Angkor Wat Dalam Lensa

Saya berada di tengah salah satu kekuatan besar Asia di masa lalu. Angkor Wat! Namanya mungkin kini lebih populer di brosur wisata atau dalam berbagi kisah antar sesama pelancong dari pada di kurikulum sejarah. Kerajaan Angkor dibangun dengan rentang sejarah yang cukup lama. Pergolakan, kemakmuran, masa keemasan, kehancuran dan masa kebangkitan, semuanya kini bisa dilacak pada dinding-dinding batu yang membisu.

Angkor Wat tak cuma sebidang candi. Bukan pula sekedar setumpuk batu yang disusun dengan arsitektur tingkat wahid.

Angkor Wat juga bukan sekedar peserta yang berebut label “wonder” melalui ajang voting ala pemilihan bintang idola.

Jayawarman II membangun Angkor sebagai pusat kekuatan bangsa Khmer. Saya menyusuri sisa-sisa kejayannya…

Bayon. Konon inilah persembahan cinta sang raja pada permaisurinya. Kini, sebagian jejak kemegahan asmara ini hanya berupa puing yang menjadi sasaran kamera turis.

Bayon memiliki perpusatakaan virtual. Dinding-dindingnya penuh cerita. Ribuan seniman pernah menorehkan ketrampilannya di sini. Mulai dari catatan pertempuran, kehidupan di pasar, interaksi sosial hingga kisah-kisah para dewa lengkap terekam di dinding batu ini. 

Turis kini berlalu-lalang di antara sisa-sisa kebesaran Angkor. Batu yang membisu dilumat oleh akar pohon liar yang kini menjadi incaran para turis. Tahun 1860, Henri Mahout menemukan Angkor Wat tersembunyi dibalik lebatnya hutan. Kota yang dianggap “hilang” itu kemudian ditemukan kembali.

Kebesaran Angkor saat ini dikenang melalui para peneliti dan turis yang selalu datang silih berganti. .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s