Mengenal Batik Lewat “Cerita Batik”

Sebetulnya saya tak terlalu tersentuh dengan euforia Hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober. Bukanya saya abai pada salah satu warisan budaya nasional ini, tapi memang saya tak pernah menyukai ajang “pamer” kagetan yang cuma riuh sehari saja.

Membaca buku Cerita Batik karya Iwet Ramadhan, saya justru seperti menemukan sebuah harapan baru soal pelestarian budaya batik Indonesia yang luar biasa kaya. Pria yang biasa dikenal sebagai penyiar radio dan presenter ini mengajak kita semua untuk peduli tak hanya pada batik, tapi juga pada sejarahnya.

Batik yang biasanya dianggap tampil “kuno” kini menjadi berbeda dalam kemasan buku setebal 141 halaman ini. Sampulnya bermotif kain polos abu-abu dengan tulisan judul dan nama penulis dalam desain tulisan dari canting (alat untuk membatik).

IMG_20131016_131403

Buku sederhana ini sebetulnya memuat materi yang tidak sederhana. Iwet Ramadhan secara rinci menerangkan apa itu sebetulnya Batik, bagaimana sejarahnya, jenisnya, dan segudang informasi lainnya yang perlu diketahui oleh kita yang hanya menjadikan batik sebagai seragam kerja hari Jumat.

Penyajian informasi dikemas menarik, fresh dan “modis”. Beberapa halaman ditampilkan berwarna dengan warna font yang berbeda pula. Bahkan di halaman 23, 25 dan 27 Iwet Ramadhan menyisipkan sepotong contoh kain batik yang berjenis Batik Tulis, Batik Cap dan Batik Print. Pembaca tak cuma melihat motifnya, tapi bisa meraba kainnya langsung. Di halaman lain terdapat juga ilustrasi yang menarik tentang bagaimana proses membatik dan bagaimana masa kecil Iwet Ramadhan saat pertama kali mengenal batik.

Generasi muda saat ini yang kian menjauh dari budaya warisan tradisi sepertinya tak perlu khawatir membaca buku ini. Tak ada kesan membosankan saat membaca isi buku ini. Iwet bahkan menambahkan opini yang sedikit menyentil kita perihal batik yang konon pernah diklaim negeri tetangga.

Buku ini tak tampil hitam putih seperti buku tentang warisan tradisi lainnya, tapi justru hadir pernuh warna. Pemilihan font juga tampak variatif sehingga menjauhkan rasa bosan pembaca. Sepertinya Iwet ingin memberikan nafas baru dalam objek warisan leluhur ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s