Balap Penyu di Pantai Kuta

Penyelamatan penyu pun butuh sosok super hero

Do you wanna take a part of baby turtle racing?” seorang perempuan cilik berparas bule menyapa saya sambil menawarkan beberapa token berbentuk penyu kecil. Tiga orang kawannya berdiri di belakangnya, melakukan hal yang sama pada semua orang yang lalu-lalang di salah satu sudut pantai Kuta.  Siang itu, beberapa relawan sibuk menggalang perhatian para turis untuk sebuah ajang lomba yang mereka sebut dengan baby turtle race. Sebuah lomba balapan bayi penyu.

Tapi ini bukan sebuah lomba layaknya perayaan tujuh belasan. Ini adalah bagian dari program pelestarian penyu yang digalang oleh organisasi bernama Bali Sea Turtle Society (BSTS). Didirikan oleh I Wayan Wiradnyana pada tanggal 29 Juli 2011, BSTS dibentuk untuk melindungi penyu yang ada di Pulau Bali. Organisasi yang didukung penuh oleh Humane Society Australia ini bekerja sama dengan masyarakat sekitar melalui program “Community Based Conservation” dengan tujuan: proteksi terhadap sarang penyu, pendidikan soal penyu dan kampanye perlindungan penyu.

Wayan sendiri sebelumnya sudah aktif dalam beberapa aktifitas penyelamatan penyu Bali di beberapa lokasi selain Kuta. Organisasinya kemudian terpaksa tutup. Warga Kuta yang mensinyalir banyak penyu berlabuh di daerah mereka untuk bertelur kemudian mendaulat Wayan untuk melakukan upaya pelestarian.

Wayan tak bekerja sendirian. Pak Agung dari Satgas Pantai Kuta (Kuta Beach Security) adalah salah satu sosok yang dengan setia ikut membantu semua kegiatan BSTS di Kuta. Atas kerja kerasnya bahkan Wayan dan masyarakat lokal menganugerahi Pak Agung dengan sebutan Mr. Turtle. Penyelamatan penyu pun butuh sosok super hero.

Ada juga tiga orang staf yang mengawal Wayan di posko BSTS. Mereka adalah orang-orang terlatih yang berpengalaman dalam menangani pelestarian penyu.  Selain itu ada juga pasukan relawan yang tidak biasa. Saat saya datang di posko BSTS di Kuta, saya cukup terkejut dengan sekumpulan anak-anak bule yang aktif membagikan token penyu. Anak-anak bule ini adalah bagian dari relawan penyelamat penyu yang menurut Wayan sendiri kini berjumlah delapan orang. Tak ada persyaratan khusus untuk menjadi relawan BSTS, menurut Wayan. Semua orang yang peduli dan ingin membantu dapat menjadi relawan.

Diberkahi dengan garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia ternyata adalah rumah bagi satwa yang diduga sudah ada sejak era dinosaurus ini. Dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia, enam di antaranya bermukim di Indonesia. Jenis penyu Lekang (lepidochelys olivacea) adalah yang jenis menurut para relawan BSTS sering merapat ke pantai Kuta untuk bertelur. Sisanya adalah jenis penyu hijau (chelonian mydas) dan penyu Hawksbill (erethmocelys imbricata). BSTS tidak mengkhususkan diri untuk menangkar jenis penyu tertentu. Tapi jenis-jenis penyu tadilah yang paling sering merapat ke pantai Kuta untuk bertelur.

Baby turtle race adalah salah satu wujud program BSTS dalam upaya menarik perhatian warga lokal dan turis untuk ikut peduli pada kehidupan penyu Bali yang masih terancam. Dikemas seperti ajang lomba balap, baby turtle race diawasi ketat oleh para staf BSTS. Mr. Tutle sendiri bahkan mengawasi langsung ajang lomba ini. Penonton yang penasaran juga tak boleh terlalu dekat dengan garis lintasan. Inilah lomba yang berada di bawah pengawasan ketat para aktifis penyu. Menghibur dan tetap aman.

Proses regenerasi penyu ternyata tak mulus. Dari ratusan telur yang dihasilkan penyu betina, biasanya hanya belasan tukik saja yang berhasil hidup di laut. Rintangan predator alami seperti kepiting, tikus dan burung sering membuat para tukik ini harus mengakhiri hidupnya sebelum mengarungi bahtera kehidupan di laut bebas.

Menurut Wayan, pelepasan tukik ini tidak memiliki jadwal pasti karena tergantung dari musim juga. Biasanya di Kuta musim penyu untuk beranak-pinak adalah dari bulan Maret hingga September di mana Juni dan Juli adalah puncaknya. Jumlah telur yang diselamatkan sangat bervariasi. Tapi tahun 2012 dijelaskan Wayan sebagai tahun terbaik penyelamatan telur penyu. Jumlahnya mencapai 12.000 butir sampai dengan bulan September.

Situs BSTS juga pernah melansir isu negatif tentang perdagangan penyu di Bali. Pantai-pantai di Bali ternyata bukan cuma rumah bagi penyu untuk regenerasi. Tapi juga sasaran empuk bagi predator nomor satu di dunia, yaitu manusia. Yang sering memburu dan menjarah telur-telur penyu tanpa kendali.

Wayan dan kawan-kawan harus mengatasi hadangan musuh paling berat ini. Tak cuma memburu dan menjarah telur, manusia juga masih banyak yang buta soal penyu. Di Kuta, banyak sekali aktifitas turis yang justru mengganggu proses penyu bertelur. Wayan mencontohkan banyak turis yang jika melihat penyu bertelur, langsung menghampiri beramai-ramai dan memotretnya dengan lampu kilat. Sama dengan manusia, difoto beramai-ramai saat melahirkan adalah sama sekali bukan hal yang menyenangkan. Begitu juga dengan penyu! Ada lagi yang mengambil telur-telur penyu dan dibuang ke laut. Banyak turis mengira bahwa telur penyu lebih baik menetas di laut. Ini jelas salah besar, menurut Wayan. Alih-alih ingin membuat foto kenang-kenangan dan membantu, kegiatan turis ini justru mengancam nyawa penyu secara frontal.

Tantangan belum berakhir. Wayan juga masih harus berhadapan dengan adat istiadat setempat. Di Bali, daging penyu sering digunakan untuk kepentingan adat. Meskipun para pemuka adat setempat menyebutkan tak ada keharusan untuk menggunakan daging penyu, tapi banyak orang masih terbiasa untuk memburunya. Di tahun 1999 tercatat sekitar 9.000 butir telur diperdagangkan di Bali dalam waktu empat bulan. Selain daging dan telurnya, tempurung penyu juga diincar para pemburu. Tak heran populasi penyu Bali kini kian berkurang.

Tapi Wayan, Mr. Turtle dan pasukan relawannya tetap optimis. Terbukti dari datanya yang menyebutkan bahwa lebih dari 50% telur-telur penyu yang diselamatkan adalah hasil dari informasi warga setempat. Wayan dan Mr. Turtle memang telah melahirkan sesuatu yang inovatif. Mereka bersama para relawan ciliknya telah mengemas konservasi ini sebagai sesuatu yang atraktif.

Tak ada paksaan donasi dan tak ada penyuluhan yang membosankan. Di penangkaran berbentuk penyu raksasa ini mereka menarik perhatian turis dengan lomba pelepasan penyu yang disertai hadiah. Siapa saja boleh ikut. Tua, muda, anak-anak, wanita dan pria. Sayangnya, kerja keras BSTS yang dikemas atraktif ini meski menarik banyak perhatian turis, tetap masih kurang ditanggapi oleh turis lokal. Hampir semua yang bergabung dalam baby turtle race ini adalah turis bule.

Iklan

One response to “Balap Penyu di Pantai Kuta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s