Wayang Urban, Wayangnya Kaum Urban

Wayang Urban adalah tawaran kami untuk mengenal wayang secara asyik.

Lahir dari sebuah kegelisahan dan keprihatinan yang berkepanjangan, Wayang Urban besutan Dalang Nanang Hape menjelma menjadi sebuah tontonan alternatif bagi kaum muda perkotaan yang tak lagi peduli dengan akar sejarah budayanya. Ia ingin menyentuh kaum urban yang terpinggirkan di sudut kota, menyendiri di balik dinding hedonisme.

Label ‘Urban’ yang melekat pada frase Wayang Urban sesaat membuat saya penasaran. Seperti ada peleburan antara dinding tradisi dan modern. Jauh dari kesan tradisi, predikat Dalang yang melekat pada Nanang Hape seolah sirna saat saya menemuinya. Ia tidak tampil ‘tradisional’ saat saya temui. Ia memakai kemeja dan celana kargo, identik dengan kaum pelancong yang digandrungi anak-anak muda sekarang. Rambut ikal sebahunya membuatnya lebih mirip personil grup musik cadas ketimbang seorang Dalang.

“Kalau memang wayang adalah milik bangsa, seharusnya ia merefleksikan keragaman,” katanya membuka pembicaraan. Meski tergolong anak muda, pengalaman dan pengetahuan Nanang Hape soal wayang tidak perlu diragukan. Menurutnya, wadah Wayang Urban terbentuk dari kegelisahan dirinya di awal tahun 1990an. Saat itu Nanang masih duduk di bangku SMA dan predikat Dalang sudah melekat pada dirinya. Ia melihat generasi muda yang kian tergerus budaya pop dan berpaling dari sejarah budayanya sendiri. Sebuah degradasi.

“Wayang ada pada lingkungan keluarga saya. Bapak saya Dalang dan saya belajar mendalang dari kecil”, kenangnya. Kedekatannya dengan dunia wayang juga berlanjut pada lingkungannya. Teman-temannya banyak yang mendalang. Ia pun ikut berguru hingga menekuni ilmu Dalang di tingkat perguruan tinggi. Ia mengagumi beberapa Dalang senior yang telah tiada dari rekaman di kaset seperti Ki Narto Sabdo hingga kemudian menemukan beberapa nama seperti Ki Manteb Sudharsono dan Ki Gondo Dharman.

Idenya kemudian meletup saat menyadari bahwa wayang tidak lagi diminati kaum muda, khususnya di perkotaan. Lingkungan seniman yang sejak lama membentuknya kemudian memberikannya ide untuk menciptakan brand Wayang Urban. Tujuannya adalah menjembatani kaum muda dengan sejarah wayang tradisi. Nanang mengungkapkan kegetirannya di mana anak muda sekarang tak lagi diajari untuk mengenal sejarah budayanya. “Wajar jika anak-anak sekarang tak cinta wayang. Dikenalkan oleh orang tuanya pun tidak,” jelasnya geram.

Menurut Nanang, sebetulnya semua orang ingin dan berhak mengenal wayang. “Kasihan mereka yang non Jawa, tak mengerti bahasa Jawa dan yang tidak biasa bergadang semalam suntuk,” ujarnya. Menurutnya harus ada format baru yang bisa mengakomodir semuanya. Untuk merekalah Wayang Urban dibentuk.

“Wayang Urban adalah tawaran kami untuk mengenal wayang secara asyik.” Tulis Nanang Hape di blognya. Slogan di blog itu tak main-main. Melalui pentas ‘Sintamu Sintaku’ yang digelar di Jakarta, Nanang memang membuktikan ‘keasyikan’ menonton sebuah pagelaran wayang.

Rama dan Sinta kembali dikisahkan di atas panggung. Kisah cinta legendaris dari epos Ramayana ini kembali diangkat. Tapi kali ini ada yang berbeda. Nanang Hape mengisahkan fragmen romantis ini dengan ramuan eksperimen yang tak biasa. Panggung Gedung Kesenian Jakarta malam itu menjadi saksi bisu pentas Wayang Urban yang atraktif.

Tiga orang pemuda muncul di atas panggung. Mereka tidak memainkan wayang, tapi berdialog layaknya pentas dagelan. Mereka memang memerankan Punawakan: Gareng, Bagong, Petruk. Tapi jangan mengira ini Punakawan versi wayang tradisi yang mengenakan aksesoris dan make up ala wayang orang. Punakawan Wayang Urban tampil kasual, sederhana dan cuek. Meski berlogat Jawa, bahasa yang digunakan adalah Indonesia.

Sesekali Nanang Hape mengambil peran melantunkan tembang-tembang yang diciptakannya sendiri. “Saya belajar teater, musik dan tari termasuk seni ketoprak di kampung saya sendiri,” akunya. Seperangkat karawitan Jawa dan layar wayang kulit tersedia di sebelah kiri panggung. Seperangkat alat band lengkap dengan musisinya ada di kanan panggung. Mereka bersahut-sahutan memainkan instrumen. Beberapa tembang bahkan terdengar cadas meski diselingi alunan gending Jawa. Nanang ingin mendobrak sekat-sekat yang membatasi keduanya.

‘Sintamu Sintaku’ tidak terlelap dalam skenario tradisi. Kisah cinta Rama dan Sinta ini diangkat menjadi lintas zaman. Dilema cinta diterjemahkan ke zaman modern. Ada Sinta di Alengka yang kesepian dan digerogoti keraguan karena tak kunjung dijemput Sri Rama dan ada Sinta di zaman modern yang kesepian ditinggal kekasihnya yang sibuk. Hati Sinta bergolak, mempertanyakan kesetiaan mereka sendiri.

Sesuai dengan kata ‘Urban’ yang menjadi labelnya, Nanang Hape memang memberi kejutan buat orang yang tidak paham wayang seperti saya. Bayangan wayang yang ketinggalan zaman, terlalu berat untuk dipahami dan hanya dimiliki oleh kaum tua ternyata langsung pupus di tangan Dalang kelahiran Ponorogo ini. Wayang Urban menampilkan kolaborasi wayang kulit, teater, musik dan tari.

Wayang Urban ternyata tak cuma menunjukkan kebolehannya di Indonesia. Beberapa negara seperti Perancis, Amerika dan Portugal juga pernah masuk dalam daftar mentas mereka. “Apresiasi warga di sana lebih besar daripada di negeri sendiri”, aku Nanang. Saat saya tanya soal sejauh mana program pemerintah Indonesia ikut melindungi dan melestarikan wayang, Nanang Hape hanya menjawab dengan muram, “Belum ada!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s