Jlitheng mengemas kisah-kisahnya yang menyangkut persoalan sosial di masyarakat ini dengan bungkus komedi yang cerdas namun ringan.

Saat saya menyaksikan WKS, penontonnya terdiri dari semua kalangan. Mulai dari anak kecil, remaja, orang dewasa dan orang tua. Pertununjukan dibuka dengan lagu-lagu yang dibawakan ala Campur Sari. Mengusung lakon Tragedi Jual Beli Mimpi, Ki Jlitheng langsung mengocok perut penonton dengan lawakan cerdas dan segar sebagai wujud kritiknya terhadap kehidupan masyarakat urban yang terpinggirkan. Hal-hal kecil mulai dari soal Operasi Yustisi, urbanisasi, social media, subsidi BBM, prostitusi hingga soal reshuffle kabinet tak luput dari sasaran kritinya.

“Yustisi itu sakit apa? Kok dioperasi?” celetuk Ki Jlitheng yang disambut tawa penonton.

Di tengah pertunjukan, Ki Jlitheng juga menampilkan tokoh-tokohnya yang membawakan lagu-lagu populer. Inul Daratista, contohnya, ditampilkan dengan sosok wayang perempuan bertubuh seksi lengkap dengan gaya bicara seksi dan goyang ngebor-nya yang sensasional. Tak pelak lagi, ini kembali mengocok perut para penonton.

Mengangkat tema-tema populer seperti ini adalah salah satu cara agar masyarakat lebih mengerti pesan yang ingin disampaikan atau setidaknya aspirasi masyrakat bawah menjadi terwakilkan tanpa harus terikat dengan segala pakem yang membelunggu. Apalagi dibawakan dengan humor yang cerdas dan ringan, penonton akan mudah menangkap isi cerita.

Menyaksikan WKS memang jauh berbeda dengan menyaksikan wayang kulit. “Roh pertunjukan itu ada di penonton”, jelas Ki Jlitheng yang selalu mengundang penontonnya untuk mendekat ke panggung. Salah satu keunikan WKS adalah adanya interaksi antara dalang, pemain dan penonton. Layaknya menyaksikan Dagelan Mataram dan Lenong Betawi, penonton juga ikut menimpali dialog sang dalang.

Iklan

2 responses to “Ketika Wayang Goyang Ngebor

  1. Ow, ini dari Solo ya om?! Selalu ngakak saat nonton wayang ini di talkshow-nya Tukul, hahaha… Goyangan wayangnya super heboh!! Bisa-bisanya bikin wayang bisa goyang heboh kayak gitu, wkwkwk… :’))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s