Simbol Harmoni Surabaya

Published: Garuda Inflight Magazine-Middle East Service, April-Mei 2011

Masjid Ampel di tengah Kampung Arab adalah budaya di mana perbedaan ras melebur dan melahirkan komunitas cair pemuja Tuhan. Kita bisa menemukan orang berwajah Arab yang berbicara menggunakan logat Jawa Timur ataupun warga keturunan Tionghoa yang berbaju koko. Yudasmoro mengisahkan petualangannya

“Semua gang di sini pasti menuju ke masjid,” kata sopir taksi. Ia menunjuk pada jalan-jalan kecil bak labirin di Kampung Arab. Salah satu jalannya dikangkangi gapura sederhana yang menampilkan tulisan: “Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel”. Saya telah sampai di tujuan.

Istilah “Kampung Arab” dan “Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel” sebenarnya merujuk pada tempat yang sama. Nama pertama hidup di masyarakat, sementara yang terakhir adalah sebutan resmi versi pemerintah. Kampung Arab dihuni warga berwajah Arab. Kebanyakan sudah berstatus WNI dan memiliki KTP Indonesia, namun darah Arab tetap tercermin pada wajah dan penampilan mereka.

Kampung ini tepat berada di sebelah pecinan (“Kampung Cina”) yang penampilannya lebih mentereng. Ruko-ruko dan gerbangnya lebih besar dan cicat bergaya Oriental. Sungguh menarik melihat koeksistensi kedua kampung berbasis ras ini. Penghuninya sama-sama berprofesi sebagai pedagang, dan sama-sama loyal menjaga tradisi leluhur, namun mereka dapat hidup rukun selama bertahun-tahun. Kedua kampung ini bukan hanya berjasa memutar roda perekonomian Surabaya, tapi juga memberi warna budaya pada kota terbesar kedua di Indonesia ini.

Di tengah cuaca panas Surabaya, saya menelusuri pertokoan di Kampung Arab. Wajah-wajah Timur Tengah menerbangkan imajinasi saya ke Dubai dan Jeddah. Yang membuat kaki tetap berpijak di Indonesia adalah becak yang berseliweran ke sana-sini.

Hampir semua gerai menjajakan barang yang berkaitan dengan ritual Islam. Sebut saja sarung, sorban, peci, mukena, baju koko dan tasbih. Tak tahan dengan anluri turis, saya pun membeli sebuah peci bergaya Taliban yang lumayan sulit ditemui di kota lain.

Beberapa toko juga menjual obat-obatan dari Timur Tengah yang sebagian dikalim memiliki akar pada peradaban Islam di zaman Nabi Muhammad. Namun barang dagangan paling unik bagi saya adalah kurma. Di sebagian besar kawasan Indonesia , buah ini hanya muncul setahun sekali, yakni di bulan Ramadan. Tapi di Kampung Arab kita bisa menemuinya setiap hari. Maklum, menyantap kurma adalah salah satu kebiasaan Nabi, terutama saat berbuka puasa.

Tujuan saya berikutnya adalah Masjid Ampel, salah satu ikon bersejarah di Surabaya. Layaknya masjid-masjid legendaris, Masjid Ampel tak cuma berfungsi “vertikal” sebagai sarana ibadah, namun juga memainkan peran “horizontal” sebagai wadah kegiatan masyarakat. Beragam diskusi seputar isu-isu sosial, politik, rumah tangga, hingga sepak bola senantiasa meramaikan interior dan halamannya.

Postur masjid lumayan megah, namun fisiknya sulit terlihat dari jalan raya karena dikelilingi kompleks pertokoan. Interiornya tampak sepi saat saya datang. Sebenarnya ada banyak orang di masjid, tapi kebanyakan sedang tidur. Mereka cukup merusak pemandangan saat saya hendak mengambil gambar. Tak kalah mengganggu adalah kantong-kantong plastik yang berserakan di pojok-pojok ruangan. Isinya apalagi kalau bukan alas kaki. Masjid di Indonesia, betapa pun sakralnya, tetap menjadi target operasi favorit maling sepatu. Saya memilih menitipkan alas kaki pada anak-anak di depan pintu masuk.

Kontras dengan suhu terik Surabaya, udara di dalam masjid sangatlah sejuk hingga siapa pun yang singgah pasti tersergap rasa kantuk. Dibangun pada 1421 oleh Raden Muhammad Ali Rahmatullah, Masjid Ampel menampilkan arsitektur yang menakjubkan. Atap dan beberapa tiangnya terbuat dari kayu. Sementara lantainya dilapisi marmer yang mampu mendinginkan temperatur interior. Di bagian tengah terdapat sebuah tangga dari kayu menuju atap masjid.

Nilai-nilai Islam diadopsi pada desain bangunan. Tiang penyangganya berjumlah 16 buah dengan tinggi 17 meter, lambang 17 rakaat dalam salat wajib setiap harinya. Sedangkan lima buah gapura di sekeliling masjid melambangkan lima rukun Islam. Mengikuti tradisi Islam dan Majapahit, kelima gapura tersebut diberi nama khusus, yaitu gapura peneksen (syahadat), madep (kiblat), ngamal (zakat), poso (puasa) dan munggah (haji). Maknanya adalah siapa pun yang melalui gapura-gapura tersebut diharapkan dapat menunaikan kelima prinsip utama dalam Islam.

Sosok Sunan Ampel tak bisa dinafikkan saat kita membahas Masjid Ampel. Ia merupakan anggota Wali Songo , ulama kondang penyebar Islam di Indonesia. Nama aslinya adalah Raden Mohammad Ali Rahmatullah, biasa disingkat Raden Rahmat. Sejumlah sumber mengklaim ia lahir di sebuah tempat bernama Champa yang terletak di Kamboja.

Asal-usul Sunan Ampel memang penuh teka-teki. Ada yang mengklaim ia keturunan penguasa Majapahit. Ada pula yang mengatakan ia berdarah campuran Arab dan Cina (mungkin dari beliaulah warga Kampung Arab dan Kampung Cina ini belajar hidup harmonis). Namun yang paling kontroversial adalah klaim bahwa ia merupakan keturunan Nabi Muhammad. Diceritakan Sunan Ampel datang ke kawasan Majapahit dan menikahi puteri seorang Adipati Tuban. Hubungannya dengan pihak kerajaan begitu intim karena bibinya adalah istri Raja Majapahit, Prabu Sri Kertawijaya, yang menganut Hindu.

Dari kisah Sunan Ampel saya juga menyadari bahwa hubungan antara Hindu dan Islam di Jawa

Dari warga, saya juga mendengar dua cerita unik terkait sejarah Masjid Ampel. Yang pertama adalah tentang Shonhaji. Dikisahkan, Sunan Ampel menugaskannya menentukan arah kiblat. Namun setelah kiblat ditetapkan dan masjid kelar dibangun, murid yang lain meragukan akurasi pengamatan Shonhaji. Untuk mempertahankan argumennya, Shonhaji melubangi tembok di sebelah tempat imam memimpin salat, lalu dari lubang itu ia mengaku dapat melihat Ka’bah. Sejak saat itu Shonhaji dikenal dengan julukan Mbah Bolong.

Cerita kedua adalah tentang Mbah Soleh, murid Sunan yang gemar membersihkan masjid. Konon setelah ia wafat, Sunan kerap merindukannya sembari berkata: “Andai Mbah Soleh masih hidup, tentu pekarangan masjid lebih bersih.” Kata-kata itu menjadi kenyataan, Mbah Soleh hidup kembali. Peristiwa ini terjadi hingga sembilan kali, hingga akhirnya Sunan wafat dan tak ada lagi yang dapat membangkitkan Mbah Soleh. Berhubung Mbah Soleh meninggal kali, maka makamnya pun dihiasi Sembilan nisan.

Informasi seputar asal-usul Kampung Arab tak berhasil saya temukan. Tiap orang memberikan keterangan berbeda. Sepertinya kampung ini tumbuh secara organik seiring perkembangan Surabaya sebagai sentra dakwah. Banyaknya jemaah yang berdatangan kemudian memicu para pengusaha untuk mendirikan toko. Pembauran warga keturunan dan lokal jelas telah berlangsung lama. Tak sedikit pula dari mereka yang akhirnya menjadi keluarga lewat tali pernikahan. Saya bahkan menemukan warga berwajah Arab yang berbicara menggunakan logat Jawa Timuran. Fenomena yang terbilang langka.

Iklan

2 responses to “Simbol Harmoni Surabaya

  1. akur banget ya kelihatannya. tapi saya jadi penasaran keadaannya pas zaman Sarekat Islam dulu. kan Sarekat Islam waktu baru dicetus di Solo dulu tujuannya untuk mengalahkan hegemoni pedagang Tionghoa. kalau di Surabaya kira-kira gimana ya keadaannya dulu? akur gak ya kedua kelompok ras tersebut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s