Ajang Seniman Muda di Galeri Indonesia Kaya

“Mas Nano (Riantiarno) pernah bermimpi punya teater dengan 100 kursi. Persis seperti ini,” kata seniman Butet Kertaradjasa saat jumpa pers pembukaan Galeri Indonesia Kaya, Kamis (10/10) di West Mall lantai 8 Grand Indonesia, Jakarta. Dengan memiliki luas bangunan 635 m² dan kapasitas 300 pengunjung, Galeri Indonesia Kaya yang diprakarsai oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini resmi dibuka untuk umum sejak tanggal 11 Oktober 2013.

Dengan memperkenalkan teknologi canggih, pengunjung diajak untuk kembali mengenal warisan kebudayaan Indonesia secara lebih menarik. Saat pertama memasuki ruangan, saya disambut oleh layar multimedia yang menampilkan pasangan muda-mudi Indonesia dengan pakaian daerah dan ucapan salam khas daerah masing-masing.

Area video mapping adalah area berikutnya yang menampilkan wayang kulit dalam penggalan kisah-kisah Mahabharata. Selanjutnya, aplikasi “Kaca Pintar Indonesia” menarik perhatian saya. Di sini, saya bisa mengetahui segala informasi tentang kuliner, seni, lokasi wisata dan objek budaya lainnya dia atas sebuah touch screen.

Yang menarik adalah aplikasi “Selaras Pakaian Adat” di mana pengunjung bisa berfoto dengan menggunakan baju adat daerah mana pun di Indonesia secara digital dan dapat langsung di upload ke social media. Lumayan kan buat narsis di facebook?

Bagi penggemar musik, silahkan menjajal aplikasi “Melodi Alunan Daerah”. Berbagai alat musik tradisional dihadirkan secara digital di sini. Saya bisa mencoba memainkannya langsung dan mendengarkan hasilnya. Area “Selasar Santai” adalah favorit saya. Di sini tersedia 10 tablet yang bisa kita gunakan gratis untuk mengakses informasi apa pun yang ada di galeri. Galeri ini juga menyediakan auditorium dengan kapasitas 150 penonton.

Beberapa pentas tari dan musik mengiringi acara pembukaan galeri ini. Pentaboyz, Teater Abnon, Sruti Respati dan Wayang Shuffle ikut meramaikan panggung yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi dengan para tokoh dan budayawan seperti Nano dan Ratna Riantiarno, Maudy Kusnaedi, Sruti Respati, Butet Kertaradjasa dan Renitasari Adrian (Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation).

“Di sini kita akan buka juga kelas-kelas seperti kelas membatik, tari atau workshop teater”, jelas Renitasari.

Keberadaanya yang memilih lokasi mall dinilai Renitasari sebagai strategi untuk menyasar anak-anak muda yang kini mulai lupa akar budayanya sendiri dan lebih gandrung meluangkan waktu ke mall dari pada ke gedung-gedung teater. Mungkin pemikiran ini juga yang menjadi inspirasi Sruti Respati. “Kejayaan masa lalu yang dibawa ke masa kini. Itulah kejayaan masa depan”, jelasnya.

Menurut Renitasari, galeri ini lebih diperuntukan bagi para seniman-seniman muda yang belum mendapat kesempatan untuk pementasan besar dan sekaligus sebagai ruang untuk unjuk kebolehan tentang ide-ide baru mereka. Dan tak tertutup juga untuk para seniman dan budayawan senior untuk bisa bertemu dengan para juniornya, media dan publik secara langsung untuk bisa saling diskusi dan berbagi ilmu.

Kita memang tak boleh menutup mata bahwa selama ini soal kesenian dan warisan budaya memang tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah. “Kesenian di Indonesia masih basa-basi. Cuma ban serep!” tegas Butet Kertaradjasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s