Pentas “Soekma Djaja” oleh Teater Abang None Jakarta

Roda pembangunan ibukota semakin kencang berputar. Sebuah Metromini, angkutan umum khas ibukota berebut penumpang dengan garang, asap knalpot menebar kimia timbal, gerombolan anak sekolah menghabiskan waktunya dengan berjongkok di sepanjang jalan sambil menghisap selinting kretek, seakan tak ada kewajiban menyerap ilmu di bangku sekolahan. Para karyawan sibuk dengan telepon genggamnya. Sepasang muda-mudi bergandengan mesra di tengah debu dan deru padatnya lalu lintas. Itulah potongan kecil drama kehidupan warga Jakarta yang kadang carut-marut, kadang berbuah manis.

Fragmen kehidupan ibukota inilah yang kemudian oleh Teater Abang Nona Jakarta dipentaskan dalam medium drama, tari dan musik. Gedung Kesenian Jakarta hari Selasa, 4 Juni 2013 menjadi ajang pentas teater yang pemainnya diisi oleh para peserta Abang None Jakarta ini.

Berbeda dengan pentas teater lainnya, pentas teater yang bertajuk Soekma Djaja ini tampil sedikit berbeda. Mengusung budaya Betawi yang kental, lakon yang dipentaskan uhtuk menyambut rangkaian Jakarta Anniversary Festival ini mengawali pertunjukan dengan adu pantun di pintu masuk teater. Kelompok pementas harus berhadapan dengan kelompok penjaga gedung. Berawal dari berbalas pantun ala Betawi dilanjutkan dengan saling adu jurus pencak silat. Semuanya khas jagoan ala Betawi.

Sandiwara musikal Soekma Djaja ini menuturkan potret kehidupan sebuah keluarga Betawi pinggiran yang masih mempertahankan tradisi music Betawi, Gambang Kromong. Dikisahkan, keluarga seniman ini hidupnya semakin sulit karena desakan ekonomi yang tidak dapat dipenuhi dari pemasukan sebagai penggiat Gambang Kromong. Apalagi tradisi musik ini semakin tergerus oleh arus zaman modern.

Berbagai cara pun dilakukan oleh keluarga Maman Djaja untuk bertahan hidup. Namun, Jaya (diperankan Bobtriyan Tanamas), si sulung peraih bea siswa di kampus ternama, sama sekali tidak berminat terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kesenian Betawi. Sementara Yadi (diperankan Lutfi Ardiansyah), si bungsu yang duduk di bangku SMA malah bertekad untuk meneruskan keluarga ayahnya tersebut.

“Berangkat dari kondisi itulah kami mewakili generasi penerus yang ingin melestarikan kebudayaan daerah kami sendiri yaitu Betawi sebagai akar budaya kota Jakarta melalui Teater Abnon membuat sebuah pementasan Soekma Djaja agar masyarakat menyadari keberadaan kesenian tradisi yang hampir terlupakan dan bagaimana kondisi yang dialami sebagian besar seniman Gambang Kromong,” ujar Maudy Koesnaedi, sang produser.

Pertunjukan berlangsung cukup menarik dengan menyajikan plot cerita yang sederhana diselingi musik, tari dan film. Tommy Tjokro, presenter ternama yang juga merupakan Abang Jakarta tahun 2003 juga tampil sebagai pembaca berita di pentas ini.

Para pemain juga tampil menawan, meski di beberapa sesi, terutama saat harus menyanyikan lagu, suara vokal seringkali tenggelam dan kalah dengan instrumen. Karena ini adalah drama budaya Betawi, maka pentas ini juga tak lepas dari selipan komedi khas Betawi yang mengocok penonton. Terutama dialog-dialog Yadi dan rombongan Gambang Kromongnya yang sering ceplas-ceplos.

Teater Abang None Jakarta adalah organisasi non-profit yang bergerak di bidang seni dan budaya, khususnya seni pertunjukan budaya Betawi. Didirikan atas prakarsa Maudy Koesnaedy, awalnya teater ini hanya beranggotakan Abang None Jakarta Utara. Melihat animo yang begitu tinggi, maka akhirnya teater ini dibuka untuk semua wilayah Jakarta sehingga terbentuklah Teater Abang None Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s