Karinding, Musik “Pengusir Serangga”

Suara Karinding yang unik diyakini memiliki semacam getaran yang dibenci oleh hama atau serangga.

Saya belum pernah mendengar nama Karinding, hingga saat sekelompok anak muda yang sedang “mengamen” di pinggiran jalan Braga, Bandung, menarik perhatian saya. Jumlah mereka sekitar dua puluh orang, memakai ikat kepala dan memainkan instrumen khas tradisional Sunda. Ada yang memainkan suling, gendang, celepung dan sebuah instrumen sederhana yang dimainkan di mulut sambil disentuh berkali-kali oleh jari. Suaranya mengingatkan saya akan instrumen musik orang Aborigin di benua Kangguru.

“Ini namanya Karinding,” jelas Kang Aris. Pria muda pimpinan kelompok musik inilah yang kemudian menceritakan kisahnya pada saya soal instrumen Karinding. Berawal dari sekedar suka akan seni musik, Kang Aris yang kini juga berprofresi sebagai guru kesenian di sebuah Sekolah Dasar di daerah Kebon Gedang ini kini sukses mengumpulkan anak-anak Karang Taruna di daerahnya untuk membentuk sebuah grup musik Karinding.

Bentuk Karinding memang sederhana. Hanya seperti sebilah bambu yang dilubangi memanjang. Ukurannya tak lebih besar dari sebatang cerutu dan berbentuk pipih. Tapi Karinding ternyata sudah dikenal masyarakat Sunda sejak sekitar lima ratus tahun lalu. Kang Aris juga mengakui bahwa Karinding tak cuma terdapat di Sunda, tapi juga di berbagai daerah seperti Bali dan Papua.

Memainkan Karinding yaitu dengan menempelkannya di mulut lalu dipukul ujungnya dengan jari. Hanya permainan rongga mulut dan getaran bambu yang didapat dari pukulan-pukulan kecil di ujungnya. Tak ada nada-nada khusus yang dihasilkan, cuma bunyi yang unik dan terkesan magis.

Awalnya, instrumen bambu ini bukanlah sebuah alat musik. Tapi alat yang digunakan para petani untuk mengusir hama di sawah. Suara Karinding yang unik diyakini memiliki semacam getaran yang dibenci oleh hama atau serangga. Semacam getaran low decibel yang lebih dikenal dengan ultrasonik.

Jadi Karinding sebetulnya bukan diciptakan sebagai alat musik tapi sebagai semacam pengusir hama. Namun lambat laun selain digunakan untuk mengusir hama, Karinding juga dimainkan saat acara-acara khusus pertanian di desa. Seperti upacara panen atau musim tanam. Bahkan saat kawinan atau penyambutan tokoh penting seperti Pemuka Adat. Melihat penampilan Kang Aris dengan kelompoknya, tentu saja saya tak menyangka bahwa musik ini diciptakan dari sebuah “obat anti hama” di sawah.

Lahir dalam sebuah keluarga seniman, Kang Aris juga mewarisi darah seni. Karinding yang pertama kali diberikan oleh orang tuanya menjadi semacam amanah buat dirinya untuk harus ia jaga dan lestarikan. Orang tuanya hanya berpesan untuk melestarikan Karinding yang sudah hampir punah dan mengembangkannya agar semua masyarakat Sunda tidak melupakan alat itu.

Kecintaannya pada dunia seni musik, membuat pemuda murah senyum ini memberanikan diri untuk melakukan eksperimen antara musik modern dan Karinding. Setelah mencoba sendiri, Kang Aris merasa Karinding bisa disesuaikan dengan musik apa pun termasuk musik-musik modern saat ini. Tapi perjalanan Kang Aris untuk menghimpun kepedulian warga ternyata tak mulus.

Sedikit kilas balik, Kang Aris mengakui betapa sulitnya waktu menghimpun anak-anak muda di daerahnya untuk membentuk sebuah komunitas musik Karinding. Karinding saat itu kalah populer dengan musik yang lain dan dianggap tidak menarik. Bahkan kalah populer dengan musik tradisional sendiri macam angklung. Tapi perlahan, dengan jurus menyandingkan Karinding bersama musik pop, akhirnya minat dari kalngan anak muda timbul juga. Selain itu, Karinding juga dianggap sebagai sebuah simbol khas Bandung.

Karena didirikan di daerah Cibangkong, akhirnya Kang Aris bekerja sama dengan Karang Taruna Cibangkong dalam menghimpun anggotanya. Tahun 2010 akhirnya komunitas ini resmi berdiri dengan nama Karsiwa (Karinding Sisi Wahangan; artinya: Karinding pinggir kali). Nama tersebut diilhami dari lokasi mereka latihan yang letaknya di pinggir kali Cikapundung. Jumlah anggotanya kini hampir empat pulu orang. Tak ada syarat khusus atau iuran wajib untuk bergabung di Karsiwa. Semuanya hanya bermodal kecintaan dan keinginan untuk melestarikan Karinding.

“Kita sekarang justru bangga dengan Karinding,” aku Ferry, salah satu anggota Kariswa.

Tapi eksperimen Karsiwa memadukan Karinding dengan musik modern tetap menuai penolakan. Sebagian anak-anak muda masih tak menyukainya karena Karinding dianggap sudah ketinggalan zaman. Menerima kritik dari para seniman senior pun pernah dialami Kang Aris. Tapi sebagian besar seniman justru mendukung usahanya. Tantangan terbesar diakui Aris saat sedang pentas di hadapan orang tua. Mereka sering bersikap kritis soal penggabungan Karinding dengan musik modern.

Satu hal yang sudah sukses dilakukan Kang Aris adalah berkolaborasi dengan musik Marawis. Menurutnya dentuman Marawis yang Islami sangat cocok berpadu dengan suara magis dari Karinding. Kebetulan, karena di kediaman Kang Aris juga terdapat sanggar Marawis, jadi musik religi ini juga tak luput dari eksperimennya.

Dalam dua tahun, anggota Karsiwa terus bertambah. Undangan pentas di sekitar Bandung mulai mengalir. Bahkan hari Minggu adalah agenda rutin mereka untuk “ngamen” di Tugu Bandung Lautan Api. Di situ, anak-anak Karsiwa menggelar aksinya melantunkan lagu-lagu tradisional dan modern dengan Karinding sebagai bintangnya. Selain untuk melestarikan Karinding, aksi “ngamen” secara rutin ini ternyata juga ampuh untuk mengisi kas kelompok ini. Saat ini bahkan Kang Aris bersama Karsiwa juga pernah pentas di sebuah stasiun TV Nasional.

Meski berawal dari salah satu alat pertanian, Karinding saat ini jelas jauh bertransformasi. Senjata pengusir hama itu sekarang menjadi salah satu hiburan tradisional yang diminati banyak orang, termasuk anak muda. Karsiwa, tidak terdiri dari seniman-seniman murni berambut gondrong. Tapi anak-anak remaja yang tampil trendi. Memakai kaca mata hitam, baju kaos, rambut bergaya K-Pop dan bersepatu warna-warni. Beberapa dari mereka bahkan ber-tattoo.

Karsiwa tampil bersemangat sepanjang hari itu. Mereka mengiringi Karinding dengan berbagai alat musik tradisional Sunda seperti angklung, suling, gendang dan celempung. Kadang mereka berjoget dan bernyanyi. Penonton semakin membludak, diantaranya bahkan ikut berjoget. Senjata pengusir serangga itu kini menjadi senjata ampuh untuk menghibur warga.

Iklan

9 responses to “Karinding, Musik “Pengusir Serangga”

  1. Huwoow kalimat terakhirnya nendang banget om! Dari awal pun gaya tuturnya mengalir, informasi soal senjata hama bahkan baru saya ketahui. Seratur buat mahaguru 😀

    *Oia om, kalo low decibel itu bukankah seharusnya infrasonic?

  2. Mas Yudasmoro terima kasih atas pemberitaannya Insya Allah kalau tidak ada halangan kami (Karsiwa) akan kembali mentas pada acara KPID Award di Hotel Horison Bandung pada tanggal 16 November 2012,sedianya acara tersebut akan dihadiri juga oleh Gubernur Jawa Barat Bpk.Ahmad Heryawan,jika ada kesempatan kami persilahkan mas yudasmoro utk hadir.
    *Untuk Mas efeneer : Karat memang pelopor karinding yg dikolaborasikan dengan alat musik modern dan juga Karat genre mereka lebih ke music undergorund dengan lyric-lyric yg sarat dengan kritik-kritik sosial…sedangkan Karsiwa genre musiknya lebih condong ke Pop Sunda dengan lyric dan harmonisasi alat musiknya lebih ceria dan diselipi dengan banyolan-banyolan segar…tapi harus diakui juga bahwa Karat adalah salah satu rujukan Karsiwa dalam mengembangkan musik tradisional karinding.Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s