Jungkir Balik Opera Jawa dalam “Selendang Merah”

Alunan gending Jawa arahan Rahayu Supangga mengalun pelan mengiringi sinar biru di lantai panggung yang berbentuk lingkaran. Beberapa penari memasuki panggung menandakan adegan awal dari pentas Opera Jawa: Selendang Merah besutan Garin Nugroho di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Acara yang didukung Djarum Apresiasi Budaya ini membuat takjub penonton yang memenuhi gedung pertunjukan pada 13-14 April 2013 lalu.

Penonton yang mulia. Kalian adalah alam raya. Kami hanya panggung kecil. yang mengajak Anda melihat perjalanan alam raya ini

Sebuah teks yang terpampang sebagai latar panggung membuka pertunjukan Opera Jawa: Selendang Merah. Ini tak cuma sekedar pentas, tapi juga untuk memperingati 8 tahun lahirnya Opera Jawa.

Berawal dari tahun 2005, salah seorang sutradara teater kontemporer terkemuka asal Amerika, Petter Sellars bersama Simon Field (mantan Direktur Rotterdam Film Festival) dan Keith Griffith (produser dokumenter instalasi art) memilih 5 sutradara untuk memproduksi sebuah film dalam rangka perayaan hari kelahiran seniman besar Mozart di Wina.

Opera Jawa kemudian digagas oleh Garin Nugroho. Lahir dari keluarga yang kental dengan sastra dan tradisi Jawa,  kehidupan Garin tak pernah lepas dari seni pertunjukan Jawa seperti Ketoprak, tari, sastra dan ritual sehari-hari termasuk dunia wayang.

Opera Jawa ternyata menuai berkah. Perjalanan panjangnya pun dimulai. Berawal dari sebuah film, Petter Sellars kemudain meminta Garin Nugroho untuk mentransformasikan karyanya dalam bentuk teater, tari dan instalasi art.

Transformasi pertama lahir dengan tajuk Ranjang Besi dan kemudian disusul dengan Tusuk Konde yang bekerja sama dengan Anmaro Production untuk merayakan 100 tahun Tropen Museum di Amsterdam. Kini, engan transformasi baru, Opera Jawa kembali hadir dengan tajuk Selandang Merah.

Dalam filosofi Jawa, selendang merah memiliki arti khusus dalam seni pertunjukan yang lekat dengan kehidupan sehari-hari orang Jawa. Dikenal juga dengan nama “sampur”, selendang adalah aksesoris yang akrab dengan penari. Istilah “ketiban sampur” dalam seni pertunjukan bisa diartikan sebagai ajakan berjoged. Arti ini kemudian berkembang lebih luas. Ketiban sampur dapat diartikan sebagai diberi penghormatan, berkah, kesempatan dan bahkan juga beban atau diajak sesuatu yang tak bisa ditolak.

Pengangkatan budaya Jawa dalam pentas ini menurut Garin, tetap menghadirkan unsur-unsur lain seperti Minang, Nias dan Papua. Kekuatan Opera Jawa juga didukung oleh keberagaman talenta di dalamnya. Sebut saja Rahayu Supanggah yang mampu melakukan lompatan besar dari gamelan klasik hingga ke karya-karya kontemporer. Danang Pamungkas, yang memiliki pengalaman dalam dunia tari kontemporer setelah menjadi penari di Cloud Gate Dance Company di Taiwan. Dan yang tak kalah menarik adalah penari Cahwati dengan kemampuan tubuh dan vokal Banyumas yang kuat. Ada juga Sruti Respati, soloist profesional yang sudah tampil dalam banyak pagelaran seni di dalam maupun luar negeri. Dalam satu kesatuan, Opera Jawa adalah kumpulan talenta multikultural.

Alkisah sebuah rombongan Ledhek (jenis kesenian) pimpinan Tuan Ledhek sedang berupaya menangkap seekor monyet yang kemudian diberi nama Hanoman. Tuan Ledhek kemudian melatih Hanoman menjadi monyet yang kejam dan keras.  Kejadian ini kemudian menarik simpati dari istri Tuan Ledhek, yaitu Sri Ledhek.Sri Ledhek lalu menyelimuti Hanoman dengan selendang merah yang berarti “ketiban sampur”.

Selendangmu telah kamu lempar kepada banyak laki-laki. Kamu tidak lagi milikku.

Rombongan ini lalu berkeliling desa. Di tengah perjalanan, konflik rumah tangga Tuan Ledhek dan Sri Ledhek semakin meruncing. Tuan Ledhek merasa Sri Ledhek bukanlah milik cinta pribadinya. Pasalnya, sebagai penari Tayub, lemparan selendang merah ke penonton berarti bahwa tubuh Sri Ledhek menjadi milik umum.

Persoalan terus meruncing saat rombongan ini tiba di sebuah desa yang baru saja terkena musibah. Tanaman mereka rusak karena diserang hama sejenis monyet yang kelaparan. Pemimpin desa lalu menyuruh Tuan Ledhek untuk memimpin upacara tolak bala. Mereka percaya bahwa upacara tolak bala berupa tarian persetubuhan antara penari Tayub dan monyet akan memberikan keseimbangan alam dan manusia.

Tapi Hanoman menolak melakukan upacara tolak bala, karena menurutnya yang menyerang desa adalah monyet-monyet yang kelaparan karena hutan mereka telah ditebang oleh manusia. Musibah itu adalah akibat ulah manusia itu sendiri.

Tuan Ledhek kemudian memaksa Hanoman untuk melakukan upacara itu dengan mencambuk tubuh Hanoman secara brutal. Di balik kebrutalan lecutan itu, sebetulnya tersimpan rasa cemburu Tuan Ledhek yang merasakan adanya hubungan antara Hanoman dengan Sri Ledhek, istrinya.

Jangan cambuk tubuh manusia. Darahnya akan menjadi sungai panjang darah merah. Yang aku tidak tahu di mana berhentinya.

Pada puncak upacara tolak bala, akhirnya Hanoman harus melakukan tarian percumbuan dengan Sri Ledhek. Di saat itulah tiba-tiba Hanoman mendapat semacam pencerahan untuk kemudian menyadari bahwa sebenarnya ia bukan sekedar seekor monyet, tapi juga manusia dan dewa.

Dalam transformasi itu, Hanoman justru mengajak Tuan Ledhek untuk bertarung. Hanoman yang sebelumnya adalah hanya seekor monyet pertunjukan, kini berdiri tegap menantang majikannya. Ia telah menjadi manusia dan dewa. Mereka pun beradu tarung.

Sri Ledhek merasa bahwa sampur merahnya telah membawa sebuah drama kehidupan yang menuntut sebuah keputusan yang tidak mudah bagi dirinya. Di tengah dunia yang serba jungkir balik, manusia telah menjadi binatang dan binatang menjadi manusia.

Iklan

One response to “Jungkir Balik Opera Jawa dalam “Selendang Merah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s