Splendor Angkor (part 1)

Published: getaway! magazine – Oktober 2013

Matahari barus saja terbit di kota Angkor, warga sudah memulai aktifitasnya. Ada pedagang, petani dan barisan para biksu yang akan beribadah. Puluhan perahu berlalu-lalang di sebuah danau yang mengelilingi sebuah candi keramat. Sebuah perahu kayu yang ditumpangi seorang wanita cantik turut membelah danau. Tujuannya adalah candi keramat, Angkor Wat. Itulah sebagian adegan dari film Tomb Raider (2001) dengan tokohnya Lara Croft yang dibintangi Angelina Jolie. Film laga produksi Hollywood ini mendulang sukses di dunia internasional.

Tak hanya sang produser dan awaknya yang tersenyum puas. Pemerintah Kamboja pun ikut merasakan kegembiraan yang sama. Pasalnya, salah satu lokasi pengambilan gambar di film ini adalah Angkor Wat. Situs bersejarah paling populer di Kamboja. Begitu pentingnya situs ini bagi bangsa Khmer, hingga sketsa Angkor Wat pun dicantumkan dalam bendera nasional Kamboja.

photo credit: crwflags.com

photo credit: crwflags.com

Meski saya memiliki tujuan yang sama dengan Croft, yaitu Angkor Wat, tapi saya tetaplah bukan Lara Croft. Saya tidak datang dengan mendayung perahu kayu di tengah aktifitas warga Angkor. Kegiatan sehari-hari Angkor tak lagi tampak seperti gambaran film Tomb Raider. Saya tak menemui biksu yang berbaris, perahu warga yang berlalu-lalang atau senyum warga yang menyambut ramah di teras rumah apungnya. Sejauh pandangan saya hanya menemui turis, turis dan turis. Warga lokal yang menyambut saya selalu dibarengi dengan tawaran membeli suvenir atau buku panduan wisata kota Siem Reap.

Angkor memang telah berubah. Lebih seabad lalu, Angkor adalah sebuah kekuatan yang disegani di Asia Tenggara. Kini, ia lebih sering dikenal melalui brosur wisata atau sharing perjalanan antar komunitas backpacker. Bangunan – bangunan batu yang megah kini sebagian hanya berupa puing tak berbentuk. Sebagian lagi ditutupi kain terpal karena sedang masa renovasi.

Saya memulai perjalanan saya dari kota Bangkok, Thailand.

Saya tak pernah bosan dengan Bangkok. Selain selalu memanjakan saya dengan aneka kuliner yang berlimpah dan murah meriah, Bangkok juga memiliki sisi romantis. Saya menghampiri Asiatique Riverfront. Sebuah kawasan belanja, hiburan dan kuliner yang terletak di pinggir Sungai Chao Praya dan kini menjadi incaran baru para turis.

Dengan bermodal 300 Baht, saya sudah memborong beberapa dompet, gantungan kunci, kaos dan mencicipi sebatok kelapa muda. Untuk yang terakhir ini saya punya cara khusus untuk menikmatinya. Tentu dengan beristirahat sejenak di pinggir Sungai Chao Praya yang legendaris itu dan diterangi cahaya dari kios-kios dan restoran. Kapal-kapal motor yang menyusuri sungai bisa juga menjadi bumbu dalam menyampaikan puisi cinta di sini.

Perjalanan ke Siem Reap saya lalui menggunakan jalur darat esok hari.

Diperlukan waktu sekitar empat jam untuk mencapai Aranyaprathet, kota perbatasan yang menjadi titik terluar Thailand sebelum memasuki kawasan Kerajaan Kamboja. Sebelumnya, saya berhenti makan siang dulu di sebuah kafe dekat perbatasan. Di tengah sengatan matahari yang cukup terik, kafe ini menjadi seperti oasis buat saya yang haus dan kelaparan. Namanya Tournesol Café dan merupakan bagian dari Tournesol Hotel. Saya beruntung, hotel ini baru 2 bulan diresmikan dan masih terlihat kinclong. Seporsi Tomyam dan ayam goreng menjadi hidangan saya siang itu. Dan tentu saja diakhiri dengan segelas Thai Tea. Di negeri Gajah Putih ini, menikmati segelas Thai Tea dingin adalah ritual sakral buat saya!

???????????????????????????????

Saya melanjutkan perjalanan ke perbatasan. Di sini, saya harus mengurus beberapa dokumen dan ikut dalam antrean panjang para pelancong yang hendak melintas ke Siem Reap. Lulus dari petugas imigrasi Thailand, saya harus berjalan kaki lagi melintasi sebuah jembatan yang menjadi garis batas kedua negara.

Lima menit yang lalu saya masih berada di Thailand dan kini memasuki gerbang Kerajaan Kamboja.

Betul! Kamboja adalah Negara monarki yang artinya bahwa negeri ini dipimpin oleh seorang raja. Dan sang pemegang tampuk kekuasaan itu kini adalah Raja Norodom Sihamoni. Putera tertua dari mendiang Raja Norodom Sihanouk. Untuk pemerintahan, Kamboja dipimpin oleh Perdana Menteri yang kini dijabat oleh Hun Sen.

Sebuah mobil van putih telah siap menjemput. Ini mobil yang disediakan untuk saya sebagai tamu dari Tourism Authority of Thailand. Dua pemandu lokal menyambut dan mengurus paspor saya. Label tamu VIP rupanya cukup ampuh untuk menembus antrian imigrasi Kamboja. Saya bisa melihat antrian panjang para turis asing yang mulai keringetan di ruangan tanpa AC sementara saya duduk nyaman di mobil menunggu paspor yang sekejap langsung diberikan pada saya lengkap dengan stempel “selamat datang” di Kamboja.

Tapi di luar pos imigrasi, label VIP saya ternyata tak berlaku lagi. Seorang petugas berseragam polisi mencegat mobil van yang saya naiki. Pemandu saya diminta turun dan ikut ke pos kecil tak jauh dari pinggir jalan. Di situ, segerombolan pria berseragam dan tak berseragam mengerubuti pemandu saya. Wajahnya mulai pucat dan cemberut. Maklum, pemandu saya adalah seorang wanita muda yang berparas manis. Kini ia berdiri sendirian di “sarang penyamun” imigrasi Kamboja tanpa daya. Entah apa yang dibicarakan, pemandu saya kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang Dollar AS. Dan… simsalabim! Semuanya selesai! Pungli di sini ternyata tak mempan dengan hadrinya mobil van berlabel VIP yang berisi tamu dari Kerajaan Thailand.

Iklan

3 responses to “Splendor Angkor (part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s