Menyepi di Sunyaragi

Dibangun dengan menganut berbagai faham dan filosofi budaya lokal dan dunia, Sunyaragi pernah menjadi kiblat arsitektur modern di zamannya. Pernah menjadi simbol kebesaran para Sultan. Kini, ketika zaman terus berubah, Sunyaragi tak lagi bertaji

Saat Tom Wright mendesain Burj Al Arab di Dubai, semua mata di dunia terpana akan keunikan bangunan mewah ini. Begitu juga saat Cesar Pelli menorehkan maha karyanya berupa menara kembar Petronas di Kuala Lumpur. I M Pei juga mengejutkan Eropa dengan karyanya Pyramide du Louvre di Paris yang kini menjadi landmark kota mode itu.

Memutar waktu di kota Cirebon, Jawa Barat, entah siapa nama arsitek bangunan unik ini, Tamansari Sunyaragi atau Gua Sunyaragi masih menyisakan torehan seni tingkat tinggi di abad pertengahan Nusantara. Perpaduan gaya Eropa renaissance, China, Hindu dan Timur Tengah menyatu di bangunan yang kini menempati lokasi seluas 15 hektar ini.

Terkenal juga dengan sebutan Taman Air Sunyaragi, lokasi ini cukup mudah diakses dari Stasiun Besar Cirebon. Hanya dengan dua kali ganti angkot bertarif Rp 3.000 saya sudah tiba di lokasi dengan menempuh waktu sekitar 30 menit.

Tahun 1592 diyakini di mana Keraton Pakungwati (kini Kasepuhan) mulai melebarkan wilayah kekuasaannya. Tempat meditasi yang tadinya berada di Astana Gunung Jati, dirubah menjadi tempat khusus pemakaman para Raja. Karena pemekaran wilayah inilah maka diputuskan untuk memindahkan dan membuat suatu lokasi khusus untuk meditasi anggota kerajaan Cirebon.

Sunyaragi diambil dari kata sunya yang berarti sunyi atau sepi dan ragi yang berarti raga. Bahasa Sansekerta ini menegaskan bahwa dahulu inilah lokasi dimana para raja dan prajuritnya menyelasikan proses tapa brata, mengolah kebatinan untuk menguasai ilmu kanuragan.

Dengan membayar tiket seharga Rp 2.000 per orang, saya mulai memasuki areal ini. Bangunan utama tampak bersih meski kondisinya kurang terawat. Tembok yang kusam, loket yang tak memadahi dan petugas yang tanpa seragam menyambut kedatangan saya.

Danau Jati yang sejarahnya dulu mengelilingi tempat ini kini sudah tak ada lagi. Balai Kambang, salah satu bangunan yang kini berbentuk seperti pendopo biasa bahkan dulunya adalah bangunan yang mengambang. Terletak di dalam areal Sunyaragi dan di atas sebuah kolam berukuran hampir setengah luas kolam renang kelas olimpiade, bangunan mengambang yang dulunya harus menggunakan dayung untuk bisa merapat ke pinggir kolam, kini ditopang oleh beton dan dicambangi 2 buah jembatan juga dari beton. Arsitektur dengan seni tingkat tinggi itu kini tinggal cerita.

“Dulunya tempat ini berfungsi untuk tempat pemain gamelan yang menyambut para tamu,” jelas petugas setempat.

Konsep floating buliding ternyata sudah ada di abad 17 di kota Cirebon. Para arsitek Green Float Project di Jepang yang mengusung konsep bangunan mengambang di masa depan mungkin harus banyak belajar dari arsitektur Sunyaragi.

Memasuki gua di Sunyaragi memang memaksa saya untuk membungkukkan badan. Untungnya karena saya bertubuh langsing, petualangan gaya Indiana Jones di lorong sempit ini bukanlah masalah. Lubang-lubang kecil yang berfungsi sebagai jendela cukup membuat lorong tidak tampak gelap. Lorong-lorong ini menganut metode labirin. Banyak cabang dan anak tangga ke lorong yang lain. Agak membingungkan. Mungkin ada filosofi khusus di balik desain ini.

“Makna dari gua yang sempit adalah agar kita selalu tunduk dan hormat pada para leluhur,” jelas petugas setempat.

Ada tempat khusus untuk bertapa para Sultan yang bernama Gua Peteng (gua gelap). Ukurannya tetap sempit hingga saya harus kembali membungkuk untuk memasukinya. Selain filosofi menghormati leluhur, ukuran sempit ini bisa jadi disesuaikan dengan posisi tubuh saat bersemedi. Menurut cerita petugas, para Sultan dahulu mampu meninggalkan jasad mereka di Gua Peteng sementara jiwa mereka bepergian ke tempat lain. Sayangnya tak ada dokumentasi khusus soal astral travel para Sultan ini.

Kalau tadi saya menelusuri gelapnya Gua Peteng, kini saya menelusuri lawannya. Gua padang (gua terang) namanya menurut tulisan yang ada di dekat areal ini. Gua ini dikelilingi kolam. Airnya tampak hijau dan tak terawat karena saya menjumpai sampah di mana-mana. Berbeda dengan Gua Peteng, Gua Padang kondisinya lebih terbuka. Tak jelas apakah awalnya ini sebuah gua atau memang sudah terbuka seperti ini. Tapi menurut catatan sejarah, Gua Padang dahulu juga digunakan untuk tempat semedi.

Di tengah area ada sebuah patung dengan nama perawan sunti. Tak jelas juga latar belakang dan maksud dari patung yang berbentuk seperti batu panjang menonjol ini. Tapi mitos menjelaskan, wanita yang menyentuh patung ini akan bernasib “jauh jodoh”. Sayangnya tak ada tanda peringatan apa-apa di sekitar patung.

Di belakang Gua Padang, saya menaiki beberapa undakan dan menyeberangi kolam yang kini sudah menjadi padang rumput. Tak jauh terdapat sebuah bangunan yang bentuknya mirip tumpukan batu dengan lubang-lubang kecil sebagai jendela. Gua Arga Jumud namanya. Menurut sejarah yang saya baca, bentuk dari gua arga jumud ini menggambarkan pengaruh budaya Cina, Meski saya tak dapat mengenalinya, tapi dahulu bagian luar gua ini dipenuhi oleh piring keramik dari Cina. Nyi Ong Tien, istri dari Sunan Gunung Jati memiliki andil besar dalam hal ini.

Pengaruh budaya Tiongkok memang tak lepas dari Cirebon di masa lampau mengingat Sunan Gunung Jati yang memiliki istri dari Cina. Saat ini kramik-keramik di Gua Arga Jumud memang sudah tak bisa dilihat lagi. Tapi jika diteliti, beberapa desain bangunan masih menggambarkan ukiran khas Tiongkok.

Besarnya pengaruh Nyi Ong Tien adalah dengan dibangunnya kuburan China di Sunyaragi. Kuburan ini dibangun untuk menghormati para pengikut setia puteri China itu menuju Cirebon. Kisah lain menyebutkan bahwa salah satu kuburan Cina ini adalah makam dari seorang arsitektur Cina yang memugar Sunyaragi. Namun karena arsitek ini membocorkan rahasia Sunyaragi pada pihak Belanda, akhirnya Sultan menangkapnya dan mengeksekusinya.

Bangunan lain yang tak kalah megahnya adalah Bangsal Jinem. Terletak di bagian depan, Bangsal Jinem sebetulnya adalah bangunan utama. Fungsinya adalah sebagai tempat peristirahatan Sultan. Di sini saya masih bisa menikmati bentuk bangunan yang utuh. Meski sudah tak berfungsi, tapi saya masih bisa melihat sebuah bingkai besar dari batu yang nampaknya dulu mungkin untuk meletakkan cermin. Di Bangsal Jinem ini juga konon dulu para Sultan mengawasi para prajurit yang sedang latihan.

Sejarah memang mencatat bahwa Sunyaragi mengalami beberapa kali renovasi semenjak dibangun. Bahkan di zaman kolonial, Sunyaragi juga mengalami beberapa kali perombakan. Sebagai salah satu aset sejarah yang sangat tinggi nilainya, Direktorat Jendral Kebudayaan memugar total tempat ini pada tahun 1976 hingga 1984. Kondisinya yang sempat membahayakan pengunjung membuatnya terpaksa kehilangan bentuk aslinya. Banyak bagian bangunan dari Sunyaragi yang kemudian dihilangkan.

Renovasi besar dan pemugaran berkali-kali membuat Sunyaragi kini nyaris kehilangan bentuk aslinya. Meski begitu, Sunyaragi masih menyisakan beberapa peninggalan artefak dan sekelumit desain bangunan yang unik. Karena dibangun di tahun 1703, di mana saat itu masih terdapat pengaruh penjajahan kolonial dan sisa kerajaan Hindu, maka bentuk bangunan Sunyaragi menganut berbagai faham kebudayaan.

Gapura besar mirip candi Hindu menyambut saya di depan saat saya baru masuk. Bangsal Jinem yang terletak di bagian depan, berbentuk mirip Ka’bah. Beberapa gua pertapaan meski nyaris tak dikenali tapi sejarah mencatat bangunan-banguna tersebut merupakan hasil dari pengaruh Hindu dan Cina. Beberapa bagian yang sebetulnya menganut faham desain Eropa, kini sudah tak terlihat lagi.

Catatan sejarah menjelaskan bahwa ada dua versi cerita soal asal-usul Sunyaragi yaitu versi carub kanda dan caruban nagari. Tak seorangpun saat ini bisa memastikan yang mana yang paling benar. Tapi saat ini peneliti memutuskan versi caruban nagari adalah versi yang paling resmi karena merupakan bukti tertulis.

Iklan

3 responses to “Menyepi di Sunyaragi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s