House of Raminten: Sukses dengan Ide Nyeleneh

Kami ini semua lulusan “SLB” Kalo agak lama harap maklum karena kami Kenthir

Tulisan itu terpampang besar dalam sebuah rumah makan saat saya memasuki bagian depannya. Dalam literatur Jawa, kata Kenthir diartikan sebagai Gila. Lalu, apa jadinya bila definisi yang tak nyaman ini ternyata justru digunakan untuk memperlancar bisnis, terutama bisnis kuliner?

House of Raminten, keberadaannya yang cukup populer di seantero kota Yogyakarta ini justru memilih jalan nyeleneh  untuk menarik pelanggannya. Memasuki bagian depan restoran yang terletak di Jalan FM Noto no 7, Kota Baru, saya tidak langsung berhadapan dengan area lobby yang dipadati meja makan. Tapi justru ruang tunggu dengan deretan kursi , dua buah kereta kuno ala Kesultanan Mataram dan beberapa foto sang pemilik restoran.

Aksi tak biasa rumah makan ini terlihat dari beberapa tulisan di area ruang tunggu. Papan peringatan untuk para tamu misalnya. Tertulis: Mohon perhatian! “Barang” anda (handphone, dompet, sisir, kaca mata, tas, jaket, tas, topi, gergaji, setrika, dll) supaya jangan sampai ketinggalan. Raminten tampaknya tak ingin para tamunya antri menunggu dengan perasaan bosan.

Adalah Hamzah Sulaeman, nama di balik suksesnya House of Raminten, yang memiliki perjalanan bisnis berliku mengembangkan usahanya ini. Nama Raminten diambil dari tokoh Raminten yang pernah diperankan Hamzah dalam sebuah program bernama Pengkolan yang pernah tayang di TVRI. Raminten sebetulnya adalah tokoh wanita. Dalam program itu, Hamzah berdandan ala wanita Jawa, lengkap dengan kebaya dan sanggulnya.

Bertandang ke restoran yang satu ini memang berbeda dengan restoran pada umumnya. Suasana Jawanya begitu kental terasa. Alunan gending Jawa mengalun tanpa henti. Pelayan yang mondar-mandir meladeni tamu juga berparas elok dan mengenakan fesyen kasual yang dikombinasi dengan batik. Mereka menenteng sebuah handy talky untuk berkomunikasi dengan rekan lainnya. Bisa dimaklumi, karena kunjungan tamu yang memang selalu padat di rumah makan ini.

Suksesnya House of Raminten ternyata berangkat dari ide Hamzah yang saat itu hanya iseng mengisi kegiatan. Pensiun dari mengurus bisnis sebelumnya, yaitu toko souvenir Mirota yang terletak di Jalan Malioboro, Hamzah kemudian iseng berjualan mie di sebuah pendopo yang tadinya merupakan tempatnya berlatih menari. Tak disangka, berjualan mie ini ternyata menarik banyak pembeli. Usaha pun berkembang.

Pada tanggal 26 Desember 2008, House of Raminten resmi berdiri. Dengan mengusung konsep unique, antique, elegant, kini saya harus mengantri selama lebih dari tiga puluh menit untuk bisa menikmati menu-menunya. Bisnis yang bermula dari keisengan Hamzah ini kini mendulang emas.

??????????????????????

Konsep House of Raminten dalam menghadirkan menu juga unik dan berbeda. Hamzah menyajikan hidangan-hidangan khas masyarakat Yogyakarta yang bahkan selama ini identik dengan masyarakat kelas bawah. Nasi Kucing, misalnya, dihargai sama dengan harga yang ada di kaki lima. Es Kelapa yang banyak dijual di gerobak pinggir jalan, disajikan dengan ukuran jumbo dan gelas cantik yang sangat besar. Menu-menu lain bahkan tidak saja mengenyangkan perut, tapi juga menggelitik perut. Sebut saja Es Perawan Tancep, Susu Putih Mulus, Ayam Koteka dan Es Monster (lemon serei). Dengan harga yang tergolong sangat terjangkau, tak heran jika hampir setiap waktu rumah makan ini dipadati pengunjung.

Seporsi Nasi Kucing, Ayam Koteka dan segelas Es Monster menjadi menu pilihan saya hari itu. House of Raminten tampaknya ingin menempatkan nasi yang identik dengan warga kelas bawah ini di tempat yang lebih mewah. Tapi dengan harga yang tidak berubah. Nasi Kucing yang biasanya ada di angkringan, kini hadir dengan sebuah kemasan cantik. Ayam Koteka awalnya terdengar agak aneh buat saya. menu yang terdiri dari daging ayam yang diolah dengan telor dan dimasak pada sebilah bambu ini bentuknya memang agak mirip dengan koteka.

House of Raminten tampaknya juga ingin berkomunikasi pada pelanggan melalui presentasi hidangan. Nama garang Es Monster dihadirkan dengan sebuah gelas yang berukuran cukup tinggi. Minuman yang terdiri dari irisan lemon dan daun serei ini berhasil mengusir dahaga akibat udara panas yang saya rasakan hari itu di Yogyakarta.

Sebagai salah satu restoran favorit warga Yogyakarta, House of Raminten melayani tamunya selama 24 jam sehari. Hampir setiap hari antrian tamu tak kunjung reda. Bisnis yang berawal dari keisengan ini tak lagi sebuah usaha main-main. Aksi nyeleneh Hamzah ternyata berbuah berkah. Pelanggan tetap berdatangan dan rela antri, meskipun restoran ini rela melabel diri mereka dengan sebutan kenthir lulusan SLB.

Iklan

8 responses to “House of Raminten: Sukses dengan Ide Nyeleneh

  1. Raminten memang cukup dikenal di Jogja, tapi lebih dikenal lagi oleh wisatawan. Warga lokal ke sana paling ketika harus menemani teman2 yang datang dari luar kota.

    tapi memang, di balik keisengan yang tampak, pendirinya agaknya punya pertimbangan dan perencanaan yang matang. konsepnya jelas, dan kalau konsep sudah jelas, misi patsi akan berjalan dengan lancar. tinggal mengikuti pakem2 yang sudah tertanam di kepala.

  2. Ping-balik: Selayang Pandang Yogya 2014 « Fajar Ichwan's Blog·

  3. agak kecewa dg pelayanan yg house raminten di mirota malioboro, pelayannya yg kebanci-bancianya sangat ga ramah

  4. baru kmrn saya ke mirota yg di malioboro, kasir nya nyebelin dan tdk sopan, ( ada brg yg saya tdk jadi beli saya singkirin itu blm di hitung, e….sama kasirnya dilempar begitu aja sangat tidak sopan, jgn mentang2 rame trs pelayanan nya seperti itu jadi tdk recomen).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s