Jodoh Dalam Semangkuk Dawet

Cinta tidak buta! Ia bahkan menyala-nyala, meledakkan ide-ide untuk mewujudkannya. Ada berbagai cara orang melamar pasangannya untuk menikah. Ada cara modern, ada juga cara tradisional. Namun jika melamar dengan semangkuk es dawet, rasanya baru saya temukan di daerah Jabung, Ponorogo, Jawa Timur.

Warung Dawet Sumini terletak di perempatan daerah Jabung. Tak jauh dari Ponorogo kota dengan mengambil arah menuju Jetis. Daerah Jabung memang punya ciri khas dengan adanya warung es dawet yang berjejeran di sepanjang jalan. Berbeda dengan dawet yang ada di Jakarta, warung dawet di sini jika boleh saya bilang menganut sistem bar.

Penjual dawet yang adalah seorang wanita duduk di belakang meja yang berbentuk “U” persegi. Sementara pembeli datang silih berganti mengelilinginya sambil sesekali menyantap hidangan gorengan yang ada di meja. Pedagang yang umumnya wanita ini juga mengajak ngobrol para pembeli dengan akrab layaknya bartender di sebuah club. Andai ia mahir meracik kopi juga, mungkin para barista di kota besar akan bergidik  takut tersaingi. Layaknya warung kopi di Jakarta, warung dawet di sini juga diselimuti hawa keakraban. Saling sapa, senyum dan bercanda. Di sini tempat di mana waktu menjadi tak bertuan.

Siang itu Mbak Sumini yang sudah 5 tahun berjualan dawet dan rajin menyapa pelanggannya dengan ramah ini memberikan saya semangkuk Es Dawet yang ditaruh di atas piring kecil (lepek). Ia tersenyum setiap ada pelanggan datang. Senyumnya manis, hangat dan tutur bicaranya lembut. Ia sigap membuatkan semangkuk Es Dawet untuk para pelanggannya yang silih berganti.

Satu mangkuk ia siapkan buat saya. Mangkuk yang diletakkan di atas sebuah lepek. Tapi saat saya mengambil porsi Es Dawet saya, lepek tidak diberikan pada saya. Ia menariknya kembali. Jadi saya hanya diperkenankan mengambil mangkuknya saja dan lepek-nya kembali diambil Mbak Sumini.

Usut punya usut ternyata ini konon tradisi warga Jabung. Seorang penjual dawet hanya akan benar-benar meletakkan lepek untuk porsi dawetnya pada pembeli jika sang perempuan si penjual dawet tersebut bersedia dinikahi oleh sang pembeli. Benarkah begitu? Entahlah, karena itu mitos yang diyakini warga setempat.

Sayang sekali hari itu Mbak Sumini yang berusia 27 tahun dan berparas ayu ini dengan sigap menarik kembali lepek yang menjadi alas Es Dawet saya.

Iklan

9 responses to “Jodoh Dalam Semangkuk Dawet

  1. es dawetnya keliatan enak lho mas, apalagi kalo sambil nemu jodoh 😀 *ps udah beli dan baca buku travel writernya mas yudasmoro, isinya bagus, nambah ilmu 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s