Cinta Setia di Coban Rondo

Waktu pun berganti dan tak ada yang mengetahui kelanjutan nasib Dewi Anjarwati. Konon ia menghabiskan sisa hidupnya di bawah air terjun. Tak ada yang tahu.

Alkisah zaman dahulu kala hiduplah seorang pemuda bernama Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro yang baru saja menikahi Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi. Dengan usia pernikahan mereka yang masih muda, Raden Baron Kusumo berniat memboyong Dewi Anjarwati menuju Gunung Anjasmoro yang menurut adat Jawa adalah terlarang bagi pengantin baru.

Pantangan para leluhur ini ternyata menjadi kenyataan. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan pemuda misterius bernama Joko Lelono. Dalam sekejap, pria misterius ini langsung terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati. Konflik pun tak terhindarkan. Duel maut antara Raden Baron Kusumo dan Joko Lelono pun akhirnya menjadi solusi. Dewi Anjarwati yang tak diperkenankan suaminya untuk menyaksikan adu tarung itu diperintahkan untuk menunggu sang suami di lokasi sekitar yang ada air terjunnya.

Adu jurus segera digelar. Ironisnya, sengitnya pertempuran membuat kedua lelaki itu menemui ajalnya seketika. Sementara Dewi Anjarwati yang tak tahu bahwa dirinya sudah menjadi janda, tetap menanti kedatangan suaminya di bawah air terjun sesuai amanat suaminya. Waktu pun berganti dan tak ada yang mengetahui kelanjutan nasib Dewi Anjarwati. Konon ia menghabiskan sisa hidupnya di bawah air terjun. Tak ada yang tahu.

Tapi kisah roman yang pilu ini ternyata membawa dampak ekonomi pada masyarakat sekitar. Kini, air terjun tempat Dewi Anjarwati menghabiskan hari-hari sepi dalam penantiannya itu dikenal dengan nama Coban Rondo. Dalam literatur Jawa artinya air terjun janda. Coban Rondo kini adalah salah satu objek wisata favorit warga Malang dan sekitarnya. Saat saya tiba, tak ada kesan suram seperti nasib Dewi Anjarwati. Yang saya lihat justru rombongan keluarga dan remaja yang sedang menghabiskan hari libur dengan penuh ceria. Zaman telah berubah drastis tampaknya.

Saya beruntung, hari itu debit air cukup deras. Dari jarak sepuluh meter, saya sudah bisa merasakan butiran air yang mulai membasahi wajah. Lebih dekat lagi, nampaknya saya harus siap dengan kondisi basah kuyup. Dengan ketinggian 84 meter dan angin yang kadang bertiup kencang, saya harus bersiaga jika tiba-tiba arah angin berubah butiran air menerpa wajah dan badan saya. Tak ada pengunjung yang berani berdiri langsung di bawah siraman air terjun.Β  Dewi Anjarwati pastilah sosok wanita yang sangat tangguh saat menunggu suaminya. Konon ia menunggunya di sebuah batu yang letaknya tepat di bawah siraman air terjun.

Tanah yang berbukit di sekeliling air terjun memudahkan saya untuk mencari sudut terbaik untuk menikmati pemandangan. Pengelola juga menyediakan beberapa pondokan dan taman di sekeliling air terjun. Saya naik ke sebuah bukit di sisi kiri air terjun dan menemukan tempat yang paling tepat untuk membunuh waktu. Jalur di sepanjang bukit memang agak berbahaya, tapi cukup aman untuk dilalui orang dewasa.

Di sekitar air terjun, saya dapat melihat monyet-monyet berkeliaran. Meskipun tergolong liar, tapi perilaku hewan-hewan ini terbilang manja karena sering meminta makanan dari pengunjung. Beberapa ekor dari mereka bahkan lari ke dalam hutan saat pengunjung mendekatinya. Label objek wisata telah membuat hewan-hewan liar ini kehilangan taji berburunya.

Meski lokasi Coban Rondo dikelilingi hutan, tapi sebuah papan peringatan menarik perhatian saya. Dalam kondisi tertentu, ancaman banjir dan longsor masih bisa terjadi di wana wisata yang dibangun tahun 1980 ini. Dari informasi setempat, saya mengetahui bahwa kondisi air di Coban Rondo sangat bergantung pada hutan di sekitarnya. Jika hutan tak rusak, maka debit air akan stabil. Tapi jika hutan tak terjaga, maka bisa jadi banjir melanda. Dengan kekuatan 150 liter air per detik pada kondisi normal, saya tak dapat membayangkan apa yang terjadi jika hutan sekitar mengalami kerusakan.

Semakin siang keadaan semakin ramai. Rombongan keluarga semakin berdatangan memenuhi pintu gerbang. Jika dulu tempat ini menjadi saksi lakon asmara yang tragis dan pantangan bagi pengantin baru, kini justru jadi salah satu penopang ekonomi warga sekitar. Zaman boleh berganti, tapi legenda Dewi Anjarwati tetap setia menanti di Coban Rondo.

Iklan

4 responses to “Cinta Setia di Coban Rondo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s