Jalan-jalan ke Kampung Ninja

Ninja pantang dengan bau badan. Aroma tubuh yang menyengat diyakini dapat membuat Ninja terlacak keberadaannya jika sedang menyusup.

Iga Ueno adalah kota kecil di Mie prefecture, Jepang. Namanya memang masih asing di telinga saya. Tapi sejarah yang disimpannya sudah sangat populer di belahan dunia mana pun. Kota kecil ini menyimpan sejarah rahasia kekuatan para ksatria di masa lampau. Sebuah tradisi turun-temurun yang membuat satuan intelijen mana pun merinding saat itu. Ninja, sosok ksatria berpakaian serba gelap, misterius dan mematikan konon memulai sejarahnya dari Iga Ueno.

Ninja Musem dalah tujuan saya hari itu. Ia berlokasi di Iga Ryu, sebuah lokasi di perbukitan yang cukup rindang karena banyak ditumbuhi pepohonan besar. Sejarah mencatat bahwa dahulu ada dua desa, Iga Ryu dan Koga Ryu, yang menjadi pusat lahirnya tradisi Ninja. Ninja Museum yang dikenal dengan nama House of Ninja inilah yang dahulu diyakini sebagai “sarang Ninja”.

Sosok Ninja sebetulnya bukanlah mitos super hero yang kini sering digambarkan di media elektronik. Ninja lahir di era feodal kala Jepang dilanda perang saudara. Tugasnya adalah memata-matai lawan dan seringkali harus berjibaku hingga ajal. Jadi, Ninja bukanlah lahir dari perguruan bela diri macam kungfu shaolin. Ia lahir dari para bangsawan yang bersaing dengan bangsawan lainnya. Lebih mirip para algojo.

Ilmu bela diri Ninja dikenal dengan sebutan Ninjutsu. Tak cuma sekedar mempraktekkan gerakan-gerakan mematikan, Ninjutsu juga mempelajari hal teknis seperti medis (untuk meracik racun), meracik bahan peledak, persenjataan, astronomi, penyamaran hingga psikologi. Dengan semua ilmu itu, Ninja bisa digolongkan sebagai satuan intelijen paling mematikan di zamannya.

Ada lima hal yang harus dikuasai oleh seorang Ninja. Pertama adalah diet ketat di mana mereka hanya boleh makan sayuran dan tofu. Kedua, Ninja harus melatih fisiknya setiap hari tanpa mengenal waktu libur. Ketiga, memiliki pikiran dan tekad yang kuat sehingga tak mudah tergoda oleh hal lain. Keempat, menguasai ilmu medis agar bisa menyembuhkan luka setelah melakukan pertarungan dan menguasai ilmu meracik racun. Kelima, Ninja pantang dengan bau badan. Aroma tubuh yang menyengat diyakini dapat membuat Ninja terlacak keberadaannya jika sedang menyusup.

Di Museum Ninja di Iga Ryu, saya juga menyimak beberapa gadget Ninja yang lebih mirip perlengkapan ala James Bond. Beberapa di antaranya adalah Shuriken (pisau lempar berbentuk bintang), waraji (sandal yang terbuat dari akar agar terasa ringan), tabi (sepatu khusus mirip kaus kaki agar tak menimbulkan suara saat melangkah), mizugumo (sepatu khusus untuk berjalan di air), kunai (alat pelubang tembok), shinobi shozoku (pakaian Ninja yang ringan). Meski Ninja identik dengan pakaian serba gelap, tapi sebetulnya tak ada pakem khusus soal warna dan model pakaian.

Ninja dalam kesehariannya adalah warga biasa. Mereka bekerja sebagai petani, pedagang atau biksu. Tapi di malam hari, mereka mengemban misi yang mematikan. Kalau di siang hari mereka bercocok tanam layaknya petani biasa, di malam hari bukan tak mungkin mereka menjelma menjadi salah satu pasukan paling mematikan di dunia.

Iga-ryu kini memang hanya berupa kawasan wisata dengan Museum Ninja sebagai objek utamanya. Daerah di sekitarnya dikelilingi bukit dan hutan, meski saya masih melihat beberapa rumah penduduk di luar kawasan museum.

Kehebatan ilmu bertarung Ninja kini hanya tinggal sejarah di Jepang. Tak ada lagi ksatria berpakaian serba hitam yang menyelinap di malam hari untuk menghabisi lawan-lawannya. Iga-ryu juga kini hanya berfungsi sebagai pengingat kembali bahwa Jepang dahulu pernah memiliki para ksatria dengan ilmu bertempur dan intelijen tingkat tinggi yang bernama Ninja.

Iklan

3 responses to “Jalan-jalan ke Kampung Ninja

  1. Ping-balik: The Charming Samurai Village, Kakunodate - @catperku·

  2. Ping-balik: Iga Ueno: The City Of Ninjas | Japanista·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s