Sepenggal Sejarah di Fengjing Town

Roda pembangunan di Cina bergerak semakin cepat. Sementara Shanghai sudah dipenuhi pencakar langit, Fengjing Town, tetangganya, tetap bertahan dengan gaya Tiongkok Klasiknya. Fengjing Town, dulu pernah menjadi pusat kebudayaan Negeri Cina.

Kaisar Xuande yang berasal dari Dinasti Ming ternyata punya peran besar dalam pariwisata Shanghai masa kini. Dalam masa pemerintahannya, Kaisar Xuande pernah menetapkan sebuah kota kecil di barat daya Shanghai bernama Fengjing Town menjadi sebuah kota pusat kebudayaan. Fengjing Town sebenarnya sudah ada sejak lama. Pada era kekuasaan Dinasti Yuan (1271-1368), kota ini bernama Bainiu. Apa yang saya baca tentang Fengjing saat ini adalah sebuah desa wisata yang terkenal dengan wisata sungainya dan warisan kebudayaan Cina kuno yang tetap lestari.

Fengjing memang tak berkembang semegah Shanghai, tetangganya. Dengan menempuh jarak satu jam perjalanan dari kemewahan Shanghai, Fengjing seperti membawa saya ke masa lalu Tiongkok. Tak cuma itu, karena predikatnya sebagai water village, saya jadi terbayang suasana di kota Venesia.

Perjalanan saya di Fengjing dimulai di sebuah jembatan yang melintasi Sungai Yangtze. Konon daerah ini dulunya memiliki 52 jembatan meskipun kini hanya tersisa belasan saja jumlahnya. Banyak jembatan di Fengjing berbentuk seperti segi tiga dan beberapa di antaranya melengkung seperti pelangi. Meski sudah beberapa kali mengalami renovasi, jembatan di sini masih asli terbuat dari batu dan beberapa dari kayu. Menjaga warisan dari para arsitek leluhur sebelumnya.

Saya menjajal river cruise dengan menggunakan perahu kayu yang masing-masing memuat 4 hingga 6 penumpang dan seorang pendayung yang menjalankan tugasnya sambil berdiri di buritan perahu dan memegang dayung besar.

Tur seharga 125 Yuan ini mengambil rute menyusuri kanal-kanal yang membelah Fengjing. Menurut catatan sejarah, terdapat 29 kanal yang merambah Fengjing. Perahu memasuki beberapa kanal yang kanan-kirinya dipenuhi toko-toko yang menjual makanan, souvenir, keramik dan lukisan. Meski warga lokal sudah sangat lama hidup berdampingan dengan sungai, tapi selama saya menyusuri sungai dan kanal, tak satu pun saya menemui sampah di sini.

Perahu membawa saya ke beberapa sudut Fengjing yang jauh dari kesan modern. Bangunan di sini masih mengadopsi arsitketur tradisional. Gang-gang kecil dilandasi lantai dari batu dengan kondisi yang sangat bersih. Lampion merah bergelantungan di beberapa bagian jalan. Banyak turis asing yang menghabiskan waktunya di sini. Mungkin Fengjing membawa memori mereka ke Venesia yang juga dikelilingi air.

Kekayaan Fengjing sebenarnya terletak di dalam gang-gang sempit ini yang tersebar di penjuru kota. Sebagai pusat kebudayaan di masa lampau, Fengjing hingga kini masih  banyak menyimpan sejarah seni dan budaya. Seniman besar Cina yang terkenal dengan karya-karya lukisan minyak dan karya komiknya, Cheng Shifa, lahir di sini. Ada juga sebuah bangunan yang memamerkan karya-karya Ding Chong, kartunis Cina.

Warisan seni tampaknya begitu dijaga di Fengjing. Kio-kios yang bertebaran di sepanjang gang banyak yang menjual barang-barang kerajinan seperti alat musik tradisional, lukisan, hiasan dari kayu dan rotan, aneka kerajinan tangan dan keramik. Meski banyak juga yang menjual souvenir bergaya modern seperti gantungan kunci, tas, topi, kipas tangan dan aneka jenis t-shirt.

Soal kuliner, Fengjing juga memiliki ciri khas. Menurut informasi, Fengjing terkenal Pork Knuckle (kaki babi) yang dijual di kios-kios. Sebaiknya berhati-hati saat menyantap kuliner di sini, karena sepanjang pengamatan, saya tak menemukan restoran halal.

Saya menelusuri gang-gang yang mengarah ke kanal. Entah kanal yang mana, Fengjing memang memiliki banyak sekali kanal. Jembatan-jembatan kecil juga banyak tersebar di sepanjang kanal. Maklum saja, Fengjing memang dipadati pemukiman. Untuk bisa menjangkau seluruh daerah dengan mudah, jembatan mutlak dibutuhkan.

Di sisi kanan di luar Fengjing, saya mendapat beberapa blok bangunan-bangunan yang bergaya minimalis. Roda modernisasi bergerak cepat di luar sana. Sementara Fengjing tetap bertahan bersama penggalan sejarah budaya Cina. Bangunan di luar ini berdesain jauh lebih modern dari bangunan yang ada di pusat Fengjing. Sepertinya pemerintah setempat ingin mendirikan kafe-kafe dan restoran bergaya modern di sekitar Fengjing. Mereka ingin memoles daerah sekitar Fengjing dengan suasana urban. Kini memang masih sepi, tapi entahlah lima tahun lagi. Pemerintah Cina menggerakkan roda pembangunan dengan sangat cepat.

Sponsored by:

AirAsia

Iklan

3 responses to “Sepenggal Sejarah di Fengjing Town

  1. Halo
    Maaf mau tanya, dari Shanghai ke Fengjing transportasinya apa ya?
    Pengen banget ksana.
    Makasih banyak ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s