Teater Koma, IBU: Dilema Seorang Ibu Dalam Perang

photo by: Novani Nugrahani

photo by: Novani Nugrahani

Siapa yang suka peperangan? Kematian, kesakitan, kelaparan, nyawa tak lagi berharga, udara pun berbau bangkai dan mesiu. Tapi tidak untuk Ibu Brani. Sosok ibu yang yang menjalani kehidupan di masa peperangan dengan 3 orang anaknya. Menyambung hidup dari menarik keuntungan akibat peperangan dengan menjual barang bekas, Ibu Brani justru banyak diuntungkan dengan masa perang. Ia berkelana ke seantero negeri dengan gerobak tuanya yang menyimpan barang dagangan. Tapi keadaan segera berubah kala kedua puteranya, Elip dan Keju Swiss bergabung dengan tentara dan maju ke medan perang. Negeri mereka dikalahkan negeri lawan, Elip dan Keju Swiss tewas. Katrin, puteri semata wayang yang tuna wicara terluka wajahnya dan merasa bahwa tak ada gunanya lagi menanti masa damai.

Karya ke 131 dari Teater Koma ini digelar di Graha Bhakti Budaya, TIM, Jakarta tanggal 1 – 17 November 2013. Lakon yang disadur dari karya dramawan Jerman, Bertolt Brecht ini aslinya berjudulย Mutter Courage und ihre Kinder.ย Disadur kembali oleh Nano Riantiarno, lakon IBU tampil dengan penuh emosi saat media screening pada hari Kamis (31/10).

photo by: Image Dinamyc

photo by: Image Dynamics

Sari Prianggoro – Madjid memerankan Ibu Brani dengan apik. Sepanjang pertunjukan penonton disuguhi kekuatan karakter Ibu Brani yang tak gentar menghadapi tentara namun tak luput dari sosok manusia yang kadang lemah dan tak berdaya. Ibu Brani sukses mengusung sosok pebisnis yang melihat peluang di tengan masa sulit. Kadang ibu Brani tampil dingin dengan menyumpahi perdamaian yang menurutnya hanya akan membawa kebangkrutan bagi usahanya. Kadang sisi kemanusiaannya muncul, terutama saat menghadapi jenazah anak-anaknya yang dibantai penjajah. Dilema Ibu Brani yang tidak mau mengakui jenazah Keju Swiss demi keselamatannya, misalnya, sukses mengaduk emosi penonton.

Drama 2 babak ini juga didukung oleh pemain-pemain lain yang tampil maksimal.ย Rita Matu Mona, Dorias Pribadi, Alex Fatahillah dan Daisy Lantang juga tampil memukau. Efek ledakan dan adegan tembak menembak cukup mengagetkan penonton beberapa kali, namun menambah kuat atomsfir peperangan yang disuguhi lakon ini.

photo by: Image Dynamics

photo by: Image Dynamics

Lakon ini memang menampilkan peperangan dari beberapa pandangan. Bagi para petani, peperangan pastilah bencana. Bagi tentara. peperangan bisa menjadi kesempatan untuk jenjang karir. Bagi pendeta, perang berarti ia tak bebas berkotbah. Bagi seorang koki, perang artinya harus memasak daging yang sudah disimpan setahun dan penuh belatung. Bagi Ibu Brani, peperangan berarti mengeruk keuntungan. Dunia memang tak pernah sempurna. Selalu penuh dilema. Semua bisa dilihat dari sisi yang berbeda dan yang jelas pentas ini sangat menarik untuk disimak.

photo by: Novani Nugrahani

photo by: Novani Nugrahani

Iklan

4 responses to “Teater Koma, IBU: Dilema Seorang Ibu Dalam Perang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s