Generasi Muda Sriwedari

Mereka adalah anak-anak muda yang mengusung era baru Wayang Orang Sriwedari. Mereka juga yang membuktikan bahwa kawula muda mampu berdedikasi pada seni budayanya sendiri.

Wayang Orang Sriwedari memenuhi janji mereka untuk menghibur warga Jakarta yang haus akan sejatinya pentas seni tradisi. Kamis 21 Juni 2013 di Gedung Kesenian Jakarta, grup wayang orang legendaris asal Solo ini mementaskan aksi pertamanya yang bertajuk “Arjuna Tinandhing”. Bekerja sama dengan komunitas BudayaKu, pagelaran ini sekaligus menggenapi rangkaian acara Jakarta Anniversary Festival yang diadakan dari tanggal 5 – 23 Juni 2013.

Seperti janji sebelumnya bahwa Wayang Orang Sriwedari akan menampilkan seni tradisi wayang orang klasik, pentas malam itu memang banyak memberikan gambaran pada penonton muda masa kini tentang seni wayang orang yang sesungguhnya.

??????????????????????

“Sekarang ini ada pentas wayang orang kontemporer yang justru merusak nilai wayang itu sendiri”, jelas Agus Prasetyo, pimpinan Wayang Orang Sriwedari. “Sosok Arjuna ditampilkan dengan adegan kungfu dan salto. Saya jelas tidak setuju,” lanjutnya. Menurutnya,tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan itu harus ditampilkan sesuai dengan karakter aslinya. “Jika Anda memakai kostum Arjuna, berarti Anda harus siap menarikan gerakan Arjuna yang sebenarnya. Bukan salto atau kungfu”, tegas Agus. Itu sebabnya dalam pentas perdana ini pihak BudayaKu juga mengundang pelajar SD, SMP dan mahasiswa agar seni tradisi mulai dikenal sejak usia dini.

Lakon “Arjuna Tinandhing” sendiri berkisah tentang perseteruan Dewa Srani, putra penguasa Jonggring Saloka dengan Arjuna. Pasalnya, Batara Guru, ayah Dewa Srani menganugerahkan gelar Lelananing Jagad kepada Arjuna dan bersanding dengan Batari Supraba. Perseteruan pun berlanjut, bercampur baur antara kepentingan pribadi para dewa dengan kebijaksanaan untuk menata jagad pramudita. Perpecahan di antara para dewa pun tak terelakkan.

Pemilihan lakon ini juga disesuaikan dengan kondisi negara saat ini. Di mana kepemimpinan yang sejati telah hilang. Banyak pemimpin yang mengikuti kemauannya sendiri, bukan kepentingan orang banyak.

Pentas ini, meski tanpa menggunakan backdrop sebagai latar panggung, tetap tersaji dengan apik. Nanang Hape sebagai penata artistik menampilkan latar panggung yang minimalis. Mungkin karena kekuatan dari tarian itu sendiri sudah bisa menjadi pusat perhatian penonton. Hal ini juga ditegaskan Agus Prasetyo bahwa untuk memilih kostum saja mereka melakukan riset dan membuatnya dengan sangat mendetil. “Saya ingin kostum ini mendekati wayang orang klasik seperti waktu dipentaskan di Mangkunegaran dulu”, tegas Agus.

Para pemain tampil sempurna. Tarian yang dibawakan pun di luar dugaan kerap membuat penonton –yang didominasi kawula muda – bertepuk tangan. Adegan pertempuran sengit juga sukses membuat pentonton terpana dengan decak kagum. Kesan wayang yang membosankan juga harus saya tepis jauh-jauh. Apa lagi jika bukan karena hadirnya Punakawan (Gareng, Bagong, Petruk, Semar) yang penuh canda namun sarat pesan moral.

Para pemain wayang juga kini tampil berbeda. Jangan bayangkan pemain yang sudah sepuh. Wayang Orang Sriwedari saat ini justru diramaikan oleh generasi muda. Billy, pemeran Kyai Semar, justru baru berusia 18 tahun dan merupakan pemain termuda. “Jika bukan saya, siapa lagi yang mau melestarikan budaya sendiri?” kata Billy disambut aplaus penonton. Agus Prasetyo juga membenarkan bahwa kini Wayang Orang Sriwedari didominasi oleh para pemain muda yang berdedikasi. Sebagian besar adalah para mahasiswa. Jadi, mungkin sudah saatnya kawula muda sekarang untuk tidak “malu” lagi mengenal budayanya sendiri.

Iklan

7 responses to “Generasi Muda Sriwedari

  1. ternyata nonton WO Sriwedari ga rugi, asyik banget malah, Kalo bukan kita sendiri yang bangga punya budaya sebagus itu trus siapa lagi ya, liburan juni 2014 anak saya 9 tahun tiap malam harus nonton pertunjukan ini. katanya Bagus bangeeet! Bravo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s