Islam Toleran Kota Jenang

Published: Garuda Inflight Magazine – Middle East Service, June-July 2011

Demi menghormati ajaran Hindu, Sunan Kudus mendirikan masjid berbentuk pura dan melarang pengikutnya mengkonsumsi daging sapi. Semangat toleransi yang layak dikenang dalam konteks Indonesia kontemporer. Yudasmoro menjelajahi warisannya

Ingat Alan Budikusuma? Dia adalah atlet nasional yang sukses menyabet medali emas di Olimpiade 1992. Bagaimana dengan Ardy B.Wiranata, Edy Hartono atau Haryanto Arbi? Mereka juga jawara di olah raga bulutangkis. Memutar waktu lebih ke belakang, kita akan menemukan sosok Ivana Lie, Christian Hadinata dan Liem Swie King.

kudus

Semua nama besar tersebut pernah mengukir tinta emas di panggung dunia dan mengharumkan nama bangsa. Masyarakat Indonesia tentu saja bangga pada prestasi mereka. Tapi, selain hobby mengayunkan raket, ada satu lagi benang merah yang menyatukan para atlet tersebut – Kudus. Kota kecil di Jawa Tengah ini adalah kawah candradimuka yang menggembleng Liem Swie King dan kawan-kawan menjadi atlet besar.

Saat ini Kudus memang kalah tenar dengan tetangganya di Jawa Tengah seperti Semarang dan Solo. Saya menjangkaunya dari Semarang dengan menggunakan mobil dengan waktu tempuh 45 menit. Sejenak menyelami profil Kudus di internet dan buku, saya banyak menemukan hal menarik seputar sejarah dan budaya kota ini. Siapa sangka legenda Kudus memiliki hubungan erat dengan Yerusalem di Palestina?

kudus

Asal usul nama Kudus konon berasal dari kisah Sunan Kudus. Syahdan, pria bernama asli Dja’far Sodiq ini mempelajari Islam di Arab saat negeri Timur Tengah itu dilanda wabah mematikan. Entah bagaimana caranya, Dja’far berhasil menyembuhkan epidemi yang banyak memakan korban jiwa tersebut. Sebagai ucapan terima kasih, penguasa setempat menghadiahinya sebuah batu mulia yang diambil dari Yerusalem dan dalam bahasa Arab dikenal dengan nama Al Quds

Mudik dari Arab, Dja’far membaktikan dirinya untuk menyiarkan Islam di tanah Jawa di sebuah desa terpencil bernama Loram. Seiring perkembangan penganut Islam, Dja’far kemudian mengganti nama Loram menjadi Kudus, yang diambil dari kata Al Quds. Sejak saat itu, Dja’far pun dikenal dengan nama Sunan Kudus.

kudus

Mulusnya penetrasi dakwah Islam tak terlepas dari kedewasaan Sang Sunan dalam memahami karakter masyarakat. Meski belajar Islam di Arab, ia tak kaku dalam berdakwah. Dunia di matanya tidak hitam putih. Selalu ada ruang kompromi untuk mempertemukan agama yang bersumber dari langit dan budaya yang telah lama hidup di tanah Jawa sebelum Islam datang.

Contoh sederhananya adalah kebijakan Sunan Kudus untuk menghormati norma setempat. Karena Kudus berada di wilayah kerajaan Hindu Majapahit, ia melarang umatnya menyembelih sapid an mengkonsumsi dagingnya, sebab hewan ini dipandang suci dalam ajaran Hindu. Semangat toleransi ini tentu layak kita kenang kembali dalam konteks Indonesia masa kini di mana sebagian ulama cenderung menempuh jalur kekerasan dalam menggapai cita-citanya.

kudus

Uniknya, keputusan mensubstitusi sapi dengan kerbau ternyata membawa implikasi positif secara ekonomi: sate kerbau, soto kerbau dan sop kerbau menjadi kuliner khas Kudus. Dibanding daging sapi, daging kerbau lebih berserat, namun tetap empuk. Soal rasa, racikan bumbu sate kerbau sukses membuat saya ketagihan.

kudus

Kudus tak cuma tersohor sebagai pabrik atlet bulutangkis, tapi juga produsen rokok kretek nasional.

Bisa dibilang kretek adalah mesin ekonomi yang menghidupi kota ini. Bahkan panroama kota pun dihiasi iklan rokok. Museum Kretek Kudus adalah tempat terbaik untuk mengenal industri rakyat ini.

Menaiki becak bertarif Rp 5.000 saya meluncur Museum Kretek di Desa Getas, sekitar dua kilometer dari pusat kota. Bangunan sangat lengang saat saya datang. Tak banyak orang terlihat kecuali petugas museum. Bahkan setelah beberapa saat, saya pun menyadari bahwa saya adalah satu-satunya pengunjung hari ini.

kudus

Museum menceritakan sejarah industri kretek di Indonesia. Penemu kretek adalah pria ulet bernama Nitisemito. Awalnya, pada 1905 ia hanya membuat kretek untuk melayani pesanan kawan-kawannya sebelum akhirnya mendirikan pabrik bernama Bal Tiga pada 1908.

pada 1914, usaha rokok kian memikat banyak pemain dari kawasan Kudus dan sekitarnya. Pabrik pun bermunculan di Semarang, Blitar dan Surabaya. Kini Djarum (berdiri 1951) merupakan perusahaan rokok terbesar di Kudus dan salah satu yang terbesar di Indonesia. Beberapa pesaingnya di Kudus adalah Sukun, Nojorono dan Jambu Bol. Sebagian produk mereka hanya di jual di desa-desa di Jawa Tengah.

Jika Museum Kretek sepi pengunjung, ikon lain Kudus, Majid Menara, selalu ramai manusia. Mesjid bersejarah ini juga dikenal dengan nama Al Aqsa. Disebut begitu karena pemabngunannya konon menggunakan batu dari Baitul Maqdis di Palestina. Masjid ini adalah bukti dakwah toleran yang diusung Sunan Kudus. Saat kebanyakan masjid dipayungi kubah, Masjid Menara justru didesain berbentuk pura. Alasannya lagi-lagi untuk menghormati umat Hindu Majapahit.

Hampir setiap hari masjid ini disambangi jemaah dan peziarah. Untuk mengunjungi makam Sunan Kudus, pengunjung biasanya melewati jalan kecil di samping masjid. Dari makam, keramaian beralih ke toko-toko di depan masjid yang menjual beragam oleh-oleh khas Kudus, salah satunya Jenang Kudus. Kebiasaan warga Kudus bepergian naik ontel menjadikan suasana seperti mundur ke masa lampau.

kudus

Sunan Kudus bukan satu-satunya ulama besar yang mewarnai sejarah kota ini. Menggunakan angkutan umum selama satu jam, saya sampai di daerah Colo di kaki Gunung Muria, lokasi makam Sunan Muria.

Anggota Wali Songo ini bernama asli Raden Umar Syaid. Metode dakwahnya mirip dengan Sunan Kudus.  Ia sangat menghormati adat setempat dan tak alergi memanfaatkan budaya Jawa. Sunan Muria, misalnya, menyelipkan ajaran Islam dalam tembang-tembang Jawa ciptannya. Lewat nyanyian, nilai-nilai agama merasuk mulus ke hati warga dan mendobrak tembok resistensi budaya. Seni suara yang oleh sebagian kiai diharamkan, di tangan Sunan Muria justru menjadi medium syiar Islam yang efektif.

O

Mendekat makam, banyak bus diparkir di pinggir jalan. Beberapa tukang ojek berseragam sibuk menawarkan cara cepat menjangkau kuburan yang berjarak dua kilometer dari area parkir. Setidaknya ada dua rute yang bisa dipilih. Rute pertama adalah melalui gerbang dan menapaki anak tangga sejauh dua kilometer. Sedangkan rute kedua adalah dengan melalui jalan setapak yang sempit dan menanjak. Tukang ojek membawa peziarah melewati rute yang terakhir ini.

Selain wisata religi, daerah Colo menawarkan wisata alam ke Air Terjun Monthel. Untuk mencapainya saya melalui jalan sempit yang dilapisi bebatuan. Tiket masuk air terjun hanya Rp 5.000. selain untuk menghidupi warga sekitar, dana ini dipakai untuk merawat kompleks air terjun, termasuk memelihara jalan sempit yang saya lewati tadi.

O

Obyek wisata alam lain di Colo yang juga populer adalah Air Tiga Rasa. Mitos setempat meyakini mata air ini memiliki rasa dan khasiat berbeda. Air pertama berasa asam dan mujarab menyembuhkan penyakit, air kedua mengandung soda dan berkhasiat membangkitkan rasa percaya diri; sementara air ketiga beraroma mirip alkohol dan mampu memperlancar rezeki. Sepertinya ketiga mata air ini sanggup menjawab sebagian besar problem manusia. Entah benar atau tidak, silahkan buktikan sendiri.

Iklan

4 responses to “Islam Toleran Kota Jenang

  1. saya pernah sekali lewat pabrik Djarum waktu pergantian shift. buruhnya rame banget dan semuanya wanita. semuanya make topi seperti pemain golf warna biru dengan tulisan Djarum. terharu juga sih bisa ketemu sama para pelinting rokok yang biasa saya hisap. 🙂 dan terasa banget kalo pabrik itu jadi tuang punggung perekonomian warga sekitar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s