Berburu Ombak Krui

Surfing is very much like making love. It always feels good, no matter how many times you’ve done it”, -Paul Strautch, peselancar legendaris di tahun 1960-an

Strautch sukses meracuni pikiran saya dengan sepenggal kalimat yang membuat saya penasaran dengan dunia peselancar. Saya memang tidak mengambil kursus untuk mengejar ombak dan kemudian menungganginya dalam sebilah papan selancar. Tapi perjalanan saya menuju Krui setidaknya memberi sedikit gambaran tentang salah satu kota kecil di barat propinsi Lampung yang tenar dengan ombaknya ini.

Di kalangan turis domestik, Krui memang nyaris tak terdengar namanya. Urusan wisata ombak, ia masih kalah populer dibanding Bali, Lombok atau Mentawai. Tapi Krui mengejutkan saya sesaat setelah saya memasuki kota kecil ini.

Krui sebetulnya sudah tenar sejak zaman kolonial dulu. Awalnya, Krui adalah sebuah desa nelayan yang sangat sibuk. Sejarah mencatat bahwa Gubernur Jendral Raffles pernah mengunjungi Krui di sekitar tahun 1816. Kota yang dulu terkenal sebagai kota pelabuhan dan pemasok utama kebutuhan pokok ke daerah Bengkulu ini dianugerahi kekayaan lautnya yang melimpah. Hasil laut yang terkenal di Krui adalah ikan marlin. Ikan yang kini menjadi salah satu habitat yang dilindungi itu banyak berkeliaran di sekitar perairan Krui. Dan karena lokasinya yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, maka Krui juga dimanjakan dengan gelombang laut yang menantang. Sekarang, ketika wisatawan lokal nyaris tak mengenal Krui, dunia justru menjadikan daerah ini sebagai daerah wajib kunjung. Khususnya bagi para pencari ombak.

Empat buah speaker di dalam bus yang mendendangkan irama disco dangdut memang membuat saya ingin cepat segera sampai di Krui. Kota ini cukup sepi. Hanya ada satu ruas jalan utama yang tak lebar dengan toko, bengkel dan hotel-hotel sederhana di sisinya. Pemandangan laut bersembunyi di sebelah kiri saya di antara pepohonan kelapa. Di sela-selanya terdapat jalan-jalan kecil yang konon di ujungnya dipenuhi penginapan khusus peselancar milik orang-orang asing yang tergila-gila mengejar ombak. Tak sembarang orang bisa menginap di sana.

Di beberapa sudut jalan, turis bule terlihat menenteng papan selancar. Para peselancar! Saya tak habis pikir dengan kaum ini. Hampir di seluruh sudut dunia ini mereka rela datang hanya demi menunggangi ombak.

Sebelum memasuki Krui, beberapa pantai wisata memang saya temui. Diantaranya adalah pantai Mandiri dan Tanjung Setia yang jaraknya sekitar 20 km dari Krui. Dari brosur yang saya baca, pantai-pantai ini lebih sering dikunjungi peselancar bule selain karena ombaknya yang menantang, daerah-daerah ini juga relatif lebih sepi dibanding pusat keramaian di Krui. Pantai utama di Krui adalah Labuhan Jukung, Werda dan Walur.

Di siang hari, semakin banyak peselancar yang saya jumpai di sepanjang pantai. Ombak saya perhatikan juga semakin tinggi dan bergulung-gulung liar. Beberapa peselancar kadang bersusah payah untuk mengejar sebelum akhirnya digulung ombak. Semakin besar ombak yang datang, semakin penasaran para peselancar. Mungkin itu sebabnya orang-orang ini betah seharian penuh berada di bawah terik panas sambil mencari-cari ombak. Berselancar ternyata menyebabkan kecanduan! Tak heran jika sekitar seratus ribu peselancar asing tiap tahunnya datang ke Krui.

Meski di mata internasional Krui dikenal sebagai surfing spot, tapi maskot kota ini bukanlah papan selancar. Rentang sejarah telah membuktikan bahwa Krui dulu berawal dari sebuah kota pelabuhan yang kaya akan hasil laut. Bukan selancar!

Di tengah kota terdapat patung ikan besar sebagai monumen dan simbol kota. Dari bentuknya yang mempunyai moncong seperti tombak, maskot ini mirip ikan marlin. Namun menurut beberapa warga lokal, itu adalah ikan layaran (sailfish) meski ada juga yang mengakui bahwa itu ikan marlin. Menurut informasi yang saya baca, Krui merupakan daerah penghasil ikan marlin terbesar di Sumatera. Ini disebabkan karena perairan Samudera Hindia adalah tempat hunian ikan black marlin.

Soal ikan marlin ini sebetulnya telah menjadi dilema. Sementara pemerintah setempat begitu antusias soal produksi ikan marlin di Krui, di dunia internasional sebetulnya marlin adalah ikan yang dilindungi. Dan itu pula mungkin sebabnya IGFA (International Game Fish Association) pernah memasukkan Indonesia ke dalam daftar hitam karena kontribusi Krui terhadap penjualan daging marlin di pasar internasional.

Sementara pergelutan dilema soal marlin masih berlangsung, tidak dengan para peselancar yang kebanyakan memiliki surfcamp sendiri di Krui. Bulan April hingga November adalah masa panen bagi para pencari ombak ini. Kisah dari warga lokal bahkan menyatakan bahwa ombak bisa mencapai ketinggian tujuh meter di bulan-bulan itu.

Iklan

One response to “Berburu Ombak Krui

  1. Saya tertarik dengan informasi mengenai budaya diatas. Indonesia memang Negeri yang memiliki keanekaragaman budaya yang memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing.Selain itu, tulisan diatas sangat menarik untuk dipelajari yang dapat menambah wawasan kita mengenai kebudayaan di lndonesia. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Explore Indonesia yang bisa anda kunjungi di Explore Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s