Terjebak di Takayama

Posisinya yang terisolasi di antara pegunungan membuat Takayama menjadi seperti sebuah koloni yang berkembang dengan sendirinya

Cuaca bersuhu 7 derajat Celsius mulai berhembus di sela-sela Takayama. Kota kecil berpopulasi kurang dari 100.000   jiwa (data tahun 2011) di Gifu prefecture ini adalah salah satu sasaran utama para turis yang ingin menghabiskan musim dingin di pegunungan sekitar Nagano. Saya harus membuang jauh-jauh persepsi tentang Jepang yang padat penduduk yang berlalu-lalang di perempatan jalan, gedung tinggi, stasiun kereta yang padat dan hingar-bingar futuristik lainnya.

Takayama menyambut saya dengan cuaca dingin, keheningan dan gemericik air Sungai Miyagawa. Satu-satunya keramaian adalah bus-bus besar yang baru saja akan pergi dengan membawa rombongan turis. Kyoko, pemandu saya, menyarankan untuk menyusuri gang-gang sempit di tengah kota. Lokasi ini ternyata adalah pusat keramaian turis yang hendak berbelanja atau merasakan khasiat Sake di tengah cuaca dingin.

Beberapa kios penjaja tuak khas negeri Sakura ini juga menyediakan porsi sample dalam sebuah gelas kecil. Tujuannya tentu saja untuk sekedar icip-icip bagi para turis yang ingin membeli Sake. Satu sloki saja khasiat minuman fermentasi beras ini cukup ampuh mengusir rasa dingin di tubuh saya.

Selain Sake, kuliner lain yang wajib dicoba adalah Miso yang juga berkhasiat mengusir dingin dan kudapan khas Takayama yaitu Goheimochi. Bentuknya mirip es krim dengan stik dan ada juga yang bentuknya mirip sate ayam yang disebut Mitarashidango. Tapi sebetulnya ini adalah nasi yang dipadatkan dan dibakar kemudian dilumuri bumbu manis dan asin, ditaburi sedikit kacang dan biasanya dinikmati dengan semangkuk Miso.

Old Street adalah nama populer bagi para turis yang datang ke kawasan ini. Dalam bahasa lokal, warga lebih mengenalnya dengan San-Machi. Sesuai dengan namanya, suasana Old Street memang membuat saya seperti masuk ke lorong waktu dan kembali zaman Edo di abad 17. Kawasan ini dipenuhi dengan rumah-rumah kayu bergaya Jepang klasik. Saya bahkan masih bisa menjumpai beberapa warga yang mengenakan kimono.

Sejarah Takayama dimulai pada abad ke 16 dimana klan Kanimori mendirikan Takayama Castle yang menandakan dimulainya era perkembangan budaya di Takayama. Kata Takayama sendiri sebetulnya berarti Gunung Tinggi. Wajar, karena hampir di sejauh mata memandang, saya melihat pegunungan tinggi yang membentengi kota. Posisinya yang terisolasi di antara pegunungan membuat Takayama menjadi seperti sebuah koloni yang berkembang dengan sendirinya. Dahulu masyarakatnya didominasi oleh para tukang kayu yang bekerja di Kyoto untuk membangun istana dan rumah ibadah.

Kini, ciri khas Takayama sebagai kota tua tempat pengrajin kayu masih bisa terlihat dan dirasakan di kawasan old street. Karena berkembang menjadi salah satu tujuan turis, Takayama kemudian mengalami pelebaran ke beberapa daerah tetangganya pada tahun 1936 seperti Onada dan pada tahun 2005 ke Distrik Ono (Kuguno, Asahi, Kiyomi, Miya, Nyukawa, Shokawa dan Takane) dan Distrik Yoshiki (Kokufu, Kamitakara).

Arloji saya baru saja menunjukkan pukul 19.00 waktu setempat, tapi beberapa pertokoan di pusat kota justru sibuk merapihkan dagangannya karena hendak tutup. Trotoar terlihat sepi dan hampir tak ada mobil yang melintas di jalanan meski itu adalah jam pulang kantor. Tapi toh tetap saja saya harus menunggu lampu menyeberang menyala hijau di penyeberangan ketika hendak menyeberang meski tak ada satu pun mobil yang melintas.

Mengingat Takayama mewarisi keahlian pengrajin kayu dari leluhurnya, maka saya menemukan banyak sekali souvenir-suvenir di sini yang berbahan dasar kayu. Dan yang paling banyak dipajang adalah sosok boneka monyet berwarna merah berbaju kimono dan tanpa wajah. Sosok unik ini biasa disebut dengan Sarubobo yang ternyata dipercaya masyarakat lokal sebagai jimat pembawa keberuntungan.

Takayama memang bukan kota metropolis yang bergaya urban. Sejuta kisah sejarah yang mengiringi perkembangan Takayama kini hanya bisa disaksikan melalui saksi bisu bangunan-bangunan tua dan museum yang tersebar di kota ini. Waktu sepertinya enggan beranjak di Takayama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s