Mencintai Langendriyan Apa Adanya

langendriyan

“Menari adalah ibadah,” kata Elly D. Lutan, seniman tari senior, menjelang pementasan seni Langendriyan dengan lakon Banowati Jalingan Golek di Gedung Kesenian Jakarta awal Desember silam. Seniman tari dengan segudang pengalaman itu kembali mementaskan kisah-kisah yang diambil dari karakter perempuan dalam dunia pewayangan. Ia ingin menyelami sosok Banowati yang dianggapnya unik dan berbeda dari sosok perempuan lainnya.

Langendriyan sendiri adalah sebuah seni tradisional Jawa yang berkembang dari lingkungan Mangkunegaran Surakarta sekitar abad 18.   Kesenian ini sebetulnya nyaris tersisih karena gerusan zaman. Sudah jarang dipentaskan dan memang perlu perhatian khusus. Padahal Langendriyan adalah seni yang memiliki banyak persamaan dengan drama Opera di Eropa. Bernilai tinggi dan memiliki tingkat kerumitan yang cukup sulit untuk dimainkan. Sering kali Langendriyan dijuluki “Opera Jawa”. Salah satu pagelaran Langendriyan yang pernah sukses dipentaskan di Indonesia dan luar negeri adalah Matah Ati.

langendriyan

Memadukan seni tari, drama, bunyi, narasi, gerak dan mimik muka, Langendriyan dipentaskan dengan mengangkat kisah-kisah pewayangan seperti epos Ramayana dan Mahabharata. Sepintas ada kemiripan dengan pentas Wayang Orang. Namun dalam Langendriyan, menari, melantunkan tembang dan menyampaikan narasi dilakukan sekaligus. Kadang satu orang penari melakukan monolog atau beberapa penari berdialog dengan melantunkan macapat (sebuah puisi Jawa tradisi). Konon, tak banyak orang yang dapat melakukan ini.

Gerakan tari yang lembut namun atraktif membuat Langendriyan tak mudah dilakukan. Seorang penari kadang harus melantunkan macapat dalam posisi tubuh setengah jongkok dan kemudian bertumpu pada lutut. Gerakan gemulai kadang berganti atraktif dan cepat. Di antara penari yang terus bergerak, alunan puisi Jawa terus mengalir dari para penari. Mereka menari dan menembang secara bersamaan.

langendriyan

Saya beruntung dapat menyaksikan salah satu seni Jawa yang digarap oleh Elly D. Lutan ini. Pendekatan feminisnya membuat pentas ini menjadi berbeda. Elly mengaku sosok Banowati telah menginspirasi dirinya.

“Banowati bukan sosok munafik,” jelas penari senior yang sudah melanglang ke beberapa negara di dunia ini. Ia juga menjelaskan bahwa Banowati meningatkannya dari sifat seorang istri yang jauh dari sempurna.

Sebelum mengangkat sosok Banowati, Elly pernah mengangkat beberapa kisah perempuan dalam panggung tari seperti: Cut Nyak…(Perempuan itu Ada), Kunti Pinilih dan Perempuan Lala dan Ariah Si Mariam.

langendriyan

Meski berakar dari tradisi Jawa, Elly juga tak ingin Langendriyan hanya dinikmati oleh orang Jawa. Ia ingin semua orang bisa menikmatinya. Seperti pentas-pentas Elly sebelumnya, Banowati dipentaskan secara multibudaya. Di antara deretan perangkat gamelan, saya melihat pemain saksofon. Bahkan di tengah-tengah gemulainya penari, saya mendengar hentakan musik Bugis. “Semua daerah memiliki ruh yang sama,” jelas Elly.

Sisi nyeleneh Banowati kini diungkap Elly dengan bahasa Langendriyan. Alkisah Banowati, seorang istri Raja (Prabu Suyudana) yang dikenal cantik, mempesona, cerdas, santun walau sedikit genit. Ia menjalin asmara dengan Arjuna, musuh bebuyutan Prabu Suyudana. Saat dilamar Prabu Suyudana pun Banowati mengusulkan syarat tak lazim. Ia mau ritual siraman dilakukan di ruang tertutup bersama Arjuna, belahan jiwanya. Prabu Suyudana terpaksa setuju demi kelangsungan kejayaan Negeri Astina.

langendriyan

Dilema cinta ternyata sudah ada dalam kisah-kisah pewayangan. Banowati terpaksa menikah dengan Prabu Suyudana karena orang tuanya tergiur dengan iming-iming seserahan sang Raja. Banowati membalasnya dengan ritual siraman bersama Arjuna yang sebetulnya memiliki sederet kekasih. Cinta memang kadang tak harus memiliki. Dalam hati, Banowati hanya ingin berteriak “Cintai aku apa adanya”.

Sama seperti seni Langendriyan yang kini butuh energi cinta di negerinya sendiri.

Iklan

3 responses to “Mencintai Langendriyan Apa Adanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s