Mengunjungi Desa Para Penjagal

I eat this every day,” kata Ben sambil memegang seekor ulat sagu yang gendut ginak-ginuk. Ben adalah pemandu wisata di Monsopiad Cultural Village, Sabah. Usianya masih terbilang muda dengan potongan rambutnya yang ala Indian Cherokee. Ia mengenakan pakaian adat Kadazandusun. Etnis yang mendominasi Sabah, Malaysia. Ada 3 etnis yang mendominasi negara bagian Malaysia di utara Kalimantan ini. Kadazandusun adalah yang terbesar diikuti oleh Bajau dan Murut.


Monsopiad Cultural Village adalah semacam desa wisata yang kini menjadi lokasi wajib dalam agenda perjalanan para turis. Nama Monsopiad sebetulnya bukanlah nama desa semata. Monsopiad adalah nama ksatria setempat yang sangat disegani. Monsopiad hidup di masa head hunter sekitar 300 tahun lalu. Sebuah masa di mana kepala manusia lazim dijadikan seserahan untuk melamar wanita ke pelaminan atau sekedar trophy yang melambangkan kekusaan atau tingkat maskulin seorang pria. Semain banyak memenggal kepala manusia, semakin banyak respect yang didapat.

Sejarah setempat menuturkan bahwa Monsopiad adalah head hunter yang paling disegani di masanya. Tercatat, ia mengoleksi 42 kepala manusia. Catatan sejarah mengisahkan bahwa seekor burung Bugang (burung yang dianggap suci) tinggal di atap rumah Kizabon (ibu Monsopiad) selama masa mengandung bayi Monsopiad. Burung Bugang juga bersarang sambil mengerami telurnya. Saat Monsopiad lahir, telur-telur burung Bugang pun juga menetas.

Dunggou, ayah Monsopiad kemudian menganggap bahwa momen ini adalah pertanda baik. Hubungan antara keluarga Monsopiad dan burung Bugang terus berlanjut. Konon saat Dunggou memandikan Monsopiad di sungai, anak-anak burung Bugang pun turut dimandikan. Kebiasaan ini berlanjut hingga burung Bugang menjad dewasa dan mampu terbang sendiri.

Monsopiad tinggal di sebuah desa bernama Kuai. Semasa remaja ia sering melihat desanya diserang dan dirampok oleh suku lain. Monsopiad kemudian berkelana dan belajar untuk menjadi seorang ksatria. Ia berjanji untuk menghabisi semua lawan-lawan yang pernah merampok desanya. Misi Monsopiad berhasil. Ia kembali dengan membawa kepala-kepala manusia yang pernah merampok desanya.

Sekejap, Monsopiad pun disambut bak pahlawan. Reputasi Monsopiad sebagai head hunter kemudian menyebar ke desa-desa sekitar. Ia menjadi sosok ksatria yang paling ditakuti dari keturunan suku Kadazandusun. Bahkan saat ia meninggal pun kematiannya sangat dirahasiakan sehingga musuh-musuhnya tetap menganggap Monsopiad masih hidup dan tak berani mengganggu desanya.

Ketangguhan Monsopiad kini memang hanya bisa dikenang melalui Monsopiad Cultural Village. Desa wisata ini secara reguler juga menyuguhkan pentas tari tradisional bagi para turis. Yang menarik adalah pentas tetap berjalan meski saat itu hanya ada 1 orang pengunjung, yaitu saya! Demi saya seorang, 3 tarian digelar dan di sela-sela pertunjukan saya juga mendapat kehormatan untuk menari bersama mereka dan… foto bersama, tentunya. Hanya buat saya seorang!

photo by: Sabah Tourism Board

photo by: Sabah Tourism Board

Potret kehidupan di masa lalu juga menjadi deretan acara tur di Monsopiad. Tur ini seperti menggambarkan bagaimana kehidupan sehari-hari kaum Kadazan. Membuat api, misalnya. Saya berkesempatan membuat api dengan menggosok-gosokkan batang bambu yang dialasi rumput kering. Sama sekali tak mudah. Mungkin itu sebabnya Tom Hanks sempat frustasi dalam membuat api di film Cast Away.

Photo by: Sabah Tourism Board

Photo by: Sabah Tourism Board

Saya juga mencoba sumpit dan ketapel, senjata suku Khadazandusun di masa lampau. Sederhana tapi mematikan! Dulu, anak sumpit bahkan dilumuri racun dari tanaman. Manjur untuk perang antar suku! Aura peperangan masa lampau ini masih bisa saya rasakan di House of skull. Dari namanya saja, saya sudah bergidik duluan. Bayangan saya, ini adalah semacam rumah horror yang dipenuhi tengkorak manusia hasil tebasan maut Monsopiad. Rumah ini pasti angker!

Tapi bayangan saya meleset. House of skull sudah dirancang untuk keperluan pariwisata. Rumahnya berbentuk rumah panggung khas suku Kadazandusun. Di dalamnya terdapat lemari-lemari kaca yang memajang sesuatu yang berbau tradisi suku Kadazandusun. Tapi yang menarik adalah di bagian atas rumah. Beberapa jejer tengkorak manusia rapih tergantung di atap rumah. Aura seram sepertinya sudah tak setajam yang saya bayangkan sebelumnya. Beberapa foto Bobohizan terpampang di dinding rumah.


Bobohizan adalah kata lain dari semacam dukun di sebuah kampung. Lazimnya, Bobohizan adalah wanita meski tak jarang juga ada yang pria. Kini, keberadaan Bobohizan tak banyak ditemukan. Masuknya agama-agama sekuler ke dataran Kalimantan perlahan melunturkan budaya ini. Bahkan salah satu keturunan Monsopiad generasi ke 6, saat ini tinggal di sebelah House of skull dan menjadi tokoh pemimpin gereja setempat. Bukan memilih menjadi Bobohizan.

Budaya Bobohizan kini hanya hidup di belantara Sabah. Mungkin nantinya juga akan tenggelam seperti budaya jagal para head hunter. Entahlah! Yang jelas kaum muda di sini begitu bangga akan budaya leluhurnya. Monsopiad Cultural Village yang saya lihat ini dikelola dengan rapih oleh anak-anak muda setempat seperti Ben.

supported by:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s