Pesta Bunga di Tomohon

Jadi, tak sembarangan bunga Krisan dapat tumbuh di tanah Sulawesi, khususnya Tomohon.

Charles Holder boleh jadi adalah seorang pemimpi. Salah satu mimpinya adalah menggagas sebuah acara yang akan menjadi simbol dan ciri khas dari kota Pasadena. Ia ingin menunjukkan keunikan Pasadena di seluruh dunia. Mimpi besar itu ia wujudkan dengan hal paling sederhana, yaitu bunga. Sebagai kota yang tak begitu dilirik mata internasional, Pasadena menyimpan sebuah harta karun yaitu perkebunan bunga yang berlimpah. Tournament of Roses adalah mimpi besar Holder itu. “Saat New York terkubur salju, mari kita ceritakan pada dunia tentang surga di Pasadena”, jelasnya. Kontan hingga kini, Pasadena dengan festival mawarnya menjadi satu bagian tak terpisahkan.

Mimpi besar Charles Holder ternyata menular hingga ke Indonesia. Kota kecil berhawa sejuk di Sulawesi Utara, Tomohon, adalah buktinya. Saat saya menyinggahi kota seluas 114 kilometer persegi ini, rupanya mereka sedang sibuk menyambut sebuah hajatan besar. Hajatan yang diberi nama Tomohon International Flower Festival (TIFF) adalah mimpi besar Tomohon untuk menunjukkan kekayaan bunga daerah mereka. Tahun 2012 adalah kali ketiga mereka menggelar acara ini. Bukan cuma menarik perhatian warga sekitar, hajatan pesta bunga ini juga menggandeng negara-negara sahabat.

Bayangan saya tentang Tomohon yang senyap pupus sudah. Warga kota ini sibuk membicarakan pesta bunga ini. Pasar-pasar tradisional sebagian besar tak melayani pembeli. Para pedagang sibuk berbenah diri demi pesta bunga yang digelar dua tahun sekali itu. Beberapa jalan protokol bahkan tertutup bagi kendaraan. Satu-satunya kesibukan adalah sebuah desa di Tomohon Utara yang memiliki hamparan kebun bunga.

Sekumpulan petani sibuk menyambut pejabat pemerintah yang datang untuk memeriahkan TIFF, ternyata. Deretan bunga Krisan menyambut saya saat memasuki salah satu sudut desa ini. Tak begitu luas tapi padat ditumbuhi bunga. Krisan adalah jenis bunga mayoritas dari Tomohon. Krisan Kusumasakti berwarna merah dan kuning bermekaran di sisi kiri dan Krisan Cintamani berada di belakangnya dengan warna mirip bunga matahari. Sepintas, kebun mungil ini mirip gudang bunga. Saya memang tak mencium aroma wanginya tapi warna-warninya cukup memanjakan mata. Lelaki mana pun pasti akan menjadi romantis saat berada di sini.

Meski terkenal akan produksi bunga yang berkelimpahan, proses bisnis bunga ini ternyata tak sesederhana kelihatannya. Pak Wongkar, salah satu petani bunga Tomohon Utara menjelaskan tentang sosok bunga Krisan yang menjadi andalan daerahnya.

Entah sejak kapan bunga ini mendominasi daerah Tomohon Utara, menurutnya Krisan adalah bunga asli dari Tomohon. Ada juga bibit yang didatangkan dari Jawa tapi butuh bantuan sinar lampu di malam hari untuk membantunya tumbuh. Berbeda dengan Krisan lokal (Krisan Kulo dan Krisan Riri) yang dapat tumbuh dengan sendirinya dengan waktu sekitar tiga minggu. Jadi, tak sembarangan bunga Krisan dapat tumbuh di tanah Sulawesi, khususnya Tomohon.

Bunga yang dipanen kemudian disalurkan ke kios-kios di sepanjang jalan protokol dan pasar di Tomohon. Ada juga pengusaha atau pembeli yang datang langsung dari Manado untuk memborong bunga-bunga ini. Sayangnya, karena masalah jarak dan waktu, pembeli dari luar negeri belum ada yang memborong bunga-bunga dari Tomohon. Andai saja ada teknologi yang bisa menjadi solusi permasalahan ini.

Dahulu, nama kota Tomohon sebetulnya sudah hadir dalam catatan perjalanan beberapa tokoh asing seperti Nicolas Graflaand, seorang pendeta Belanda yang banyak melakukan penelitian antropologi tentang Minahasa dan Alfred Russel Wallace, seorang antropolog yang terkenal dengan temuannya, Garis Wallace. Saat itu diketahui nama asli daerah ini adalah Tou Mu’ung. Dalam bahasa lokal berarti Orang Mu’ung. Wallace bahkan pernah menetap di Tomohon untuk melakukan berbagai penelitian yang terkait flora fauna. Kota kecil ini ternyata pernah menjadi base camp seorang peneliti dan petualang legendaries dunia.

Banyaknya misionaris Belanda yang masuk ke Tomohon juga membuat kota ini memiliki ikatan batin yang cukup kuat dengan negeri bunga tulip itu. Banyak orang Belanda yang kemudian menetap dan berbaur dengan warga lokal. Asimilasi besar-besaran ini melahirkan Nasrani sebagai kepercayaan mayoritas yang dianut warga Tomohon dan sekitarnya  hingga kini. Bangunan gereja selalu ada di hampir semua pandangan saya.

Selain sarat dengan pergulatan sejarah, Tomohon ternyata adalah daerah yang nyaman untuk ditinggali. Hampir dari semua sudut kota, saya bisa melihat Gunung Lokon yang berdiri megah di sisi kota. Udara sejuk, warga yang ramah dan alam yang tak membuat saya bosan memandangnya menjadi sebab banyak orang asing selalu singgah ke kota ini saat bertandang ke Manado.

Kali ini, sepertinya turis asing mendapat kejutan kecil dari warga Tomohon. Bunga-bunga asli dari tanah ini akan memanjakan mata wisatawan. Arak-arakan udah disiapkan. Dan yang tak kalah seru adalah hadirnya sang Ratu Bunga. Layaknya Miss Universe, ajang TIFF juga menampilkan kontes Ratu Bunga. Sederet gadis cantik dari Manado dan beberapa daerah lain termasuk Jawa ikut beradu talenta demi menyandang mahkota Ratu Bunga.

Warga Tomohon memang identik dengan produksi bunga dan bunga identik dengan kaum hawa. Selentingan mengatakan bahwa kaum hawa di Tomohon adalah mereka yang memiliki paras tercantik di dataran Sulawesi. Mungkin bunga memang harus bersanding dengan kecantikan di sini.

Tak cuma diwarisi bunga yang merekah berwarna-warni dan gadis-gadis berparas elok, Tomohon memiliki alunan musik bambu yang menjadi ciri khasnya. Saat saya tiba di sini, sekelompok musisi tradisional sedang menunjukkan aksinya. Beberapa tembang mulai dari lagu-lagu daerah hingga pop barat, tembang lawas negeri Belanda dan pop modern dimainkan atraktif. Tembang pop lawas Belanda ini sepertinya jadi menu khusus untuk para turis Belanda yang ingin bernostalgia. Tomohon punya cara sendiri untuk menyambut tamu-tamunya, terutama tamu asing.

Orkes musik bambu sebetulnya memiliki akar sejarah panjang dengan warga Minahasa. Sejak dulu, bambu memang dianggap sebagai sumber bunyi-bunyian oleh mereka. Mungkin sama dengan warga di Jawa yang menggunakan bambu sebagai kentongan. Musik bambu sendiri mulai berkembang sekitar tahun 1859. Awalnya dari alat-alat musik peninggalan Belanda yang terbuat dari logam yang kemudian dibongkar dan dikombinasi dengan alat musik tiup bambu lokal. Ulah kreatif warga setempat waktu itu ternyata membuahkan hasil. Sederet alat musik seperti piccolo (suling), korno, tuba kemudian menjelma menjadi alat musik rakyat khas Minahasa.

Di sela ritme lagu-lagu waltz orkes musik bambu, sekelompok gadis-gadis Minahasa juga sudah berdandan jelita menanti dimulainya pawai kendaraan bunga yang menjadi puncak kemeriahan festival bunga di Tomohon. Ada kelompok remaja yang siap menggelar tarian Maengket, ada juga sekelompok pemuda dan kaum tetua adat yang berdandan baju perang Cakalele. Mereka menunggangi kuda-kuda perkasa asal dataran Sulawesi.

Jazirah perang Cakalele adalah baju adat yang digunakan warga Tomohon di masa lampau untuk tarian peperangan yang disebut Kabasaran. Berwarna merah menyala, dihiasi aksesoris tengkorak kera, bulu burung Rongkang dan topi mirip pasukan Romawi di masa lampau, siapa pun di masa lampau yang menghadapi pasukan seperti ini pasti akan gemetaran.

Warga Tomohon kini siap berpesta. Musik bambu kembali mengalun membuat penonton bergoyang, kelompok marching band menghentakkan nada-nadanya, pasukan Cakalele memamerkan keangkerannya mengawal bunga-bunga indah yang dirangkai di kendaraan hias. Sementara gadis-gadis Tomohon menebar senyuman termanisnya hari itu kepada ribuan penonton yang memenuhi sisi jalan. Pesta bunga di Tomohon pun dimulai!

Iklan

4 responses to “Pesta Bunga di Tomohon

  1. kmrn pas PPKI juga ada grup anak muda main kolintang dari Tomohon. yg cewek cantik2, yg cowok cakep2 dan semua jago main kolintang bahkan sambil tutup mata. lagu2 yg dibawakan ada lagu tradisional tp ada pula lagu nasional. keren! sayang aku gak sempet motret kmrn.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s