The Great Hokusai

hokusai

Padahal, saya menemukan catatan bahwa di zamannya dulu, karya Hokusai justru kurang dihargai

Welcome to Obuse! Tulis sebuah brosur yang saya baca dalam perjalanan dari Nagano. Kota kecil di Nagano prefecture ini memang jarang terdengar gaungnya. Saya pun tak akrab dengan namanya. Kyoko, pemandu saya hari itu menjelaskan bahwa Obuse adalah kota kecil yang menyimpan sejarah besar di Jepang. Kota ini juga terkenal produktif menghasilkan buah apel, bunga dan kacang kenari. 

Kekayaan kuliner ini terbukti saat saya santap siang di sebuah restoran di Obuse Garden. Seporsi steik tuna yang ditaburi kenari, segelas jus apel dan es krim apel sebagai penutup adalah hidangan spesial di sini. Beralih keluar, kekayaan Obuse yang lain mengelilingi ruang makan saya. Restoran ini dipagari taman bunga.

Setelah menyantap hidangan khas ini, tujuan saya berikutnya adalah harta karun Obuse, yaitu Museum Hokusai. Sebuah museum yang memajang karya-karya seniman lukis legendaris Jepang, Katshusika Hokusai. Rupanya inilah yang dimaksud Kyoko dengan sejarah besar.

hokusai

Obuse bukanlah Tokyo yang padat dengan hingar-bingar roda modernitas. Memasuki kota Obuse, saya justru disambut dengan pemandangan areal persawahan dan pegunungan. Tak banyak bangunan tinggi dan lalu lintas di kotanya pun sepi. Jalan rayanya tak lebar dan hanya sedikit kendaraan yang melintas. Warga Obuse lebih gandrung menggenjot sepeda atau menggunakan bus umum untuk bepergian.

Museum Hokusai sendiri tak seperti museum kebanyakan yang pernah saya datangi. Dari area parkir, saya harus berjalan kaki memasuki daerah perumahan dengan gang-gang sempit. Kadang, saya juga melintasi garasi milik warga. Di sini, bukti kekuatan kacang kenari kembali saya temukan. Kyoko menjelaskan tentang kayu-kayu pohon kenari yang dijadikan pelapis jalan. Benar juga, jalan setapak yang saya lalui memang mirip conblock, tapi sebetulnya adalah kayu dari pohon kenari. Warga Obuse meyakini, bahwa semakin lama kayu kenari terkena hujan dan panas maka akan semakin kuat jadinya. Mungkin betul juga, karena saya tak melihat sedikit pun potongan kayu ini berlubang atau rusak.

hokusai

Tepat di ujung jalan, akhirnya saya tiba di museum. Meski Hokusai adalah seniman besar yang pernah tercantum dalam sejarah Jepang dan diakui dunia, tapi bangunan museumnya lebih menyerupai rumah pribadi. Tidak besar, hanya terdiri dari satu lantai dan tanpa pagar. Pintu masuknya mirip pintu rumah pribadi. Selalu tertutup dan hanya terdiri dari satu daun pintu.

Penampilan di luar ternyata tak sebanding dengan bagian dalamnya. Ukuran bangunan ini cukup luas. Lukisan-lukisan sang maestro bertebaran di dinding. Sekeliling bangunan juga dipenuhi dengan taman. Jadi, selain bisa menikmati lukisan, museum juga menyediakan lokasi untuk menenangkan jiwa. Tampaknya pengelola museum terinspirasi oleh karya-karya Hokusai yang banyak mengambil tema dari alam.

hokusai

Katsushika Hokusai lahir di Edo (sekarang Tokyo) pada 1760. Ia adalah seorang seniman multi talenta. Selain diakui sebagai pelukis dan pemahat, Hokusai juga menguasai seni grafis dengan teknik Ukiyo-e, yaitu seni melukis dengan mencungkil kayu. Sebetulnya Ukiyo dalam literatur Jepang berarti ‘zaman sekarang’ dan akhiran ‘e’ berarti lukisan atau gambar. Pengertian umumnya, Ukiyo-e diartikan sebagai lukisan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari.

Sejarah Hokusai di Obuse sendiri dimulai pada tahun 1842 saat Katsushika Hokusai dari Tokyo diundang oleh Takai Kozan untuk tinggal dan bekerja di Obuse. Takai Kozan adalah seorang pengusaha sukses di Obuse sekaligus pengagum karya Hokusai. Sejak saat itu, Hokusai seperti menemukan rumah baru.

Hingga kini, kota Obuse selalu lekat pada sosok Hokusai. Padahal, saya menemukan catatan bahwa di zamannya dulu, karya Hokusai justru kurang dihargai. Banyak lukisan-lukisannya kemudian dibawa ke tanah Eropa dan menjadi koleksi para seniman ternama sekelas Claude Monet dan Edgar Degas.

hokusai

Karya-karya Hokusai yang diakui cukup fenomenal adalah Fugaku Sanjurokkei (36 pemandagan Gunung Fuji) yang di buat sektar tahun 1823 – 1829. Salah satunya adalah berjudul “Ombak Besar di lepas Pantai Kanagawa” yang hingga kini menjadi salah satu ikon seni paling populer di dunia. Ada juga buku sketsa Hokusai Manga yang diterbitkan tahun 1814 dalam 15 seri.

Selain lihai dalam mengolah seni Ukiyo-e, Hokusai juga dikenal jago dalam seni Shunga, yaitu seni lukis yang menonjolkan tema-tema erotis. Karyanya yang populer dalam aliran ini adalah Fukujoso, yang diakui sebagai salah satu karya Shunga terbaik yang pernah ada. Konon, Hokusai justru melahirkan karya-karya besarnya setelah berusia 60 tahun ke atas.

hokusai

Hokusai dulu mungkin pernah tak dihargai di negerinya sendiri. Kini, di Obuse, kota ini sangat identik dengan sosok Hokusai. Semua brosur wisata yang saya ambil pasti menyertakan nama Hokusai dan alamat museumnya untuk dikunjungi. Namanya justru mulai besar saat usianya mulai menjelang sepuh. Dan hinggi kini, bahkan setelah tiada, nama Hokusai justru semakin besar.

Supported by:

garuda_indonesia

Iklan

3 responses to “The Great Hokusai

  1. Lukisan Ombak lepas di lepas pantai Kanagawa memang ikonik banget 🙂 Artikel yang keren, mas. Btw aku baru aja menamatkan baca Travel Writer, two thumbs up. Padat info dan praktis banget 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s