Jejak Islam di Guangzhou

Sebuah Al Quran berukuran besar terbuat dari kayu pemberian mantan Presiden Republik Indonesia, B.J Habibie ikut dipajang di sini

Musa Sidiq, Imam Mesjid Guang Ta di Guangzhou, China.

“Assalamuallaikum”, sapa  Musa Sidiq saat menyambut saya di pintu masuk Masjid Guangta. Musa Sidiq adalah imam besar Masjid Guangta di Guangzhou. Terlepas dari posisinya sebagai pemimpin tertinggi masjid, Musa Sidiq justru tampil membumi. Wajahnya sumringah dihiasi senyum lebar yang ramah. Ia berpakaian layaknya kaum Muslim di tanah air. Mengenakan kemeja terang, sarungan dan berpeci. Tapi tampaknya ia berani “melawan” gambaran umum tentang imam masjid pada umumnya, setidaknya di tanah air. Musa Sidiq sama sekali tak berjenggot, wajahnya bersih dan selalu tersenyum saat bicara. 

Masjid Guangta adalah satu-satunya masjid di kota Guangzhou. Letaknya di kawasan kota tua yang bernama Guang Ta Road. Bahkan menurut informasi yang saya terima di masjid, ini adalah masjid pertama yang dibangun di Tiongkok. Sejarah mencatat bahwa Saad Bin Abi Waqqas, paman dari Nabi Muhammad SAW pernah menginjakkan kaki di negeri Tiongkok, tepatnya di Guangzhou pada sekitar 627 Masehi. Dan atas prakarsa beliaulah masjid pertama di Tiongkok ini dibangun.

Berbeda dengan pengumpulan sodaqoh melalui kotak amal yang disebar pada jemaah, di Guang Ta petugas Mesjid mengumpulkannya di depan gerbang dengan menggunakan sajadah.

Musa Sidiq mengajak saya berkeliling masjid seluas 2.000 meter persegi ini. Berbeda dengan masjid di Indonesia, budaya Tiongkok begitu kental di sini. Terbukti dengan desain bangunan yang lebih menyerupai kelenteng ketimbang sebuah masjid. Jalan masuk ke ruang utama pun agak panjang dengan koridor yang dibatasi dinding bata merah.

Di masa lalu, Islam membumi di Tiongkok dengan melebur bersama budaya lokal. Sekilas saya teringat dengan Masjid Kudus di Jawa Tengah yang bergaya pura Hindu. “Masjid ini beda dengan masjid biasa. Arsitekturnya bergaya budaya kami, China,” kata Musa Sidiq sambil tersenyum khas.

Masjid Guangta memang mengakar pada kebudayaan lokal. Bangunan berkubah hanya saya lihat di sisi kiri masjid yang katanya kini berfungsi sebagai tempat pengamatan hilal saat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Sebuah menara yang pernah jadi bangunan tertinggi di masanya kini kalah saing dengan pencakar langit.

“Dulu belakang masjid ini sungai dan menara itu jadi semacam mercu suar,” terang Sidiq. Tentu saja ucapan Musa Sidiq sulit dibuktikan saat ini karena kini di sekitar masjid tak ada tanda-tanda sungai sama sekali. Pesatnya kemajuan telah membuat lingkungan masjid ini berubah menjadi riuh dengan kesibukan metropolitan.

Meski kelihatan tak begitu besar, tapi pada saat salat Jumat dan hari besar Islam lainnya, masjid ini mampu menampung sekitar dua ribuan jamaah. Jumlah ini memang tak seberapa dibanding dengan 13.000 jiwa umat Muslim yang kini mendiami di Guangzhou. Itu sebabnya menjelang waktu salat Jumat, polisi setempat harus menutup sepenuhnya Jalan Guangta di kedua ujungnya. Kendaraan tak diizinkan masuk, karena jalanan yang tak lebar itu dijadikan tempat untuk menampung jamaah yang tak kebagian tempat di dalam masjid.

Belajar di Museum

Di sebelah bangunan utama tedapat sebuah bangunan museum yang menyimpan sejarah perjalanan Masjid Guangta. Sebuah replika kapal Laksamana Ceng Ho yang terbuat dari kayu, lukisan dan barang-barang berharga pemberian dari berbagai negara Muslim di dunia bisa disaksikan di sini.

Perhatian saya mengarah pada sebuah Al Quran berukuran besar terbuat dari kayu pemberian mantan Presiden Republik Indonesia, B.J Habibie yang ikut dipajang di sini bersama dengan barang-barang cindera mata dari negara lain seperti Lebanon, Saudi, komunitas Muslim Hong Kong, Iran dan Turki. Terdapat juga foto dokumentasi kunjungan Menteri Agama Republik Indonesia tahun 2004, Said Aqil Husin.

Musa Sidiq memperlihatkan suvenir itu pada saya sembari sedikit berkisah tentang Indonesia menurut sisi pandangnya. “Masjid di negeri Anda pasti banyak jumlahnya. Apakah memiliki museum seperti ini untuk belajar?” Tentu saja saya menjawab tidak. “Tapi kami banyak belajar tentang Islam dari film di televisi (sinetron),” canda saya.

Saya penasaran dengan kehidupan Muslim di Tiongkok, mengingat sisi pandang saya tentang negeri ini yang anti kebebasan, hobi menindas pemeluk agama dan sangat tertutup. Benar atau tidak, saya menanyakannya pada Musa Sidiq sambil sedikit berbisik. “Bagaimana sesungguhnya kehidupan Muslim di negeri ini?” saya penasaran.

Musa Sidiq tertawa lepas seperti sudah mendengar pertanyaan macam itu jutaan kali. “Percayalah, kami di sini baik-baik saja. Saat salat Jumat masjid ini dibanjiri lautan umat dan polisi menjaga ujung jalan demi kenyamanan kami salat,” ujarnya diiringi senyuman khas dan bahasa Inggris yang berdialek film kungfu.

Ucapan Musa Sidiq setidaknya sedikit melegakan saya tentang Muslim di Tiongkok. Sidiq kemudian pamit sebentar untuk menyiapkan salat Jumat, dan saya pun minta izin untuk memotret saat salat nanti berlangsung. “Tentu saja boleh,” jawabnya.

Berlimpah Makanan Halal

Saya memutuskan untuk makan siang dulu sebelum memotret di masjid. Tak perlu bingung cari makanan halal, Jalan Guangta dikenal sebagai kawasan Muslim di Guangzhou. Di kedua sisi jalan berjejer kedai makanan halal dengan papan nama beraksara Tiongkok yang berpadu dengan tulisan Arab.

Label Halal marak dipajang di toko-toko daging atau restoran sepanjang Guang Ta Road

Saya memilih salah satu restoran sederhana yang ramai dikunjungi warga Timur Tengah. Menu-menunya berbahasa Tiongkok dan pemilik rerstoran juga sibuk mondar-mandir dengan bicara bahasa Tiongkok. Bedanya, meski bermata sipit dan berkulit putih, mereka memiliki alis lebih tebal dan hidung mancung bak orang Timur tengah.

Saya memilih Nasi Uighur untuk mengenyangkan perut siang itu. Makanan khas Uighur ini mirip nasi kebuli yang pernah saya santap di Jakarta, tapi di sini mereka menyantapnya dengan potongan kaki kambing yang berukuran besar. Meski saya tergolong orang yang doyan makan banyak, namun porsi warga Uighur ini tampaknya sulit saya taklukan.

Nasi Uighur. Sejenis nasi kebuli yang dihidangkan dengan sepotong kaki kambing.

Pedagang Sate Kebab adalah salah satu pedagang makanan yang menajdi idola saat hari Jumat. Sebelum dan selepas sholat Jumat, kuliner ini laris diserbu pembeli.

Guangta tampaknya sukses memenuhi selera makan saya. Jelang salat Jumat, kawasan ini makin ramai dengan datangnya umat yang hendak beribadah. Tak hanya itu, pemilik kedai juga makin sibuk menjajakan dagangannya yang menyebarkan aroma lezat dan sukses membuat saya lapar lagi.

Umat yang datang tak cuma warga Tiongkok, tapi juga dari negara-negara lain terutama Timur Tengah. Saya juga sempat menyapa rombongan warga Indonesia yang hendak salat Jumat. Ternyata mereka rombongan tur yang menjadwalkan kunjungan ke masjid ini sembari salat Jumat.

Dicerahkan di Guangta

Nama Guangta sendiri konon berasal dari nama menara yang berarti Menara Cahaya. Dalam sejarahnya sendiri, Masjid Guangta juga memiliki banyak nama dan sebutan. Warga setempat pernah menyebutnya dengan nama Huaisheng yang berarti menghargai yang sakral, dikenal juga dengan Masjid Mercu Suar, Masjid Hwai Sun Su, Masjid Huai-Sheng, Masjid Agung Canton dan Masjid Ying Tong.

Saat salat Jumat berlangsung di Masjid Guangta dengan latar menara.

Berbeda dengan salat Jumat di Indonesia, di Guangzhou saya melihat beberapa kaum wanita yang ikut beribadah. Jumlahnya tak banyak, namun kebiasaan kaum wanita untuk ikut solat Jumat bukanlah hal aneh di Guangzhou.

Usai salat saya kembali menghampiri Musa Sidiq dan sedikit berkisah tentang ulama-ulama Tiongkok di masa lampau yang menjadi bagian dari sejarah masjid. Banyak ulama yang kemudian pergi mensyi’arkan ajaran Islam ke seluruh dunia berawal dari masjid ini, menurut Sidiq. Termasuk juga ke Indonesia.

Saat saya bertutur soal Wali Songo, Musa Sidiq seperti sudah mengenal nama itu. Ia kembali tersenyum, “Saya juga tahu soal itu,” katanya. Sayangnya saya harus segera meninggalkan Musa Sidiq karena tugas lain yang sudah menanti meski sebetulnya banyak kisah yang ingin saya gali darinya. Pria berwajah cerah dan murah senyum itu menyalami saya, “Terima kasih, senang bertemu Anda, saudara dari Indonesia,” katanya.

Supported by

AirAsia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s