Komedi Tragedi Sampek Engtay

Konon pesan sebuah cerita lebih mudah masuk melalui tangis daripada melalui tawa

Kata Dalang yang diperankan oleh Emanuel Handoyo dalam pembukaan lakon Sampek Engtay di Gedung Kesenian Jakarta 12 Maret silam. Konon, air mata pulalah yang membuat kisah Romeo dan Juliet begitu masyur. Kini, Teater Koma kembali menggelar legenda melodramatik asal Tiongkok ini setelah setelah selama 85 kali dalam kurun 25 tahun mementaskannya di beberapa kota di Indonesia.

Sampek Engtay sendiri adalah kisah tragedi cinta dari legenda Cina. Alkisah seorang gadis bernama Zhu Yingtai dari Zhejiang berniat mewujudkan cita-citanya yang kala itu dianggap tak lazim, yaitu mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Mengetahui cita-citanya tak bakal direstui oleh kedua orang tuanya, Zhu Yingtai akhirnya mengelabui orang tuanya dengan menyamar menjadi seorang laki-laki. Ia akhirnya berangkat ke Hangzhou untuk menimba ilmu. Dalam perjalanan ia berjumpa dengan Liang Shanbo dan berjanji untuk menjadi saudara selamanya.

Selama menuntut ilmu, Zhu Yingtai mulai menaruh hati pada Liang Shanbo. Penyamaran Zhu Yingtai pun akhirnya terbuka dan membuat mereka saling jatuh cinta. Tapi nasib berkata lain. Zhu Yingtai sudah dijodohkan oleh orang tuannya. Liang Shanbo pun kecewa dan jatuh sakit hingga akhirnya meninggal. Saat pernikahannya, Zhu Yingtai berdoa di makam Liang Shanbo dan meminta agar pintu makamnya terbuka. Permintaan ini ternyata menjadi kenyataan dan Zhu Yingtai pun masuk ke dalam makam untuk bersatu dengan jasad Liang Shanbo. Mereka pun akhirnya menjelma menjadi sepasang kupu-kupu dalam kehidupan yang lain.

Kisah yang menyayat hati ini dikemas berbeda oleh Teater Koma. N Riantiarno menggubah sedikit kisah ini meski masih dalam pakem yang tidak merusak alur cerita. Engtay yang aslinya berasal dari Zhejiang diubah menjadi dari Serang. Ia tidak menuntut ilmu ke Hangzhou, tapi ke tanah Betawi. Sedangkan Sampek dipermak menjadi pemuda asal Pandeglang. Meski disadur dari legenda Tiongkok, tapi Teater Koma membawakannya dengan gaya Betawi dan bahkan sedikit menyelipkan gaya Sunda dan Batak.

Bayangan saya akan sebuah pentas yang akan menguras air mata ternyata keliru. Andhini Puteri Lestari yang memainkan tokoh Suhiang memaksa saya untuk tersenyum-senyum sendiri. Karakter centil-nya tak jarang memancing tawa penonton.

Kekuatan pengglembengan karakter dari Teater Koma terbukti dari maksimalnya penampilan semua pemainnya. Tuti Hartati (pemeran Engtay) tampil memukau dengan karakternya sebagai gadis “pemberontak” yang ingin mengubah kondisi saat itu di mana wanita tak boleh menuntut ilmu dan hanya boleh mengangguk setuju kala dilamar calon suami. Ade Firman Hakim (pemeran Sampek) juga tampil mengesankan dengan karakter pemuda polos, kaku, tidak romantis dan hanya hobi belajar sambil selalu menenteng buku tebal ke mana-mana.

Kontradiksi dua sifat inilah yang seringkali ditampilkan secara unik. Saat mengetahui bahwa Engtay sebetulnya adalah seorang gadis, misalnya. Sampek terkejut bukan main tapi di satu sisi, rasa ingin tahunya memaksanya untuk ingin melihat tubuh polos Engtay. Tentu saja ini sebuah kejutan bagi penonton yang selama dua jam sebelumnya sudah dicekoki dengan karakter “alim” sang pemuda asal Pandeglang itu.

Tak mau kalah, tokoh antagonis seperti Macun juga sukses membuat penonton terhibur. Meski perannya adalah sebagai penghalang cinta Sampek dan Engtay, tapi kemampuan Pandoyo Adi Nugroho (pemeran Macun)  menampilkan karakter dengan mimik wajah dan gerak-geriknya berhasil mendulang tawa.

Kejutan lain datang dari Rita Matu Mona, pemeran Nyonya Nio (ibunda Sampek) yang bergabung dengan Teater Koma dari tahun 1980. Meski kisah ini berlatar Tiongkok, tapi Nyonya Nio tampil dengan dialek Batak yang kental.

Meski kerap menampilkan dialog yang mengocok perut, pentas tetap diakhiri dengan air mata. Seperti tak ingin mengubah benang merah cerita, Teater Koma juga tak mau terjebak dalam tampilan komedi belaka. Sampek meninggal karena sakit yang berkepanjangan. Engtay menyusulnya ke alam kubur. Macun pun gagal menikah. Tangisan membahana saat pintu makam terbuka dan sepasang kupu-kupu keluar dari dalamnya. Sampek dan Engtay kini menyatu dalam kehidupan yang berbeda.

Kesuksesan Sampek Engtay saat ini memang tak lepas dari masa lalunya yang berliku. Tahun 1988 Teater Koma nyaris batal mementaskan lakon ini. Penguasa saat itu cukup gerah dengan atmosfir Cina yang memenuhi gedung pertunjukan.

Maka dalam tempo hanya 25 menit kami mengubah semuanya.  Spanduk di luar teater kami copot. Di panggung, apa pun yang bernuansa Cina dihapus dan diganti dengan huruf-huruf latin”

Tulis N. Riantiarno pada buklet yang dibagikan saat pertunjukan. Tak berhenti di situ, setahun kemudian, tepatnya pada 20 Mei 1989, Sampek Engtay terpaksa dicekal di Medan oleh Kementrian Pendidikan kala itu.

Waktu kini telah berganti. Sampek Engtay tak lagi dibatasi ruang geraknya. Zaman telah berubah. Setelah 25 tahun dan 85 pertunjukan, Sampek Engtay tetap dipuja dan dinantikan penontonnya. Kisah tragedi asmara memang tak pernah mati. Malam itu Gedung Kesenian Jakarta di bilangan Pasar Baru dipadati oleh penonton lintas generasi. Emanuel Handoyo, Sang Dalang, mungkin benar. Pesan dalam sebuah kisah mungkin lebih mudah diterima dengan air mata.

Iklan

6 responses to “Komedi Tragedi Sampek Engtay

  1. Maaf, mungkin bisa sedikit koreksi. Jinsim bukan ibunda Sampek melainkan salah satu pembantu rumah tangga (atau bujang) keluarga Ciok Engtay. Sedangkan Nyonya Nio (ibu Sampek) diperankan oleh Rita Matu Mona, yang belakangan sering bermain dalam OPERA BATAK bersama Voice Of Indonesia (Rio Silaen).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s