Forth Eorlingas!

Dua orang berpakaian ala serdadu Gondor berdiri di depan pintu, beberapa lainnya adalah wanita berpakaian ala penghuni Rivendell dan bahkan di antaranya ada yang berpakaian gaya petani penghuni Hobbiton, lengkap dengan dandanan kuping runcingnya.

Tunggu dulu! Ini bukan di Minas Tirith, kota yang dipahat dari tebing batu dalam kisah Lord of The Rings. Bukan juga Aula Emas milik kerajaan Rohan yang artistik itu atau Hobbiton yang dipenuhi bukit. Saya sedang menghadiri acara “The Long Expected Party” yang diadakan oleh komunitas Eorlingas (Indonesian Tolkien Society) di Museum Bank Mandiri Jakarta. Namun tak ada pesta bir sambil menghisap tembakau Longbottom leaf di sini.

Novia Stephani, salah satu penggagas komunitas pecinta Middle Earth ini bercerita banyak soal kiprah Eorlingas selama ini. Berdiri pada 12 Juli 2003, komunitas ini awalnya hanya terdiri dari sedikit orang. “Jumlah kami dulu bahkan bisa muat dalam satu taksi,” kenang Novia.

Jumlah anggota tak menyurutkan para Eorlingas. Tak lama setelah komunitas ini terbentuk, mereka sepakat untuk nonton bareng saat rilis pertama film Return of The King, lengkap dengan jubah Elves yang digunakan para Hobbit. Antusias terhadap kisah Lord of The Ring saat itu sangat minim. “Baca bukunya pun awalnya saya nggak ngerti“, kata Novia. Tapi justru setelah menyaksikan filmnya, Novia mulai jatuh cinta pada kisah ini.

Dwiki, salah seorang anggota komunitas Eorlingas mulai menyukai kisah ini sejak pertama kali menyaksikan film Fellowship of The Ring. “Saya suka karena dunianya,” jelas pria yang saat itu memakai baju ala Faramir, Sang Kapten dari Gondor.

Setelah itu Eorlingas mulai menggagas acara kecil-kecilan seperti nonton bareng film-film Lord of The Rings dalam versi extended. Kisah Lord of The Rings yang diadaptasi dari novel karya J.R.R. Tolkien ini memang memakan waktu panjang untuk menontonnya dalam bentuk film. Itulah sebabnya komunitas ini akhirnya memberanikan diri untuk membuat tantangan acara marathon nonton bareng trilogi Lord of The Rings. Acara pun sukses digelar dan para penggemar baru pun bermunculan.

“Setelah film The Hobbit, penggemar muda terus bermunculan. Mereka ini adalah para cosplayer dan gamer yang kini aktif meramaikan Eorlingas,” kata Novia. Nama Eorlingas sendiri dipilih karena menurut Novia, dalam kisah lord of The Rings, Aragorn pernah menyatakan kekagumannya pada kaum Eorlingas. Mereka tidak menguasai teknologi tinggi, tapi sangat setia kawan. Dan bisa jadi nama Eorlingas ini terbesit karena teriakan maut Raja Theoden saat pertempuran di padang Pelennor. Sebuah teriakan yang amat fenomenal bagi para pecinta karya Tolkien: Forth Eorlingas!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s