Splendor Angkor (part 2)

Poipet adalah nama kota kecil di perbatasan Kamboja yang langsung saya masuki selepas dari pos imigrasi.

Salah satu ciri kota ini  adalah banyaknya hotel dan kasino dengan desain bangunan yang mirip satu sama lainnya.   Pemerintah setempat menyeragamkan hampir semua bentuk bangunan terutama untuk hotel (di sini sering disebut resort).

photo credit: dpmac.com

Jangan bermimpi melihat hotel dengan bentuk desain modern di sini. Hampir semua bangunan terutama hotel bentuknya adalah bangunan klasik perpaduan Cina dan Eropa. Tak ada juga bangunan menjulang tinggi seperti di negara lain yang berlomba-lomba membangun menara untuk simbol lanskap kota. Poipet adalah kota kecil yang cukup tenang dengan ruas jalannya yang lebar namun jarang dilalui mobil. Sekitar perbatasan, cukup banyak kaum pria yang menarik gerobak besar. Ternyata mereka adalah para porter, sang pembawa barang-barang yang siap melayani para pelancong yang kerepotan dengan barang bawaannya.

Membutuhkan waktu lebih dari dua jam untuk mencapai Siem Reap. Menurut pemandu saya, sebetulnya jarak Poipet dan Siem Reap tak terlalu jauh, namun peraturan speed limit memaksa mobil yang saya tumpangi tak bisa seenaknya tancap gas. Peraturan setempat mewajibkan batas kecepatan tercepat kendaraan adalah 60 km/jam. Jadi sesepi apa pun jalanan, supir harus tetap menjaga nafsu untuk ngebut. Pengendalian emosi ternyata mutlak diperlukan untuk menyetir di sini.

Memasuki kawasan Angkor Wat, puluhan mobil dan bus yang mengangkut wisatawan sudah terlihat padat. Saya harus membayar tiket USD 20 untuk bisa menikmati kejayaan Angkor ini dalam waktu seharian. Ada beberapa jenis tiket yang dijual berdasarkan waktu berkunjung. Untuk turis harian seperti saya, tarifnya USD 20. Untuk kunjungan 3 hari tarifnya USD 40, dan untuk kunjungan satu minggu, tarifnya USD 60.

Angkor Wat dibangun berdasarkan kepercayaan agama Hindu yang waktu itu menjadi sentral kepercayaan di Kerajaan Angkor. Dibangun dalam waktu 30 tahun, Angkor Wat adalah sebuah kuil utama Kerajaan Angkor yang lokasinya sangat luas. Untuk menjelajahinya, saya harus menggunakan mobil beberapa kali selain berjalan kaki.

Raja Suryavarman II adalah penggagas dibangunnya kemegahan Angkor Wat di abad 12. Di abad 13, Angkor Wat dialihkan menjadi sentral keagamaan Buddha saat agama itu mulai menggantikan kekuasaan agama Hindu. Memasuki Angkor Wat seperti dipenuhi oleh berbagai filosofi kehidupan di segala penjurunya. Puluhan patung berjejer menyambut saya di gerbang Angkor Thom. Deretan relief menghiasi tembok batu yang dingin. Sederet kisah dan sejarah tertoreh di sana.

Angkor Thom adalah ibukota Kerajaan Jayawarman VII di era Khmer kuno. Sekarang, Angkor Thom adalah semacam gerbang sebelum memasuki pusat kuil Angkor Wat. Meski dipenuhi turis dan besi penyanggah untuk renovasi, tapi  keagungan bangunan ini masih terasa. Menggunakan mobil, saya menuju ke Candi Bayon. Agak jauh jika berjalan kaki menuju ke sini. Maklum saja, ini kompleks reruntuhan kota tua, bukan sekedar situs candi. Jadi jarak menuju ke situs lainnya cukup jauh dan tak mungkin berjalan kaki.

Candi Bayon memiliki bentuk yang khas yaitu banyaknya ukiran berupa wajah yang berukuran sangat besar. Sayangnya hingga kini tak ada yang bisa memastikan wajah siapa yang terukir di bangunan-bangunan ini. Spekulasi mengatakan bahwa itu adalah wajah para raja yang pernah memerintah Angkor.

Pemandu mengajak saya untuk menyusuri dinding-dinding Bayon. Relief memenuhi semua bagian dinding ini. Satu per satu penggalan kisah itu mulai diceritakan oleh pemandu saya. Mulai dari pertempuran dengan bangsa Champa dan Siam hingga kehidupan sehari-hari warga Angkor. Semuanya tersaji lengkap di salah satu sisi dinding Candi Bayon. Menurut pemandu, dibutuhkan ribuan seniman untuk bisa mengukir kisah di tembok ini. Dan Angkor Wat sendiri membutuhkan empat ribu ekor gajah untuk membangunnya.

Cuaca panas semakin menyergap saya di Bayon. Padahal candi ini seolah tak ada habisnya untuk dijelajahi. Bertualang di Angkor Wat memang butuh stamina tinggi. Saya kembali melanjutkan perjalanan dengan mobil menuju Candi Ta Phrom. Warga lokal juga mengenalnya dengan Candi Tomb Raider. Mengacu pada film Tomb Raider yang pernah syuting di lokasi ini pada tahun 2001.

Menjangkaunya, saya harus berjalan kaki lima belas menit melalui jalan tanah yang dipagari hutan. Cukup sejuk, namun hari itu cuaca pengap tak bisa saya hindari. Saran untuk selalu membawa botol air dan memakai topi  selama menjelajah Angkor Wat memang tak boleh dianggap remeh.

Berbeda dengan Bayon, Ta Phrom seperti sebuah candi yang tersembunyi di tengah belantara. Wajar saja Lara Croft cocok untuk beraksi di sini. Tempat ini menyimpan aura petualangan dan misteri yang begitu kuat. Pohon-pohon besar mengitari Ta Phrom seperti ingin menyembunyikan bangunan yang masuk dalam Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1992 itu.

Pohon-pohon liar tak cuma tumbuh di sekitar bangunan tapi juga di dalam dan menembus dinding batu yang kokoh. Dari sekian banyak situs yang ada di kompleks Angkor Wat, Ta Phrom memang termasuk yang paling ramai dikunjungi turis. Apa lagi jika bukan karena akar-akar pohon yang tumbuh liar menyeruduk tembok-tembok kokoh buatan bangsa Khmer ini. Mungkin inilah yang menjadikan Angkor Wat pernah masuk dalam nominasi 7 Keajaiban Dunia.

Sayangnya, sistem voting online secara bebas justru merugikan bangsa Kamboja. Tak adanya penilaian khusus dari panitia dan hanya lomba banyak-banyakan voting membuat Angkor Wat langsung tersingkir dari persaingan yang tak adil ini.

Penduduk Kamboja yang sedikit dan belum semuanya memiliki internet membuatnya kalah saing dengan kandidat lain yang memiliki jumlah warga negara yang jauh lebih besar dan melek internet. Kontes-kontesan Keajaiban Dunia ini memang “ajaib”.

Saya melanjutkan perjalanan ke kuil utama Angkor Wat. Cukup jauh juga letaknya. Dibandingkan dengan kuil-kuil sebelumnya, Angkor Wat terlihat jauh lebih luas. Inilah kuil utama yang juga dijadikan simbol pada bendera Kerajaan Kamboja. Dibanding kuil yang lain, Angkor Wat terlihat jauh lebih besar, luas dan terawat.

Angkor Wat dikelilingi oleh sebuah sungai. Untuk mencapai kuil, saya menggunakan jembatan yang cukup lebar. Bangunannya juga sangat luas. Tak cukup satu hari tampaknya untuk menjelajahinya. Bagian paling menarik adalah menggapai puncak menara yang letaknya di tengah kuil. Meski sudah dibuatkan tangga khusus untuk menaikinya, tetap saja saya kewalahan menggapainya. Tangga asli untuk menaikinya memang tak layak digunakan untuk turis. Menaikinya lebih mirip panjat tebing daripada naik tangga. Tapi segala jerih payah itu akhirnya terbayar di puncak menara. Konon, dulu para penjaga kerajaan juga menggunakan menara ini untuk mengawasi keadaan sekitar. Buat saya, tempat ini lebih cocok untuk foto-foto, menyepi atau sekedar menarik nafas karena kelelahan menaikki tangga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s